Muhrim dan Orang Samaria

Oleh : Sahat Siagian

Perumpamaan ini sebetulnya tak layak dibincang di Indonesia. Who is Samaritan among us?

Ada 240an agama terdaftar di Depag, ada 700an bahasa terdaftar di Lembaga Pembinaan Bahasa. Maka siapa Judea, siapa Samaria?

Oke. Mari kita lihat dari sisi jumlah populasi: Jawa adalah Judea, yang lainnya Samaria. Perumpamaan Yesus, kalaupun harus diajarkan, hanya cocok dengan membayangkan Jawa sebagai Judea. To make it simple: perumpamaan ini pas dan apik dibacakan dari mimbar Gereja Kristen Jawa.

Tapi mendadak beberapa kejadian belakangan ini bikin kita ingat lelaki Samaria yang baik hati. Sebagian rakyat Indonesia menolak kehadiran orang baik namun asing. "Kamu bukan muhrim," kata mereka. Njirrr.

Tak cuma asing, orang Samaria sebetulnya adalah musuh, sebetulnya adalah orang yang selama ini kita sakiti dan rendahkan. Sudah pasti ia bukan muhrim. Sudah pasti ia menyimpan dendam. Sudah pasti ia manusia laknat.

Lelaki Samaria berdiri di simpang jalan, menolongmu dari kesulitan tanpa tahu siapa kamu, hadir dalam hidupmu cuma bermodalkan satu kesamaan: "kita manusia". Ia merawat saudagar Yahudi yang dirampok di tengah jalan dan hampir mati. Ia tahu saudagar Yahudi ini musuhnya, bagian dari masyarakat yang selama ini merendahkannya. Dan ia tak mengenalnya secara pribadi. Tak ada satu alasan pun untuk menolongnya. Tapi keajaiban hati melebih semua rentang perbedaan.

Apa sebetulnya konsep "muhrim"?

Muhrim adalah mereka yang sedang melakukan ihram dalam ibadah haji. Trus apa hubungannya dengan laku sekular? Gak tahu. Ada sebarisan orang tolol, bermodalkan ingatan sesaat dari ajaran ustadz goblok, berlaku blo'on menghalangi orang lain menolongnya dengan alasan bukan muhrim. Kamu sedang menjalankan ibadah haji?

Mungkin yang ia maksud adalah mahram. Ini memang ketentuan dalam Islam yang mengatur dengan siapa kamu boleh menikah dan dengan siapa itu pantang dilakukan. Yang boleh menyentuhmu adalah ia yang mahram-mu: Ibu, anak peermpuan, adik perempuan, pokoknya semua yang sedarah dan sesusu. Di luar itu tidak. Tapi kamu tak boleh menikah dengan mereka.

Ini repot. Dunia tak sesederhana abad ke-6. Hidup kita sudah jauh lebih kompleks dari itu. Pada masa itu cuma sedikit, kalau tak boleh bilang "tak ada", perempuan yang berkegiatan. Perjumpaan seorang lelaki dengan perempuan yang bukan mahramnya berkemungkinan kecil. Perempuan tak bekerja di ruang publik.

Sekarang? Gak cuma 40% dari perempuan telah mengisi berbagai posisi dan profesi, mereka juga mau tak mau bersinggungan dengan lelaki yang bukan mahram: di pasar, di loket pembayaran, di bus kota, di banyak tempat lain. Lebih seru lagi, para perempuan dengan fantasinya bebas menggerayang tubuh lelaki manapun.

Ruang-ruang tak terhalang. Sebuah klik pada gadget mengantarmu ke kamar tidur seorang lelaki. Di kanal itu kamu bisa berlaku apa saja termasuk menggesek-gesekkan bagian tubuh paling privat ke kaki meja atau siku kursi.

Non-mahram masuk ke fantasimu dalam cara yang tak terbayangkan di abad ke-6. Dan kamu masih sibuk menolak lelaki samaritan menolongmu, membiarkan kesialan berlama-lama mempermalukan kamu?

Lelaki Samaria..., atau Perempuan Samaria, hadir untukmu, melengkapi hidupmu yang tak selalu apik. Ia disediakan jagad raya bagimu, bagian dari things outside the system yang memeliharamu.

Terimalah. Mereka adalah kemurahan Allah untukmu.

Sumber : Facebook Sahat Siagian

Tuesday, March 13, 2018 - 15:00
Kategori Rubrik: