Muak Dengan Rasisme

ilustrasi

Oleh : Henky Widjaja

Kalau iman itu adalah kesesuaian antara yang kita yakini, ucapkan, dan amalkan, maka cara pandang kita terhadap agama lain harus jadi bagian utuh dari iman kita.

Jika saya percaya ada ruang private dan publik dalam memandang agama lain, tentu saya akan menjadi Ustad Soto Madura (jare Itsnan Hidayat) dalam menjawab pertanyaan anak saya. Tetapi tidak. Jawaban saya ke anak saya sama persis dengan cara pandang saya terhadap agama lain.

Saya ingin anak saya teguh dalam iman Islam seteguh hormatnya kepada iman teman-teman agama lain. Oh, apalagi Kristen, agama yang lebih tua dari Islam, jika Anda tidak mau mengakuinya sebagai saudara kandung.

Dari data ini, orang non-Papua terkonsentrasi di perkotaan. Di pegunungan, mayoritas adalah orang asli Papua seperti di Lanny Jaya (99,89%), Tolikara (99,04%), Yahukimo (98,57%), Paniai (97,58%), dan Jayawijaya (90,9%). Perubahan konfigurasi penduduk itu disebabkan program transmigrasi oleh pemerintahan Soeharto. Belakangan, ia tak cuma diubah oleh transmigrasi, melainkan para migran ekonomi yang mencari peruntungan ke Papua. Mereka termasuk orang Makassar, Bugis, Maluku, selain Jawa dan sebagainya.

Bahkan sampai ada anekdot: datang ke Papua dengan M-16, pulang dari Papua membawa 16 M. Kondisi ini ditambah dan diperparah lewat kekerasan negara dan gelombang korporasi di wilayah yang paling terutup dari akses peliputan media maupun pemantauan kejahatan kemanusiaan. "Mereka mencuri kami punya alam, dan kami saksikan itu," kata Ambrosius.

Baca selengkapnya di artikel "Nestapa Mahasiswa Papua: Diperlakukan Rasis Tapi SDA-nya Dikeruk", https://tirto.id/dmQS.

Sumber : Status Facebook Henky Widjaja

Tuesday, August 20, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: