Motivator

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Sejak awal saya paling tidak suka dengan pekerjaan jadi motivator. Bukan saya sirik, sebab sejak dulu saya sendiri tukang memberi motivasi orang. Tapi jadi motivator itu lebih sering bermasalah dengan dirinya sendidi. Semua orang diberi motivasi, justru dirinya sendiri malah tidak termotivasi.

Lho bukannya malah baik bisa kasih motivasi ke orang?

Nanti dulu, kalau sekedar berbagi cerita atau pengalaman langsung yang sifatnya inspiratif sih saya ok-ok saja. Tapi kalau memberi motivasi itu jadi semacam profesi, dengan segala teori, akting dan trik-trik murahan, maka disitulah saya banyak nggak sependapat.

Dari berbagai training motivasi yang -terpaksa- harus saya ikuti, saya mencatat hal-hal yang krusial, antara lain :

1. Motivator urusan bisnis misalnya. Kalau di depan panggung lagaknya udah kayak yang paling sukses bisnisnya. Kita sebagai peserta disuruh begini dilarang begitu. Ada-ada saja teorinya. Sebakul lah pokoknya.

Tapi saya lihat bisnisnya dia sendiri kok gitu-gitu aja. Gak meledak lalu jadi tajir melintir. Dalam hati saya, alah lu aja gak beres urus bisnis, pakai acara ngajarin orang pulak.

Noh yang bisnisnya sukses ternyata santai aja, gak kebanyakan omong dan gak kelesek teorinya sendiri.

So dari pada sok ngajarin orang teori-teori bisnis, coba dong ente buktikan dulu. Bisa nggak menjalankan roda bisnis? Sukses nggak? Seberapa kaya Anda itu dan uang yang bisa Anda simpan di Bank?

2. Motivator Pernikahan dan Rumah Tangga

Motivator kedua ini Saya perhatikan di dalam rumah tangganya nggak sesakinah mawaddah wa rahmah yang dibayangkan.

Sama bininya pun ribut-ribut juga. Malah sampai cerai dan talak tiga. Di rumahnya pun tetap aja piring pada bisa terbang dan palang pintu pindah ke jidat.

Ujung-ujungnya poligami juga, selingkuh malah. Jadi semua training motivasi yang keluar dari mulutnya cuma teori basi.

Sudah lah Om. Urus saja rumah tangga mu itu sebelum sok ngajarin orang lain.

3. Motivator Parenting

Kalau melihat kelakuan para motivator parenting, saya kok curiga besar bahwa semua teorinya itu original dari kultur Barat. Cuma dilapisi dengan ornamen khas Islam. Tempel ayat disini teplok hadits disana. Hanya sebatas itu saja.

Esensi syariat Islamnya malah bertolak-belakang. Misalnya, kepada anak dilarang bilang jangan. Nanti anak jadi kerdil tidak berkembang jiwanya. Terus guru ngaji kita yang bikin kita pinter baca Quran digoblok-goblokin. Pesantren yang menghukum santri dianggap tidak sesuai parenting Islami.

Lha hadits anak gak mau shalat boleh dipukul di usia 10 tahun mau dikemanain, Tong?

Terus masjid yang suci dan mulia itu, oleh mereka malah dijadikan arena bermain anak, untuk wahan adu gulat, balap lari, kejar-kejaran, petak umpet, loncat, koprol, dan gegeran. Alasannya dulu Nabi latihan perang di dalam masjid.

Ah, masa? Serius? Gak salah baca haditsnya?

Pertanyaan saya sederhana, dengan semua teori parentingmu itu, anak mu sudah pada jadi apa? Ulama kah? Orang pintar kah? Atau biasa-biasa aja?

4. Motivator Agama

Nah ini yang paling bikin eneg. Tiap hari ngajakin orang cinta Islam, bela Islam, perjuangkan Islam. Kesana kemari teriak-teriak takbir dan seterusnya sambil mengancam-ngancam orang yang hina Islam.

Ternyata dia sendiri sama sekali tidak pernah mendalami agama Islam. Terbukti bahasa Arab aja gak bisa. Baca Quran blang bentong gak karuan. Ilmu tafsir buta, ilmu hadits bloon, apalagi ilmu fiqih, NOL besar. Oh ya satu lagi, akhlaqnya sama sekali jauuuuh daei akhlaq Nabi SAW.

Tapi merasa paling berjasa besar mempertahankan Islam. Seolah kalau tidak ada dirinya, Islam akan punah, Allah tidak akan disembah di muka bumi selamanya. Kesannya heroik sekali.

Kenapa orang kayak gini tidak menjalankan perintah Allah SWT yang hukumnya fardhu 'ain, yaitu belajar ilmu agama secara mendalam dari para alim ulama yang ahli di bidangnya?

Berapa banyak kitab yang sudah ente bacan dan khatamin? Berapa guru ngaji yang sudah ente sedot ilmunya?

Maka setiap kali baca pamplet tentang training motivasi, dalam hati saya cuma membatin. Hare gene masih doyan begituan aja.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Thursday, January 9, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: