Mudik Lagi

ilustrasi
Oleh : Dermawan Wibisono
 
Lima jam kami tempuh dari Bandung ke Semarang via jalan toll. Perjalanan tersingkat dengan anak yg jadi sopir yg tak perlu tergesa-gesa. Tak perlu dia mengerahkan adrenalinnya, layaknya Rio Haryanto. Padahal kami berangkat siang hari, pukul 8.30. Bahkan niat jalan santai sehingga sampai di Semarang pas buka puasa sehingga bisa mampir di Jl. Thamrin untuk nyate pun tidak kesampaian. Krn keluarga adik sdh memasakkan bebek goreng, yg lbh enak dari bebek Slamet dengan sambel korek yg persis sama. Kami sampai terlalu awal. 
 
Jarak 430 km menjadi sangat singkat karena pemberlakuan satu jalur sejak km 70 sampai dengan gerbang toll Kaliwungu. Jasa marga mengerahkan petugas pembayaran toll yg berpanas-panas melayani sistem kartu seperti kita membayar kasir di supermarket dengan e-money saat membayar dengan kartu kredit atau debit. Antisipasi yg briliant, krn letak gerbang toll yg terbalik di lain di sisi.
 
Pengalaman dua tahun lalu yg mesti menempuh 29 jam dalam jarak yg sama tak lagi kami alami. Tak ada beribu kendaraan antri kemacetan dan menghabiskan bergalon bahan bakar sepanjang pantura. Dengan emosional yg memuncak, ada bbrp korban meninggal karena ambulan yg stuck, sholat Iedh bersama keluarga yg terlewat dan berbagai social cost yg menyertainya, telah terlewati.
Memang, jalan toll trans Jawa ini telah mengurangi berbagai kendala yg selama ini melintas di depan mata. Bahkan bbrp tahun lalu, seorang kawan Malaysia menanyakan kenapa tidak ada jalan toll yg menghubungkan 2 kota pusat perdagangan di Jawa: Jakarta-Surabaya, seperti trans Malaysia.yg telah lama ada. Aku hanya bisa diam dan tepekur, tak punya jawaban. Diam seperti seorang siswa yg berdiri kaku krn tak mampu menjawab pertanyaan dosen penguji sidang skripsi, tesis atau disertasi.
 
Memang seringkali, orang tdk pernah bisa menjawab krn tidak pernah mengalami. Orang yg tak pernah hidup susah tak akan menjiwai apa artinya susah. Orang yg tak pernah menghemat 2.000 rupiah hanya agar bisa pulang mudik, menemui orang tua, dengan naik bis non AC tentu tidak tahu nikmatnya naik bis AC. Orang yg tak tahu berkah dan nikmatnya ketemu orang tua, sanak dan handai tolan di hari lebaran, tak akan bisa menghargai tersedianya moda transportasi termasuk jalan toll ini. 
 
Telah banyak ungkapan para pendakwah yg meliuk-liuk dengan berbagai bahasa yg menyentuh surga, namun tidak membumi dan menyentuh keseharian hidup kita. Yang tak  bisa mensyukuri saat kita bisa menemui saudara dan sahabat dengan senyum ceria karena kemudahan yg kita alami kala mencapainya. Masyarakat kita hidup dalam dimensi yg bukan hanya menyangkut segala sesuatu yg hanya terukur, terdefiniskan, tapi sdh sampai tahap rasa. Bukan menghitung hidup sebatas profit, dan tangible benefit saja tapi sampai tahap wirasa.
 
Selamat lebaran, orang bisa pergi ke mana saja, namun selalu hanya punya satu cara untuk pulang. Pulang ke rumah, menyambut senyum tulus yg mengembang di sana. 
 
Di sini, kita bukan hanya mencari hidup, tapi adanya kehidupan lah yg membuat kita berarti berada di dunia ini. Keberartian kita membuat kita lebih bahagia di banding penyanyi Linkin Park, Witney Houstan, Michael Jackson....yg  berada di puncaknya, dengan menggenggam dolar di tangannya, namun merasa hampa di hatinya.
 
Sumber : Status Facebook Dermawan Wibisono
Sunday, June 2, 2019 - 13:45
Kategori Rubrik: