Mudah Berasumsi Tanpa Perlu Pembuktian

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Saya melihat seorang wanita terduduk diam di sebuah gardu ronda. Wanita itu berbusana minim dan terlihat sexy. Sesekali ia sesenggukan menangis kala membuka hp nya dan membalas sebuah pesan singkat. Apa yang terjadi? Di seberang ada bengkel motor dan mulai banyak orang menggunjingkan wanita di gardu ronda.

Kesimpulan awam kebanyakan mengatakan wanita itu sebagai wanita "plus plus" bekerja di tempat hiburan malam, yang mungkin tengah bertengkar dengan kekasihnya atau ditinggal kekasihnya. Namun kini meresahkan tetangga kanan kiri karena mulai menarik perhatian. Lihat saja pakaiannya yang seronok. Pasti para istri akan waspada suaminya tergoda.

Apakah benar seperti itu kisah sebenarnya? Jawabnya, belum tentu. Lantas yang disampaikan dalam pergunjingan di bengkel tersebut? Ya itu sebatas gunjingan yang menggunakan asumsi dengan sumber yang tidak jelas. Biasanya asumsi didasarkan kepada memori atau pengalaman yang selama ini diketahui. Contoh, saat mendung itu diasumsikan akan hujan.

Melihat orang dengan pakaian kumal diasumsikan gembel dan mencurigakan. Dan seterusnya. Orang memang tidak dilarang berasumsi, silahkan saja. Namun bagaimana jika keliru? Ya, harusnya tinggal diralat dengan mengucapkan maaf, selesai. Bagaimana jika asumsi tersebut mempengaruhi orang lain sehingga bisa menjadi liar kemana2?

Itulah pentingnya mengetahui mana asumsi, fakta dan kebenaran sesungguhnya. Jangankan asumsi, bahkan sebuah fakta belum tentu menyiratkan kebenaran yang sesungguhnya. Orang sibuk meyakinkan orang lain bahwa ia melihat seorang pembunuh yang bajunya berdarah-darah di samping orang yang mati tergeletak di pinggir jalan. Ya faktanya begitu.

Namun kebenarannya bukan dia pembunuhnya. Melainkan, orang tersebut adalah anak dari yang mati korban jambret disertai penganiayaan dan pembunuhan. Si Anak memeluk orangtuanya dan pasti saja pakaiannya pun akan berdarah-darah. Sangat berbahaya jika sebuah asumsi diyakini sebagai kebenaran, bahkan kadang dengan cara memaksa agar orang lain yakin.

Pengasumsi memang kadang ada yang sekadar berasumsi namun ada pula yang sengaja dibuat-buat dengan tujuan tertentu. Asumsi jika hanya dimiliki atau diyakini sendiri ya tentu tidak berpengaruh. Namun jika asumsi tersebut disebarluaskan atau sengaja disembur-semburkan, nah itu yang berbahaya. Lebih berbahaya lagi jika selalu dicarikan alasan guna menutupi ketidakbenaran asumsi tersebut.

Contoh terbaru, Mendikbud Nadiem Makarim menjadi korban asumsi. Ia diduga akan memperkaya diri sendiri dan atau kelompoknya melalui program POP. Lalu ditambahkan, begitu diketahui KPK maka semua berkilah dan program pun alasannya ditunda dan dievaluasi lanjutan. Entah kapan ada berita KPK mengendus ada praktik koruptif dalam program POP?

"Fakta kan, Nadiem minta maaf. Artinya ada yang salah dengan program itu," tambahnya untuk meyakinkan. Dicari dan dibuatlah rekaan peristiwa yang menunjukkan bahwa memang benar dugaannya. Dia pun akan dianggap cerdas dan kritis. Bagi yang lugu tentu akan terprovokasi akan asumsi tersebut. Namun bagi yang cerdas ya belum tentu.

Look who's talking too... Lihat siapa yang bicara, adalah sebuah teori yang berasumsi juga sebenarnya. Biasanya para oposan akan berkata miring terhadap semua kebijakan pemerintah. Dan orangnya ya itu-itu saja, tidak ada yang baru. Asumsi lainnya, tidak ada satupun yang pernah terbukti dari semua tuduhan ataupun asumsi yang ditujukan ke pemerintah.

Semua hanya isapan jempol saja, atau ketakutan yang dibangun sendiri dari bayang-bayang negatifnya. Lihat juga siapa yang diserang oleh asumsi-asumsi negatif tersebut? Orang-orang seperti Jokowi, Nadiem dan Erick Thohir atau Ahok memang kerap mendapat asumsi negatif. Mengapa? Kesamaannya, mereka adalah orang-orang yang memang mau bekerja dan maju.

Tidak hanya sebatas retorika membangun narasi muluk-muluk tanpa hasil apapun. Kesamaan lainnya, mereka orang-orang profesional tanpa kepentingan politik serta memiliki integritas. Lho, bukankah tuduhannya justru mereka ingin memperkaya diri sendiri? Iya silahkan, sekali lagi, itukan kata penyinyir? Apakah memang demikian? Mengapa penyinyir menjadi lebih tahu dari orang yang dituduhnya? Hebat!

Jujur, saya sendiri belum mengetahui kebenarannya seperti apa. Cara paling mudah menurut saya ya biarkan saja dulu, apakah ke depan atau nantinya akan ada jenis pelanggaran hukum serta terbukti memperkaya diri sendiri atau tidak? Bagi saya simple, setiap hal pasti ada pro kontra. Mau belajar luring atau daring pro kontra. Antara kesehatan dan ekonomi jadi prioritas pro kontra.

Mau gebrakan untuk maju tapi membuat kaget atau konvensional saja lah? Mau gaya memimpin yang partisipatif tapi dianggap gak tegas atau tegas tapi otoriter? Ya silahkan semua dapat diperdebatkan dan setiap orang punya selera masing-masing. Tapi jangan paksakan selera mu kepada orang lain. Karena asumsi mu itu peluangnya 50:50, belum ada yang benar.

Sebatas pada keyakinan kita masing-masing, mau percaya siapa? Berbeda pandangan dan asumsi, tidak masalah, tapi biarkan saja roda bergulir. Jangan sampai kita terjebak kepada soal mau naik apa, kok warnanya merah, supirnya siapa, bagaimana kalau mogok, jalannya lewat mana, macet atau nggak, dsb. Itu teknis. Sementara substansinya kita harus segera bergerak menuju suatu tempat.

Jika kita sibuk bahas teknis, maka substansinya terlewatkan dan kita tidak akan pernah kemana-mana. Beranggapan silahkan namun tidak menuduh. Apa tidak malu jika tuduhan itu keliru alamat? Apalagi memaksakan apa yang kita pikirkan agar masuk dan dipikirkan juga oleh orang lain kemudian menjadi sebuah keyakinan. Itu cara preman, bukan kerangka berpikir ilmiah.

Lihat dalam kaedah akademik, semua dugaan perlu diuji, bahkan jika perlu diuji berkali-kali hingga menemukan kebenaran sejatinya. Itu pun bisa akan berevolusi kembali karena tuntutan zaman atau pun bermutasi sehingga melahirkan dugaan-dugaan baru yang perlu diuji kembali. Demikian seterusnya. Apapun di dunia ini bergerak dinamis tidak statis. Berpikir pun tidak linear tapi bilinear. Selalu terbuka terhadap segala kemungkinan.

Untuk itu, mari kita uji coba saja setiap kebijakan yang ada. Toh sudah melalui proses pembahasan? Bagaimana jika memang terjadi yang sejak awal sudah diduga? Inilah canggihnya bernegara, tool mengatasi hal tersebut sudah tersedia atau disediakan yakni hukum dan perangkatnya. Serahkan kepada proses hukum yang berlaku. Itu konsekuensi hidup bernegara bermasyarakat.

Semua ada aturannya dan jika kita ikuti aturan tersebut tentu akan indah. Aturan itu sendiri selalu bersifat dinamis, bisa akan berubah menyesuaikan tuntutan zaman. Saya pernah belajar hukum dan percaya adanya mens rea (niat) namun juga perlu pembuktian. Kita tidak bisa menghakimi mens rea tanpa adanya bukti. Sebelum terbukti, maka jadikan catatan saja mengapa seseorang berbuat seperti itu? (Awib)

Sumber : Status facebook Agung Wibawanto

Sunday, August 2, 2020 - 14:00
Kategori Rubrik: