Motivator Kedokteran

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Pernah dengar nggak profesi yang satu ini? Motivator kedokteran. Nggak pernah kan?

Ya memang tidak ada profesi di bidang itu. Kalau pun dipaksa mau diada-adakan, kira-kira wewenangnya apa si motivator kedokteran itu?

Boleh kah si motivator menyuntik pasien? Membedah perut ibu hamil? Mengamputasi pasien, menstransplantasi ginjal, hati dan lainnya?

Jelas tidak boleh. Karena yang boleh melalukannya hanya dokter beneran, itu pun harus pakai prosedur panjang lebar.

Lah terus apakah peranan si motivator kedokteran? Ya tidak ada. Orang sakit itu butuh dokter yang ahli di bidang penyakit dan punya ilmu yang mendalam tentang bagaimana upaya penyembuhannya.

Si pasien tinggal ikuti saja semua petunjuk dokter yang ahli. Tidak usah ikuti petunjuk sang motivator. Apalagi kalau sampai arahan motivator malah bertentangan dengan analisa dokter. Semua bualan-bualan si motivator kita lempar saja ke tong sampah, karena selain mengganggu juga menyesatkan.

Nah, begitu juga dalam ilmu-ilmu syariah. Kita tidak butuh peranan motivator. Apalagi motivatornya justru orang jahil, awam, tidak pernah punya track record belajar ilmu syariah, tidak bisa bahasa Arab, tidak punya literatur rujukan ilmu syariah, tidak kenal dengan tokoh ulama ahli syariah.

Bukannya orang jadi paham ilmu syariah, si motivator itu malah jadi penghalang saja. Alih-alih memberi obat yang benar, malah orang jadi salah makan obat.

Kita tidak butuh motivator ilmu syariah, kita butuh ilmu syariah secara langsung dari tangan para pakar yang ahli di bidangnya.

Dalam beberapa hal, motivator itu bagaikan pak ogah ngatur lalu lintas, bukannya lancar malah tambah macet. Kita tidak butuh pak ogah, kita butuh pak polisi, the real cop.

Sayangnya kebanyakan panggung dakwah kita ini lebih banyak dikuasai oleh para motivator yang tidak jelas riwayat pendidikannya.

Artis baru insyaf kemarin sore kok jadi rujukan? Baru tumben hijrah kok jadi rujukan? Pelawak kok jadi rujukan? Muallaf masuk Islam masih plonga-plongo kok jadi rujukan?

Terus mereka mau bicara apa tentang ilmu syariah? Motivasi? Memotivasi ke arah mana? Lha wong motivatornya aja rada bingung gitu kok.

Motivatornya malah punya problem besar dengan dirinya. Ya, dia sendiri malah tidak bisa memotivasi dirinya untuk belajar ilmu syariah dan menjadi pakarnya. Kalau memang dia sudah berhasil, pastinya tidak jadi motivator. Pasti dia sudah jadi ulama.

Jadi tidak usah lah meciprit memotivasi orang. Jadilah ulama beneran, nanti orang lain akan termotivasi dengan sendirinya.

Tidak usah teriak-teriak jualan obat kumis dan jenggot, kalau anda sendiri tidak berkumis dan berjenggot. Mana ada orang percaya?

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Friday, February 28, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: