Momentum Selamatkan Negeri

Oleh: Dimas Priyanto
Kita layak bersyukur bahwa banyak anak negeri yang menunjukkan cinta NKRI. Terbongkarnya kasus data Telkomsel tak lepas dari peran "hacker putih" sehingga aparat hukum tak bisa lain cepat menangkap pelaku.
Perlahan terus terkuak, aliran dana dari Mr X untuk HH demi mendapatkan data dari tenaga outsrouching itu . Angkanya ratusan juta. Pastilah ini bukan permainan kecil hanya demi satu nama aktifis. HH selaku pelaksana proyek mulai gentar.
Beda dengan penampilannya selama ini yang penuh percaya diri, provokatif, mendongakkan kepala dan bicara dengan nada tinggi, lewat di pesan di twitter langsung ciut. Mengajak ketemuan pada pengungkap aibnya - ingin "bicara baik baik". Menjalin pengertian. Seperti tikus kesiram air.

 

Kita belum tahu persis siapa bandar di belakangnya. Apakah keluarga yang selama ini biasa menjamunya makan makan atau keluarga yang lain lagi.
Calo politik seperti dia biasanya tak cuma satu majikannya. Sejauh menguntungkan, order dari mana pun diterima.
Di zaman perang proxy - perang jarak jauh - menggunakan pihak dan tangan lain - pengatur perang ada di belakang layar. Ada di negeri jauh. Operator lapangan lah yang pasang tampang.
SEJARAH kita mencatat, negara asing sudah campur tangan ingin menguasai Indonesia sejak PRRI di Sumatra Barat dan Permesta di Sulawesi Utara (1957-58). Menyusul, kejatuhan Bung Karno (1965), mengangkat Suharto dan menjadikannya boneka selama 32 tahun (1965-1998) - hingga kerusuhan rasial di Ambon (1999 - 2000) di era Reformasi.
Dan terus membuat rusuh di sini setiap kali kepentingannya terganggu - hingga kini - lewat kaki tangannya. Menggunakan pola proxy.
Sementara ini, di dalam negeri, mereka sedang panen - "ngunduh wohing pakarti" (memetik buah yang ditanamnya.pen.) - lewat pandemi Corona dan kerusuhan rasial di seantero negeri.
Dunia "mensyukuri" atas "karma" dari mereka yang biasa mengaduk aduk, mengorak arik, negara lain. Berlaku hukum 'tabur tuai'.
Mereka menciptakan Taliban dan Mujahidin untuk mengusir Soviet dan memporandakan Afganistan dan Pakistan. Lalu membunuh Osama bin Laden untuk menghapus jejak kotornya
Wikileaks mengungkap, sejumlah negara di Timur Tengah mendanai ISIS dan menghancurkan Irak, Libya, Suriah dan Yaman. Lalu ISIS kemudian dihancurkan juga.
Dan Indonesia adalah target berikutnya dengan meggunakan kelompok Islam radikal untuk memecah belah NKRI.
Kini isu "kebangkitan PKI" sebagai lagu lama era 1965 hingga 1998 digaungkan lagi - mencoba untuk mengulang sukses, menyingkirkan lawan politik, dan kembali mendapat konsesi mengeduk hasil bumi, kekayaan negeri. Dari Aceh hingga Papua.
Isu hantu "PKI" dan "kebangkitan Islam" adalah senjata yang masih efektif untuk mencekoki anak anak lugu milenial yang kurang bacaan dan pemahaman sejarah global - yang mudah dicekoki paham ustadz abal abal di Youtube.
NU - Muhamadiyah adalah kelompok Islam "lama" dan nasionalis PNI menjadi pihak yang paling dirugikan oleh ulah PKI.
Tapi HTI, Salafi Wahabi dan Ikhwanul Muslimin muncul menjadi "Islam baru" yang kini memanfatkannya mengatas-namakan Islam: pura membela Islam dan membela Pancasila.
Mereka berdalih, "Kami hanya ingin menegakan hukum Islam, kami tidak menjajah, kami tidak menguasai ekonomi dan kami tidak kong kalikong dan korupsi ..." kata mereka, sembari menuding China dn pengusaha Tionghoa yang banyak ambil untung di Tanah Air kita selama ini.
Mereka menyembunyikan "racun" yang mereka sebarkan untuk menghancurkan dan menggerogoti bangsa dan NKRI : cuci otak dan alam pikiran generasi muda kita!
Generasi muda Indonesia sudah tercengekeram dan alam pikirannya sejak masih belia, sudah dijajah - bahkan kini sejak masih balita untuk menjadi sektarian. Anti lagu "Balonku", mewaspadai pohon cemara, membenci kelompok lain yang tak sealiran.
Penangkapan tenaga "outsourching" Telkomsel di Wnokromo Jawa Jawatimur, yang membeberkan data nasabah perusahaannya, tak semata mata bermotif uang (komersial) melainkan ideologi - menjadi contoh bagaimana anak muda kita sudah dikuasai paham radikal asing.
Yang baru terungkap baru aktifis. Bagaimana kalau nomor anggota Densus 88 dan keluarganya - juga dibeberkan dan diberikan kepada para teroris?
KARENA itu - kita berharap BIN, Lemhanas, Kapolri, TNI, Kominfo dan BUMN menggunakan momentum skandal Telkomsel untuk "bersih bersih". Tak semata mata urusan data nomor pelanggan yang tersebar.
Ada ideologi membahayakan mencengkeram generasi muda kita di balik ini. Islam radikal trans-nasional, ala Mujahidin, Taliban dan ISIS sudah menyusup di semua instansi dan institusi pendidikan kita. Dan sebagian dari mereka sudah terang terangan anti pemerintah dan anti kelompok lain. Sektarianistik.
Para penjaga negara, yang selama ini teriak "Hidup NKRI", "Hidup Pancasila" dan "Membela Merah Putih" - tunggu apa lagi?!
Mau nunggu konflik horisontal, warga kita bertikai dan terusir dari negeri sendiri?!
Nunggu NKRI berkobar dan luluh lantak, seperti Libya, Irak, Suriah dan Yaman?

 

Monday, July 13, 2020 - 21:30
Kategori Rubrik: