Move On Dari Ahok?

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Setiap kali mengingat dan menyebut Ahok, orang bilang "move on".

Tapi saya yakin, gema Ahok tidak akan pernah mati, tidak akan sirna, tidak akan pernah hilang, tidak akan pernah lekang. Ahok Legenda hidup.

Suka atau tidak suka masa depan akan mengenangnya, seperti mengenang Gandi dengen keteguhannya, Mandela dengan ketabahan dan pemaafannya, atau Gus Dur dengan humamismenya. Dan Ahok dengan kejujurannya.

Ditengah gegap gempita peringatan maulid Nabi saw, kita justru memahami kedalaman kata Amanah, terpercaya, satu dari 4 sifat khas Nabi saw, dalam makna dan spektrumnya justru dari perilaku Ahok.

Bahkan saat ia memberi arahan pada Dislantas (Dinas Lalu Lintas), kemudian ia mengajak bawahannya untuk meniru Shidiq, Fatanah, Amanah, dan Tabligh yang dimiliki Nabi saw.

Rasa-rasanya sifat itu lebih bernyawa saat keluar dari mulut Ahok daripada banyak dai yang sering berteriak Allahu Akbar sampai urat lehernya keluar.

Ahok, bukan soal move on. Tapi Ahok adalah harapan yang baru datang setelah 32 tahun orba dan era reformasi, setelah ia datang menjelang, rame-rame kita buang.

Ahok, bukan soal move on. Tapi bagian penting yang lama hilang dalam jiwa bangsa kita.

Selamat memperingati Maulid Nabi saw. Sosok yang manifestasi kemuliaannya direpresentasikan oleh banyak jiwa, dan pemeluk agama-agama.

Karena kita yang berbeda-beda, semua adalah pancaran dari Nurnya Saw.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Friday, December 1, 2017 - 13:15
Kategori Rubrik: