Moral Stunting

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Menyeruaknya prilaku-prilaku amoral akhir-akhir ini sangat merusak tatanan sosial yg makin serius. Kelompok yg notabene mengklaim dirinya "kudus" dan mendominasi teriakan yg ditujukan kepada Tuhan, namun bersamaan prilakunya menghantam orang yg tak sepaham, bahkan pemerintah dijadikan bulan-bulanan makian.

Dalam renungan dangkal di benak saya, bahwa kenapa begitu sulitnya Tuhan mengopeni orang-orang yg semula diharapakan menjadi agen of God, malah menjadi agen of goat. Menebar bau prengus, cuma jenggotnya saja yg makin panjang yg lainnya nyaris tak ada gunanya. Teriakannya menandakan kelaparannya, maka, jangan kaitkan dengan teriakan atas sebuah kebenaran, apalagi yg ikhlas dan tulus untuk mengawal titah Tuhan, tak mungkin kita jumpai. Kelantangannya yg diletakkan diatas helai kain bendera diembel-embeli tulisan TIADA TUHAN SELAIN ALLAH...DAN MENJUNJUNG MUHAMMAD SEBAGAI RASUL ALLAH, sudah lama terbelah antar mulut lantangnya memyebut Tuhan dan kelakuan bejadnya mewakili setan yg begitu jelas. Tidak ada korelasinya kepada kebenaran apalagi ketertundukan kepada Tuhan. Entitasnya setipis kulit ari, setipis iman dan rasa toleransi yg mereka punyai.

Tumbuh kembangnya paham radikal dan aneh akhir-akhir ini membuat energi kita tersedot kesana. Tidak direspon ada didepan mata, direspon kita ikut gila, dibiarkan mereka merajalela.

Saya menerawang kedepan, mencari padanan bagaimana masa depan sebuah negara yg terganggu oleh kerumunan manusia yg akhlaknya perlu dipertanyakan, karena pada umumnya negara kuat yg berdaulat dibesarkan oleh peradaban manusia yg jujur, berakhlak baik dan toleran, bukan penganut agama yg kesetanan mengoreksi keyakinan orang lain dimana privasi batinnya diusik karena tidak sekeyakinan. Padahal hanya yg punya keyakinan dan Tuhan yg bisa saling memahami apakah dia dalam kebenaran atau masuk ranah kemungkaran. 

 

Jangan pernah menghakimi, apalagi merasa paling memiliki atas rahman dan rahimNya. Tidak ada diskursus yg lalu, saat ini atau nanti yg bisa merubah wajah Tuhan. Jadi jangan coba menyulap kebejadan dgn kalimat atau tulisan tauhid yg engkau pamerkan menjadi tontonan murahan. Kalau sejatinya engkau setan sampai kapanpun tetap berujud setan, maka engkau akan dijauhkan dari kemakrufan.

Moral stunting bukan masalah kurangnya gizi yg dikonsumsi atau gen yg dimiliki. Kerdilnya moral adalah lebih dari pengaruh keluarga, lingkungan dan pendidikan yg tidak sepadan. Bahkan doktrin agama saja lebih menekankan bacaan dan amalan tanpa tuntutan bagaimana yg baik dan benar bisa dilakukan secara berkelanjutan. Inilah yg terjadi, sehingga kita menyaksikan wajah beringas pembela Tuhan bergentayangan di jalan.

Kondisi ini cukup mengkhawatirkan anak-anak dan masa depan. Yang menakutkan mereka memindahkan akhirat kehalaman rumah dan jalan, seolah semua harus dikuduskan, bahkan keyakinan akan diseragamkan dengan tekanan. Mereka tak paham, bahwa dunia adalah jembatan akhirat yg harus dirawat.

Terus bagaimana, apakah kita akan protes kepada Tuhan, atau kita biarkan mereka makin banyak di jalan-jalan. Satpol PP Tuhan kok gentayangan...bukan menebar kemakrufan, malah mengumbar kemurkaan yg menakutkan.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Wednesday, November 21, 2018 - 08:30
Kategori Rubrik: