Muallaf, Mantan Pastor dan S3 Vatikan

ilustrasi

Oleh : Suratno Muchoeri

#RefleksiTaglineYangLagiViral

Apa yg bs kita pelajari (lesson-learned) dari kasus dgn tagline di atas yg sdg viral?

Pertama, yg jelas masy kita literasi dan critical-thinkingnya blm bagus, kdg gampang percaya begitu aja. Ini hrs jd konsern-bersama bgmn agar kita semua terbiasa tabayyun, cek n ricek, cari info penyeimbang dll sbg bagian dr media literasi dan critical thinkingnya agar mkn bagus.

Kedua, religious-conversion (pindah agama) bagi pelakunya mgkn hal yg istimewa, tapi masy kaum beragama kita sikapi biasa2 aja, nggak usah berlebihan, krn itu hak masing2 individu dan bagian dari kebebasan beragama/berkeyakinan. Tentu mrk jg boleh kita ksh panggung, tp hrs proporsional hehe

Ketiga, dlm konteks hubungan antar agama, keyakinan bhw agama sendiri paling benar tanpa sadar seringkali mmbw kita utk "menyalahkan" agama lain. Kesadaran ini klo gak disikapi hati2 kdg muncul ekspresi spt senang dgn para converter/muallaf2 yg menceritakan kekurangan2/kejelekkan2 agama yg dianut sblmnya.

Keempat, klo niatnya mmg mau belajar agama lain tentu lbh otoritatif dari existing religious believers-nya. Org2 non-Muslim klo mo bjlr Islam ya pada ulama bukan pd muslim-murtad. Trs orang2 Islam klo mo tahu/bljr agama Kristen ya dari pastor beneran, bukan mantan-pastor apalagi pastor abal2 ato jadi2an hehe.

Kelima, dr bbrp kasus, mmg hrs diakui bahwa kebutuhan penceramah agama bersertifikat/ terdaftar spt bbrp waktu lalu digagas Kemenag ada relevansinya jg. Ini tentu berlaku tdk hny utk penceramah Islam sj tp jg agama lain. Meski mmg ini hrs hati2 dan dilakukan scr bijaksana, jgn sampai ada ekslusi. Kita bs belajar dr negara2 lain yg sdh memberlakukan ini.. kyknya Malaysia sdh dan yg lain.

Smg manfangat dan berkah. Danke

Sumber : Status Facebook Suratno Muchoeri

Friday, February 21, 2020 - 07:30
Kategori Rubrik: