Mudik Lebaran

 

Oleh: Rudi S Kamri

 

Tahukah Anda asal muasal istilah MUDIK ? Dari beberapa literatur yang saya baca setidaknya ada dua persepsi tentang Mudik. Yang pertama dikatakan asal kata dari mudik adalah "Mulih Dilik" yaitu bahasa Jawa yang artinya pulang sebentar. Kemudian ada yang mengatakan bahwa mudik berasal dari kata "Menuju Udik" yang maknanya adalah menuju kampung halaman. 

Awalnya mudik dilakukan oleh orang Jawa pada jaman Majapahit yang merantau ke kota untuk pulang ke kampung dengan tujuan berziarah atau membersihkan makam leluhur. Kemudian saat jaman berganti istilah mudik mengalami perkembangan makna yang dikaitkan dengan hari raya Idul Fitri, sehingga istilahnya menjadi "mudik lebaran". 

 

Kegiatan mudik lebaran mulai berkembang di Indonesia pada awal 1970-an pada saat bertumbuhnya kota-kota besar kemudian terjadi urbanisasi penduduk dari desa ke kota. Dan ini bukan hanya terjadi di Jawa saja tapi sudah menjadi tradisi baru seluruh kota di Indonesia. Tujuannya bukan lagi sekedar berziarah ke makam leluhur tapi lebih pada menjalin silaturahmi dengan orangtua dan keluarga yang tinggal di kampung.

Bagi sebagian orang mudik lebaran juga digunakan sebagai salah satu sarana untuk unjuk sukses secara ekonomi dan jabatan kepada orang- orang di kampung. Dan bagi sebagian orang mudik lebaran juga digunakan untuk mengenang dan kembali mengikat jalinan hati dengan teman-teman sekolah semasa kecil saat SD sampai SMA. Ada juga orang melakukan mudik lebaran untuk mengenalkan kampung halaman atau asal usul dirinya kepada anak cucunya.

Namun apapun tujuannya, mudik lebaran sudah menjadi ritual tahunan rutin bagi orang- orang Indonesia yang merantau ke kota besar. Dan jumlahnya dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan yang cukup besar. Tahun 2018 jumlah orang yang mudik lebaran mencapai 21 juta orang. Dan tahun 2019 ini diperkirakan mencapai sekitar 23 juta orang. 

Bagi saya pribadi, mudik saya maknai sebagai ritual "PULANG" untuk mengingat dari mana saya berasal. Dulu tujuan utama saya mudik lebaran untuk sowan sungkem ke orangtua. Namun pada saat sekarang sudah tidak punya orangtua lagi, mudik lebaran saya gunakan untuk melakukan silaturahmi dengan saudara kandung dan berziarah ke makam orangtua. 

Selalu ada kesan yang penuh cerita saat kita melakukan ritual mudik lebaran. Bermacet-ria berpuluh-puluh jam atau tiket pesawat, kereta atau bus yang melonjak tidak masuk akal adalah drama rutin tahunan yang dialami oleh pemudik. Mengeluh, ngomel atau bersungut- sungut sudah lazim terjadi. Apakah hal itu membuat orang kapok mudik ? TIDAK !!!! Karena secara psikologis jiwa dan semangat kita serasa mendapatkan enerji baru sehabis kita melakukan ritual mudik lebaran. Batin kita seolah di-recharge setelah kita "menuju udik". Itulah misteri batiniah mudik lebaran. Dan hal itu tidak mampu dinalar dengan akal semata.

Bagaimana dengan orang yang berasal atau dilahirkan dan bertumbuh di kota besar ? Kalau masih ada kesempatan silakan mencari pasangan orang yang berasal dari udik atau kota kecil agar Anda bisa mengalami sensasi mudik lebaran. Tapi kalau ternyata kesempatan itu sudah tidak ada lagi, yaaah sudah suratan nasib Anda untuk tidak pernah merasakan suka dukanya ritual bermudik-ria. Ikhlaskan saja. 

Bagi yang punya kampung halaman, saya ucapkan selamat mudik lebaran. Semoga Anda selalu sehat sampai kembali ke rumah. Dan bagi yang tidak punya kampung yaaah apa boleh buat, terima saja nasib Anda. Yang jelas Anda tidak akan pernah bisa merasakan sensasi rasa penasaran saat membuka kaleng Khong Guan eh ternyata isinya rengginang......

Salam SATU Indonesia,
03062019

(Sumber: Facebook Rudi S kamri)
Monday, June 3, 2019 - 22:00
Kategori Rubrik: