Monyet Papua Dan Bebek Jawa

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Saya hanya menulis apa yang saya tahu dan alami. Jika itu bersumber dari bacaan—entah buku atau publikasi, informasi tersebut harus sudah terverifikasi dan terfalsisikasi. Kalau nggak, mau sesensitif atau sengilu apa kek sebuah peristiwa, saya diam.

Saya belum pernah nulis tentang Papua. Alasan utamanya, ya itu tadi. Plus belum pernah, bahkan untuk satu detik saja, saya menginjakkan kaki di wilayah bumi tertimur Indonesia. Saya mau omong apa? Sok tahu? Sok kenes? Keminter?

Jadi, kalau kali ini saya menulis tentang Papua, itu cuma kulit. Saya hanya menyoroti penggunaan kata ‘monyet’ terhadap sekelompok manusia, yang berkebetulan berasal dari Papua.

Kejadian itu mirip dengan peristiwa yang dialami Drogba, striker Chelsea, saat melawat ke kandang lawan. Mirip dengan pengalaman Michael Jordan di pertengahan karir. Rasisme ada di mana-mana. Di Eropa dengan supremasi kulit-putih yang kental, di Amerika, di Asia, di Indonesia yang mabuk mendaku diri sebagai bangsa paling santun dan ramah. Tapi tidak di Afrika.

Di 3 negara Afrika, yang saya tahu dan alami, tidak tertemukan perlakuan rasis terhadap orang kulit putih, tidak kepada Cina, tidak kepada Melayu. Mereka diterima baik. Afrika Selatan, yang terluka sangat justru oleh rasisme di tanah sendiri, sembuh dengan cepat. Bukan kebencian terhadap ras tertentu yang merebak di Afrika melainkan wasangka dari agama satu terhadap agama lain.

Cina sekarang runtang-runtung di seantero bumi Afrika, berbisnis dengan segenap mahluk di sana. Mereka datang dan tinggal sebagai sahabat, tidak seperti bule Amerika dan Eropa yang kerjanya cuma mengeksploitasi.

Kalau Cina berbisnis, Israel tak mau ketinggalan. Mereka berteknologi. Irigasi dan aliran air ke rumah-rumah di Ethiopia bahkan dikendalikan dari Tel Aviv. Ini bukan seperti penjajahan udara oleh Singapura terhadap Indonesia. Air adalah masalah sensitif di Afrika. Perang suku atau antar wilayah sering meledak karena persoalan air. Agar aman, Ethiopia membiarkan air dikendalikan Tel Aviv. Gak ada lagi yang berebutan. Lagipula, itu teknologi Israel. Ethiopia sekarang lebih subur daripada Indonesia, yang tiap malam sibuk ngeloco sambil bernyanyi “orang bilang tanah kita tanah surga”.

Zimbabwe, Gabon, Pantai Gading, dan beberapa negara lain berdiri dalam antrian untuk dikunjungi insinyur pertanian dan peternakan dari tanah Yahudi.

Tidak ada kebencian terhadap Bule, Cina, India, atau Yahudi, di Afrika. Aliran modal masuk deras. Bule-bule keparat, yang dulu kerjanya mengutili Afrika, sekarang mikir seribu kali: ada Cina masuk berdagang dengan hati. Bayangkan, 4 kekuatan utama dunia datang berduyun-duyun. Mereka bawa modal, kecerdasan, teknologi, dan cinta. 20 tahun lagi Afrika bakal jadi kawasan utama dunia.

Saya tersenyum pahit. Entah siapa yang nanti mengumpat monyet ketika striker Pepe bertanding di piala dunia 2030 di stadion Allianz, misalnya.

Pertanyaan saya kepada kita tentang Papua: ada yang pernah diperlakukan secara rasistikal di bumi Papua? Tujuh teman saya punya cerita indah. Dua bule bersumpah-mampus bakal balik ke sana. “Di Papua saya menemukan hati,” kata salah seorang dari mereka.

Lima pribumi berucap senada. Mereka bahkan menjalin persahabatan dengan para tetua Papua. Catatan saya juga menunjukkan belum ada terekam peristiwa rasis dari sana.

Lalu kenapa Pogba, Drogba, Cole, Wright, dan sekarang sekian belas mahasiswa Papua harus menderita karena dipanggil monyet oleh sebagian dari kita? Apa dasarnya? Apa alasannya?

Di sebuah hotel di Jakarta saya berpapasan dengan serombongan calon model. Mereka sedang mengikuti semacam ajang pencarian bakat. Beberapa gadis dari Papua menyita perhatian. Saya hampiri, mengajak mereka ngobrol. Ada yang dari Sorong, Waimena, Jayapura, Biak, dan Fakfak. Mereka cantik. Otentik. Tubuhnya indah. Kulitnya coklat tua mengilat. Duh, alangkah ranum. Sayang tak ada satu dari mereka yang berusia 22 tahun sebagai alasan buat saya untuk menjadi Ahok. Mereka berusia belasan, pemilik masa depan.

Mereka akan mengubah wajah Papua. Whitney Houston adalah masa lalu. Beyonce segera berlalu. Melesak dan meledak gadis-gadis bernama Infun, Manseren, Sareni di panggung duniak kelak.

Tahun lalu, saat berbincang tentang kecantikan Indonesia, seorang teman berusul agar kita merumuskanulang kecantikan Indonesia. Cantik bukan lagi sawo matang, katanya. Bukan juga kuning langsat. Tapi hitam Papua, kuping melar perempuan Dayak. Itu harus mengemuka dalam paparan produk.

Saatnya kita enyahkan dominasi sawo matang dan kuning langsat dari bumi Indonesia. Sehabis itu ruang terbuka bagi kemolekan tubuh gadis Papua mengenakan swimsuit eksotik di atas kulit legamnya, bersanding tubuh gempal lelaki Papua mengenakan celana dalam yang dirancang mirip koteka.

Itulah Indonesia baru. Saat mahluk hitam merajai arena, kita lalu terlihat lucu.

Semoga tak satu dari mereka menyebut kita “babi” atau “kambing”

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Wednesday, August 21, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: