MUI, Rek

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Baru-baru ini MUI Jatim keluarkan 'himbauan- fatwa'. Di-amini oleh MUI Pusat, minimal oleh salah seorang dari mereka.

Himbauan untuk para pejabat. Agar tidak ucapkan salam 'campur2an'. Cukup satu 'model' saja. Islam ya Islam saja. Kristen pakai kristen2-an. Hindu ya pakai Hindu2-an. Budha, Khong Hu Cu, sama juga . . .

Karena salam itu adalah doa. Dan doa bernilai ibadah. Kita ndak boleh ikuti ibadah 'orang lain', orang lain juga tak boleh ikuti ibadah kita . . .

Muhammad saw diiringi oleh sekitar 1.400 Muslim, hari itu berangkat menuju kota Mekah. Di bawa juga sekitar 70 ekor onta sebagai 'hadyu'. Hewan sembelihan pelengkap ibadah haji. Rombongan itu memang berniat tunaikan ibadah haji dan umroh.

Oleh Rasul tidak boleh membawa senjata, kecuali peralatan untuk menyembelih hewan. Berpakaian 'ihram' saja. Agar kaum Quraish, yang saat itu 'menguasai' Kakbah dan Mekkah, tidak berprasangka buruk.

Tak banyak guna ternyata. Kaum Quraish menolak kedatangan kafilah itu. Segera siap-kan pasukan. Bersumpah tidak akan biarkan Muhammad memasuki kota. Mereka berangkat menghadang.

Untuk hindari kekerasan dan serangan frontal, Rasul perintahkan ubah rute agak memutar. Rute yang banyak lewati tebing tinggi dan terjal. Perjalanan kafilah pun makin tak mudah.

Akhirnya kafilah berhenti di Hudaibiyah, sebuah dusun kecil 22 kilometer dari kota Mekah. Dan entah mengapa kaum Quraish batal menyerbu. Mungkin dikira kaum Muslim telah tahu dan bersiap.

Setelah terjadi beberapa insiden kecil, akhirnya kedua belah pihak, kaum Muslim dan Quraish, sepakat damai dan berembug. Bikin perjanjian. Kelak terkenal dengan sebutan Perjanjian Hudaibiyah. Shulhul Hudaibiyah . . .

Qurais diwakili Suhail bin Amr, sedang Rasul Muhammad memimpin sendiri. Ada Ali bin Abi Thalib mendampingi, sebagai juru tulis. Nabi sendiri dipercaya seorang yang 'buta huruf'.

Nabi perintahkan Ali untuk menulis pembuka perjanjian. 'Bismillahirrahmanirrahim', dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

"Apa itu Arrahman-Arrahim, aku tak kenal Dia. Tulis saja seperti biasa, Bismika allahumma," Suhail menyergah.

Kontan riuh rendah oleh suara protes kaum Muslim yang hadir. Nabi menenangkan, lalu dengan tegas sekali lagi perintahkan Ali.

"Tulis saja Bismika allahumma," Meski agak gondhog, Ali tak berani membantah sepupu sekaligus Imam dan Nabi-nya. Ditulislah oleh Ali sesuai kehendak Suhail bin Amr

Kemudian Nabi menyambung, tulislah, 'hadza ma qadha 'alaih, Muhammad Rasullullah'. Ali pun segera tuliskan. Inilah ketetapan Muhammad Rasullullah. Muhammad Utusan Allah.

Suhail sejenak tertegun. Namun tak lama kemudian ia berkata keras lagi. Protes.

"Hai Muhammad, jika engkau utusan Allah, tak hendak kami halangi engkau menuju kakbah. Tulis Muhammad bin Abdullah. Muhammad putra Abdullah. Itu cukup."

Berbantah sejenak, namun kemudian Rasul pun perintah kan Ali untuk menghapus kata 'Rasulullah'. Kali ini Ali menolak. Dengan tegas.

"Wallahi ! Demi Allah ! Saya tak akan menghapusnya !" Bagaimana mungkin saya menghapus kata itu. Sama saja artinya, saya tak mengakui 'ke-Rasul-an' Muhammad. Ali ber-logika seperti itu. Mungkin . . .

Nabi tercenung sejenak lalu berkata, "Tunjukkan padaku mana tulisan itu," Kemudian Muhammad menghapus tulisan itu dengan tangannya sendiri . . .

Dan kita semua tahu dan paham, potongan 'kata' itu, 'Rasulullah', bagian dari Dua Kalimat Syahadat. Sumpah janji Pertama dan Utama seorang Muslim. Rukun Islam yang Pertama. Itu bukan potongan kata 'biasa' . . .

Bisa tidak kita tarik 'benang merah' antara Nabi menghapus kata 'Rasulullah', kata 'Arrahman-Arrahim', plus 'isi utuh'' perjanjian Hudaibiyah, dengan 'himbauan' MUI ?

Kebijaksanaan. Kecerdasan. Peri-kemanusiaan. Toleransi. Atau hanya sekedar strategi ?

Bukan bermaksud mengecilkan 'fatwa' MUI. Jika ingin 'berperan' dalam kehidupan politik dan beragama negeri, apakah tak bisa MUI keluarkan 'fatwa himbauan' yang lebih sedikit 'produktif' dan punya makna ?

Israel sudah sampai ke bulan. Amerika sudah bisa pantau Jupiter. Sebentar lagi Kecerdasan Buatan atau robot merangsek dunia. China mulai otak-atik 6G, bukan 5G lho. Kok kita orang masih sibuk otak-atik G2, si Geulis Geboy . . .

Lagi pula sangkut paut kan salam pembuka dengan 'konotasi' atau 'konteks' ibadah agak bikin bingung juga.

Nabi bersabda, "Tersenyumlah saat bertemu dengan saudara kalian. Karena senyum itu ibadah" (HR Imam Tarmidzi, Ibn Hibban, dan Al Baihaqi)

Jadi senyum juga bermakna ibadah. Itu menurut Rasul . . .

Lha mosok kalau ketemu orang tanya dulu, agama mu apa ? Islam. Lalu mèsêm. Senyum. Tanya lagi, agama mu apa ? Kristen. Lalu 'mêthuthut' atau 'nyaprut'. Monyong . . .

Karena senyum itu ibadah, ndak boleh memberi atau bahkan kita pun ndak boleh sembarangan nerima dan balas senyuman kepada orang yang 'belum jelas' . . .

Sepertinya akan ada muncul rambu baru lagi. Gambar orang tersenyum depannya ditambah gambar 'tanda-tanya'. Di trotoar, pintu masuk kantor, pintu masuk mall, tempat parkir, . . .

Kalau mau lempar senyum tanya dulu ya. Dilarang senyum sembarangan. Itu artinya.

Selamat Hari 'Nyaprut' Nasional . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Tuesday, November 12, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: