Momong

ilustrasi

Oleh : Siti Maryamah

Suatu pagi, aku nonton berita tv. Ini beberapa isinya. 

Bayi 11 bulan, tewas tenggelam di ember. Neneknya yang menjaga, tertidur pulas, sampai tak tahu sang cucu merangkak, nyempung ke ember cat 25 kg yang ciut dan dalam itu. Ibunya tengah bekerja di pabrik, sehingga menitipkan sang anak pada si nenek. Owh. 

Batita lolos dari pengawasan orang tuanya lalu tersedak buah rambutan yang masih ada bijinya. Si balita meninggal karena jalan napas tersumbat buah rambutan. Owh 

Seorang batita yang tengah disambi ibunya memasak, naik ke meja tv yang berroda. Si meja melaju, si batita jatuh tertimpa tv 21 inch. Ia menderita cedera kepala hebat, sang ibu histeris. Owh 

Tak terbayang dalamnya penyesalan mereka semua. Tak terbayang. Seandainya. Kalau saja. Coba tadi. Ah, semua sudah terlambat. Hanya iman kuat pada takdirlah yang bisa menjadi obat. 

Tentu saja banyak kasus lain yang serupa. Banyak sekali kasus kelalaian orang tua yang mencelakakan anak. Tanpa sengaja. Akan ada berderet owh, simbol masygul tak berdaya. Begitu dekat bahaya dengan bayi dan balita.

A moment of neglect, a lifetime of regret. Hiks. 

Momong bayi itu emang bukan perkara sederhana. Sungguh ia adalah olahraga dan olah jiwa.

Fisik prima jelas perlu buat aneka rupa. Menggendong. Menggandeng. Mengikuti kesana kemari. Mengantisipasi gerakan tak terduga si bayi. Mengejar-ngejar kemana kaki mungil itu berlari. Anything. Whatever.

Semua itu butuh dan akhirnya menempa, fisik jadi kuat. Tepatnya dikuat-kuatkan. Pekerjaan seberat itu diberikan pada nenek-nenek. Duh, kasihan dong. 

Jadi momong bayi itu bukan baby sitting, tapi life guarding. Menjaga nyawa.

Momong juga adalah olah jiwa.

Mengubur segala kerumitan nun di kedalaman. Berkompromi dengan segala kekacauan yang tak tertangani. Mengunci segala keki jauh di dasar hati. Karena galau si ibu konon bisa tertangkap radar si bayi, membuatnya gelisah, lalu menggelisahkan sang ibu.

Tidak mudah menghadirkan jiwa saat pikiran sedang fokus ke tiadanya duit belanja dan pedasnya sindiran mertua. Sulit menghadirkan hati saat di kepala terngiang-ngiang cicilan kredit panci dan aneka tagihan bulanan yang semakin bengkak di masa pandemi. Sulit mendamaikan batin saat kepala panas karena gelut onlen. Gak mudah tetap tenang saat gunungan cucian piring dan pakaian, bahan masakan, dan setrikaan melambai-lambai. Mengantri sentuhan.

Sulit pula fokus momong saat di kepala berkelebat cara bikin paragraf berima yang sinkronnya tiada tara. Iya ini curhat. 

Tapi betapapun sulitnya, segala kerumitan itu harus dikubur dalam-dalam. Mengubur semua dalam-dalam itulah kerjaan yang tak tampak tapi sangat melelahkan. Lahir batin. Jiwa raga.

Tapi begitulah momong adanya. Olah jiwa. Sebenar-benarnya mengolah situasi dan kondisi jiwa, demi menjaga nyawa. Nyawa si bayi, batita dan balita.

Shortly, jangan meremehkan momong bayi.

Ia adalah pekerjaan yang memerlukan kualifikasi tenaga kuli, hati peri, kesabaran nabi, kelincahan kurcaci, tangan gurita, dan mata philips. Terus terang, terang terus. 

Every choice has its price.

Menjaga keselamatan si bayi, memang ada harganya. Rumah berantakan dan aneka kekacauan lainnya, itu harga yang murah untuk terjaganya sebuah nyawa. Bayar dan nikmatilah saja.

Happy life guarding, Moms! 

Sumber : Status Facebook Siti Maryamah

Saturday, June 27, 2020 - 20:00
Kategori Rubrik: