MUI Nilai Nakes Pria Mandikan Jenazah Covid Wanita, Langgar Syariat,

ilustrasi
Oleh : Yetti Agustien
Akhirnya 4 tenaga nakes pria yang memandikan jenazah wanita korban covid dikenakan pasal penistaan agama dengan ancaman 5 tahun penjara atas desakan ketua MUI Siantar, M. Ali Lubis.
Fiqh ketua MUI serasa kurang gaul. Diktum fiqh adalah lebih baik membebaskan orang bersalah dibanding menangkap orang yang tidak bersalah.
Secara fiqh, memandikan jenazah bukan muhrim itu kurang pas, tetapi akan lebih bermasalah bila kasusnya berbuntut pelaporan ke kepolisian.
Sebenarnya pihak rumah sakit sudah memberikan kesempatan pada suami almarhumah agar memanggil sanak keluarganya untuk memandikan jenazah. Tetapi mereka ogah.
Sampeyan mikir zaman medsos gini 2 jam itu lama lho ya. Tinggal kirim ke medsos pasti direspon.
Lha itu, karena ogah akhirnya, untuk jaga-jaga pihak rumah sakit meminta tanda tangan persetujuan kebetulan ada salah satu nakesnya yang memegang izin memandikan jenazah dari MUI.
Tetapi setelah selesai, si Suami tidak terima dan lapor ke MUI. Suaminya masih bocil kali ya. MUI ngegas ke kepolisian.
Bukannya mendapat ucapan terima kasih, thank you, arigatou tetapi nakes pemandi jenazah malah dipolisikan.
Semoga saja nakesnya hanya dihukum tahanan kota. Lagian jaman covid sebaiknya gak usah ke mana-mana.
Di sini perlunya MUI memahami aspek sosial kalau fiqh juga berkembang mengikuti kondisi zaman. Ingat kalau sok ngeslan, sementara ahlaq warganya seperti bocil suami almarhumah, maka apa kata dunia?
Sumber : Status Facebook Yetti Agustien
Thursday, February 25, 2021 - 09:00
Kategori Rubrik: