MUI & FPI

ilustrasi
Oleh : Prasetyo BoediFrast
MUI berdasarkan AD/ART tidak boleh punya Anggota selain Pengurus & pegawai administrasi kantor MUI makanya sejak awal berdirinya sebetulnya MUI adalah cuma tukang stempel & penguat legitimasi yg biasa di beli oleh Pemerintah terutama di jaman ordebaru.
 
Beberapa Kali di pakai oleh rejim Orba untuk menghantam Ormas Islam lain (terutama NU & Gusdur) misal utk menghantam posisi habaib saat NU & Gusdur membangun jaringan dlm organisasi NU ( itu dulu intens di lakukan oleh KH Hasan Basri ) -- Juga yg sangat sistematis adalah jadi jalur Wahabi masuk ke +62 menyerang NU dg Tahayul, Bidah & churafat merebut masjid2 NU di basis masa NU - itu memakai beberapa siyasah misal infiltrasi ke MD yg sukses besar. Juga saat Pak Harto & Prabowo berkonflik dg LB Moerdani -- MUI di pakai utk alat produksi isyu SARA utk menyerang pejabat Kristen.
Juga menyerang CSIS. Ada banyak peristiwa yg melibatkan MUI di banyak kasus Intoleransi misal yg melibatkan FPI adalah fatwa Ahmadiyah yg kemudian sampai terjadi kekerasan --- Juga kejadian fatwa penistaan Agama Ahok itu pun MUI menggunakan FPI sebagai pasukan demo utk menekan Pemerintah -- oh ya pasca LB Moerdani masuk kotak byk petinggi non Muslim yg tersingkir ( bisa di lihat di dikotomi ABRI Hijau vs ABRI merah) -- yg bahkan sampai2 Ada beberapa petinggi militer utk tetap di jalur kekuasaan sampe rame2 mualaf.
 
Dulu era Orba -- MUI di back up rezim -- tapi setelah reformasi MUI di pakai bekas rezim yg karena tak bisa back up fisik dg senjata -- makanya kemudian di bentuklah para militer sebagai proxy faksi2 militer -- itulah kenapa kemudian lahir ormas FPI yang kemudian byk di pakai oleh elit politik utk menghantam lawan politik ( misal utk hantam Gusdur, Mega & Juga Jokowi memakai isyu SARA lewat hoax media & Demo2 )-- di kasus cakapolri katholik MUI sudah keluar pernyataan ...
 
next tanpa FPI kira2 dg pakai kekuatan apa MUI saat menekan presiden Jokowi? Kita tunggu aja -oh ya menag pun udah kena gesek soal Ahmadiyah
Sumber : Status Facebook Prasetyo BoediFrast
Sunday, January 17, 2021 - 12:15
Kategori Rubrik: