Muhammad SAW Sang Berlian Kehidupan

Oleh: Helmi Hidayat
 

Ketika Ali bin Abi Thalib hendak menebas kepala seorang musyrik yang kalah bertarung, tiba-tiba ia melepaskan lelaki itu dari genggamannya justru setelah si musyrik meludahi wajah Ali. Ia khawatir salah niat, jangan-jangan ia membunuh lelaki itu bukan demi membela Islam tapi justru karena dendam. Nabi SAW senang mendengar cerita Ali.

Ketika Umar bin Khattab hendak membunuh seorang musyrik yang kalah bertarung, ia tak segan menebas leher lelaki itu setelah si musyrik mengucapkan dua kalimat syahadat. Nabi SAW justru murung mendengar cerita Umar. Saat Nabi bertanya mengapa Umar tetap membunuhnya padahal lelaki itu telah menyerah dengan bersyahadat, Umar menjawab bahwa syahadat yang dibaca si musyrik hanya pura-pura, hatinya munafik. Dia membaca syahadat karena terdesak, kata Umar. Nabi kemudian melarang Umar membaca hati orang dan memintanya hanya berpegang pada apa yang tampak.

Apakah dengan membaca dua kisah ini kita tengah melihat cermin raksasa penuh gambaran akhlak mulia? Ya, setiapkali merayakan maulud Nabi SAW, setiap Muslim sesungguhnya tengah melihat cermin raksasa itu yang darinya terpancar sejuta akhlak terpuji. Muhammad tak ubahnya bejana besar penuh intan berlian, yang dari setiap berlian itu terungkap berjuta kisah teladan.

Ambillah satu berlian itu ...

Di situ termaktub kisah tentang seorang Yahudi buta yang setiap hari memaki-maki Rasulullah SAW di pasar. Tapi, bukannya menyeret Yahudi ini ke pengadilan, Nabi setiap hari justru menyuapi Yahudi itu makanan dengan tangannya sendiri. Ketika Nabi wafat lalu orang lain menggantikan Rasulullah menyuapi Yahudi ini, lelaki itu heran. Ia merasa energi kelembutan yang mengalir dari tangan baru ini berbeda dengan energi tulus yang selama ini mengalir lewat mulutnya. Saat diberitahu bahwa tangan yang setiap hari menghampirinya dengan lembut itu adalah milik Rasululah Muhammad yang setiap hari ia maki-maki, tubuh si Yahudi gemetar. Ia seperti disambar petir.

Ambillah satu berlian lain ...

Di situ tertera kisah ttg Nabi yg akan mengambil keputusan thd 73 tawanan perang Badar. Jika dibiarkan hidup, mereka adalah musuh Islam yang sangat keji. Tapi jika dibunuh, mereka juga berhak mencium bau surga seandainya diajak bertobat lalu masuk Islam. Abu Bakar menyarankan para tawanan itu dimaafkan saja, tapi Umar mendesak agar mereka dipenggal. Selanjutnya adalah kisah yang sungguh memesona. Nabi tiba-tiba berpihak pada Abu Bakar. Ia memaafkan semua tawanan Badar yang selama ini justru gencar menistakan dirinya -- meski ternyata kemudian mereka akhirnya berkhianat.

Ambillah lagi satu berlian ...

Di sana terpampang cerita di tahun 8 hijriah, seorang sahabat marah-marah melihat sekelompok pendeta Nashrani dari Najran salat di Masjid Nabawi. Nabi lalu memanggil sahabat itu dan ketua rombongan. Usai dengan seksama mendengarkan penjelasan sang pendeta -- bahwa mereka hanya ingin salat di masjid suci itu sebelum bertemu Muhammad -- Rasulullah kemudian mempersilakan semua pengikut Nashrani itu salat di masjid nabawi. Sungguh, betapa nabi ini tengah mempertontonkan akhlak yang mulia kepada para tamunya kendati mereka berbeda agama.

Butuh berlian lain? Ambillah ...

Di situ pasti ada cerita Jibril yang sangat marah. Malaikat ini akan mengangkat gunung untuk dihantamkan kepada penduduk Thaif yang melempari Nabi dengan batu saat Nabi mendakwahi mereka masuk Islam, tapi Nabi justru melarang Jibril. ''Mereka umatku ... mereka umatku ... Mereka hanya tak tahu siapa aku.''

Subhaanallah ...

Di hari maulud Nabi yang bertabur salam dan salawat atas sang utusan Tuhan, bejana penuh intan berlian ini aku serahkan. Tuang dan ambillah berlian itu satu per satu, lalu berkacalah. Adakah apa yang sudah kita lakukan selama ini sesuai akhlak Nabi? Atau jangan-jangan itu kita lakukan karena riya, ikut-ikutan, atau lebih parah lagi karena sikap permusuhan yang berlebihan ...

Berjuta shalawat dan salam untukmu yaa Rasulallah ..

 

(Sumber: Status Facebook Helmi Hidayat)

Thursday, December 15, 2016 - 21:15
Kategori Rubrik: