Muallaf Atau Pemecah Belah Bangsa

ilustrasi

Oleh : Abdul Gafur

Baru-baru ini istri almarhum Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yaitu Ibu Hj. Sinta Nuriyah mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengundang reaksi keras dari beberapa kalangan. Beliau berkata jika tidak ada kewajiban bagi muslimah untuk mengenakan jilbab. Penolakan terhadap pernyataan ini bahkan dibalas dengan pernyataan kasar oleh salah seorang muallaf. Dia berkata:

“Nggak mau berhijab ya silakan saja, tapi ngomong “hijab itu nggak wajib bagi muslimah,” itu pernyataan yang maksa banget, udah maksiat, maksa lagi.”

Memang benar muallaf itu tidak menyebutkan nama Ibu Sinta Nuriyah dalam pernyatannya di twitter, tetapi jika kita ingin menganalisa latar belakang munculnya pernyataan itu tentu ada kaitan dengan pernyataan Ibu Sinta Nuriyah mengenai jilbab. Kita bisa saja berbeda pendapat tetapi apakah harus menghina hingga menyebutkan jika beliau sudah melakukan maksiat dan memaksa lagi. Saya seperti melihat ada kecocokan dan persamaan alur para muallaf ini dalam “berdakwah”. Persamannya adalah mereka menggunakan kata-kata kasar dalam menyerang argumentasi dan pendapat yang berbeda dari mereka. Para muallaf ini seperti menikmati ketenarannya dengan selalu mendendangkan kebencian dan perkataan kasar. Sehingga tidak salah jika ada yang mengatakan tindak tanduk mereka seperti agen pemecah umat. Ia yang sebelumnya tidak beragama islam seperti menjadi orang yang paling paham islam. Dan parahnya sebagian umat islam menjadikan para muallaf ini sebagai parameter dalam memahami islam.

Kembali ke persoalan hijab, seharusnya jika si muallaf ini merasa benar dan menganggap yang tidak berjilbab melakukan maksiat, sampaikan argumentasi itu dengan jelas dan sopan. Bukan hanya menyampaikan pendapat kasar dan caci maki. Kita semua paham jika aurat itu wajib ditutup. Tetapi yang menjadi persoalan, dimana batasan aurat itu. Para ulama kita banyak berbeda pandangan dalam menetapkan batasan aurat itu sampai dimana. Mari kita coba meliha ayat yang menjadi rujukan aurat:

“Janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya”. (QS An-Nur Ayat 31)

Para ulama berdebat mengenai definisi perhiasan seperti yang disebutkan ayat di atas. Bisa yang dimaksud adalah tubuh perempuan, bisa aksesoris, maupun perhiasan. Dalam tafsir Ar Razi disebutkan bahwa bunyi ayat “kecuali yang biasa tampak” itu adalah sesuai dengan adat kebiasaan manusia. Artinya pemahaman ayat ini sangat kontekstual sesuai lingkungan dimana kita berada. Karena Al Quran turunnya di tanah Arab yang gersang akan memiliki parameter yang berbeda dengan keadaan di negeri tropis seperti Indonesia. Sementara dalam tafsir Al Kassyaf disebutkan mengenai pengecualian adalah sesuatu yang dibutuhkan (hajat), kalau tidak terbuka akan ada kesulitan dalam interaksi.

Di dalam Tafsir Al Munir mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafii mengatakan wajah dan telapak tangan bukanlah termasuk aurat. Yang dimaksud dengan apa yang tampak biasa itu adalah apa yang sudah biasa secara adat untuk kelihatan. Artinya hampir sama dengan penjelasan di tafsir Ar Razi dan Al Kassyaf. Bahkan Imam Abu Hanifah mengatakan jika telapak kaki perempuan tidak termasuk aurat. Beliau berpendapat seperti itu dikarenakan akan banyak timbul kesulitan jika kedua telapak kaki ditutup khususnya mereka yang kerja di pedesaan sebagai petani maupun yang tinggal di pesisir pantai sebagai nelayan. Imam Abu Yusuf seorang murid senior Imam Abu Hanifah bahkan berpendapat lebih jauh lagi. Beliau mengatakan jika lengan perempuan bukan lagi menjadi aurat ketika menutupinya akan mendatangkan lebih banyak kesulitan (haraj). Beliau juga dalam kitab Syarh Fathul Qadir menolerir bahkan batas aurat hingga separuh betis.

Ini pendapat dari beberapa ulama tentang batasan aurat. Itu belum termasuk dengan contoh para pembawa agama islam di nusantara yang bisa kita lihat bagaimana istri mereka tidak menggunakan jilbab seperti sekarang ini. Mereka menutup aurat mereka dengan menggunakan selendang penutup kepala. Kita bisa lihat istri dari K.H. Hasyim Asyari sebagai pendiri Nahdlatul Ulama maupun istri dari K.H. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah. Kedua organisasi ini adalah organisasi islam terbesar di nusantara dan tentu K.H. Hasyim Asyari dan K.H. Ahmad Dahlan bukanlah orang yang tidak mengerti mengenai agama. Beliau lebih alim dari kita dan beberapa penceramah karbitan dan maullaf di masa saat ini. Dan dari kedua tokoh ini kita bisa belajar memahami batasan aurat perempuan seperti yang dicontohkan oleh istri mereka yang bisa saja berbeda pemahaman terutama dari mereka yang muallaf dan baru belajar islam.

Jika ada yang berkata dasar memahami islam bukan dari panutan kita terhadap tokoh tertentu tetapi Al Quran dan Hadist, itu benar. Tetapi harus kita ingat bahwa perjalanan islam menyebar ke nusantara adalah andil dari kedua tokoh besar ini. Belajar agama islam yang paling baik tentu yang memiliki guru dan jelas sanad keilmuannya. Jika belajar islam hanya dari media sosial, tentu pemahaman agama yang dipahami bisa saja terjadi gradasi. Itu belum termasuk bagaimana kualitas dari pengajar agama yang ada di media sosial. Memahami agama tentu tidak belajar semalam saja atau selintas dengan melihat tayangan ceramah atau tulisan di media sosial. Ada jenjang yang harus dipahami. Ada ilmu yang harus dipelajari. Dan ada ada adab yang harus diimplementasikan sehingga tidak dengan mudah menyalahkan pendapat pihak lain bahkan menganggapnya melakukan maksiat.

Para muallaf ini mungkin kurang belajar adab sehingga perbedaan pendapat sering disalahkan. Bisa dikatakan maksiat maupun pernyataan kasar lainnya seperti kafir dan sesat. Semoga saja umat dan bangsa ini terjaga dari perpecahan yang disebabkan oleh pernyataan maupun ceramah para muallaf ini.

Sumber : Status Facebook Abdul Gafur

Wednesday, January 22, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: