Muhammadiyah

ilustrasi

Oleh : Suratno Muchoeri

"Koepercayakan pembinaan kader2 moeda persjarikatan kepada Pondok Pesantren Assyifa Moehammadijah Bantoel Djogdjakarta, sebagai pesantren jang paling berkarakter Moehammadijah"

Met ultah yang ke 108 untuk Persyarikatan Muhammadiyah. Semoga tetap menjadi salah satu pilar penjaga Pancasila, Bhineka, NKRI, dan UUD 1945 serta membawa masyarakat makin maju sesuai visi Islam berkemajuan.

Foto kenangan tahun 2015 waktu riset etnografis ttg Religious-Sites and Social Harmony in Indonesia. Salah satu areanya adalah Ganjuran, Yogyakarta dimana disitu ada Pesantren Assyifa Muhammadiyah yang lokasinya tidak jauh dari (tepatnya di belakang kompleks) Gereja Ganjuran, serta religiius sites lainnya tapi masyarakatnya hidup damai dan penuh persaudaraan.

Di pesantren Assyifa saya wawancara dengan Ustadz Budi Nurastowo pengasuhnya dan beberapa santri. Lokasi pesantren sangat dekat dgn Kompleks Gereja & Candi Ganjuran (sekitar 200 meter-an). Punya MTS & MA Muhammadiyah, juga ada SD-nya. Semua lokasinya tak jauh dan berdampingan dengan SD Kanisius, SMA Stella Duce yang masih ada “hubungan” dengan Gereja Ganjuran. Gedung2 itu seakan menjadi potret-simbolik kerukunan umat beragama disana.

Ustadz Budi yang alumni UMS menjelaskan sejarah berdririnya Pesantren sejak 1996-an. Juga konsernnya dengan pendidikan & dakwah-kultural serta implementasi fastabiqul khoirot (berlomba2 dalam kebaikan) dengan komunitas2 masyarakat yang lain termasuk dengan komunitas Gereja. Secara umum, sikonnya dari waktu ke waktu terus harmonis. Hal itu bisa dijaga karena dialog dan komunikasi antar pihak terjalin dengan baik, terlebih klo ada masalah.

Ustadz Budi juga punya persepktif sosio-kultural serta membaur dengan masyarakat Ganjuran, baik yang Muslim maupun non-Muslim. Kerukunan beragama terasa dalam kehidupan sehari2. Klo Pesantren mengadakan pengajian, rumah2 didepannya yang dipagar ada lambang Salib-nya (karena yang punya memang orang2 Katholik), mereka tanpa keberatan menyediakan halaman2nya untuk tempat parkir. Juga santri2 biasa bekerja-bakti mmbersihkan lingkungan sekitar pesantren, termasuk rumah2nya orang Katholik itu.

Tentu saja kadang2 ada friksi juga. Tapi umumnya bukan karena soal beda agama, melainkan trkait masalah sosial, ekonomi, politik dll. Biasanya, pihak pemerintah desa dan kecamatan selalu memediasi sehingga ketegangan yang muncul tidak berubah menjadi konflik. Salute utk Ustadz Budi & pesantrennya. Saya kira benar2 mengimplementasikan “karakter Moehammadijah” sesuai slogan dibaliho hehe.

Intinya religious sites yg ada baik pesantren Muhammadiyah , gereja Ganjuran dan situs2 lain yang berdekatan itu semua merefleksikan rasa saling menghormati dan menghargai diantara warganya. Rumah2 warga disekitar pesantren sering dijadiin tempat parkir klo pesamtren punya hajatan. Santri2 juga bisa kerja bakti bersihkan lingkungan sekitar meski rumah non-Muslim. Gereja ganjuran waktu bencana juga jadi tempat mengungsi sementara warga sekitar situ yang Muslim. Semua rukun dan tidak saling curiga. Banyak lagi potret2 kerukunan lainnya disitu.

Mantab dan salute untuk Muhammadiyah. Sekali lagi met ultah, insyaAlloh makin manfangat dan berkah.

Danke und salam persaudaran: Suratno, nahdliyin.

Sumber : Status Facebook Suratno Muchoeri

Friday, November 20, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: