Mubahalah

Oleh: Abad Badruzaman
 

Belakangan ini terliat beberapa orang mudah sekali ngajak lawan debatnya untuk ber-mubāhalah. Mubāhalah artinya mulā'anah. Yaitu nantang lawan untuk kurang-lebih ngomong gini, "Jika kebenaran di pihak ane, maka azab Allah akan niban ke ente. Jika sebaliknya, ane siap ketiban azab Allah."

Awalnya dukung-mendukung tokoh-idola. Lalu berkembang ke mana-mana. Tiap-tiap kubu percaya kubu-kubuan ini lebih dari sekedar siapa di antara tokoh-tokoh idola itu yang lebih baik. Tapi mengarah ke keyakinan ini perang antara haq vs kebatilan. Kubu ane di atas haq, kubu ente batil.

 

 

Akar dari semua kubu-kubuan itu tetap saja: po-li-tik! Bukan sama sekali urusan agama. Karena akarnya politik, maka sejatinya gak perlu ada persoalan apa pun yang tumbuh dari akar itu yang perlu di-mubāhalah-kan.

Dalam hal ini, yang kita perlukan bukan mubāhalah. Melainkan: siap beda pendapat, sadar semua pihak setara-sederajat, bersedia mendengar argumen dan penjelasan lawan, serta lapang menerima kekalahan jika fakta menunjukkan pendapat kita keliru.

Dalam berbeda pendapat, sebaiknya kita meniru Imam Syafi'i saat berkata, "Pendapatku benar tapi ada kemungkinan salah. Pendapat orang lain salah tapi ada kemungkinan benar."

Merasa benar tidaklah salah. Tapi lawan juga punya perasaan sama. Kebenaran memang tunggal. Tapi posisi kita sama: para penafsir sesuatu yang tunggal itu. Kita bukan nabi atau wali yang mampu merengkuh inti kebenaran.

Tapi nyatanya apa-apa di-mubāhalah-kan, dikit-dikit mubāhalah, seolah Islam gak memberi ruang buat diskusi, asah pendapat, adu argumen, bedah dalil dan kegiatan berbasis nalar lainnya.

Kuatirnya soal Maha Patih Gajah Mada yang lagi "hot" juga di-mubāhalah-kan. Semoga tidak. Biar jadi bahan lucu-lucuan saja. Tapi para akademisi dan peneliti terkait sih baiknya jangan ikut lucu-lucuan, melainkan menelisik-ulang siapa sebenarnya pemilik Sumpah Palapa itu.

 

(Sumber: Facebook Abad Badruzaman)

Monday, June 19, 2017 - 10:15
Kategori Rubrik: