Momentum Menjaga 'Jakarta Baru'

Oleh :Jeffri Geovanie

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta putaran pertama telah resmi diumumkan hasilnya, sekaligus menjadi penanda dimulainya pilkada putaran kedua. Apa arti pilkada putaran kedua bagi warga Jakarta? Yang paling penting adalah sebagai momentum untuk menjaga “Jakarta Baru”.

Sulit disangkal bahwa “Jakarta Baru” yang pada Pilkada DKI Jakarta 2012 dikampanyekan pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) sudah mulai tampak jelas wujudnya saat ini. Sejumlah pemukiman kumuh sudah disulap menjadi taman kota yang indah. Wilayah-wilayah yang rawan banjir juga sudah tidak separah dulu lagi.

Program normalisasi kali dan sungai di Ibu Kota yang digencarkan Ahok semakin terlihat dampaknya. Sejumlah kali yang semula dalam kondisi bau dan kotor dipenuhi sampah kini telah berubah menjadi bersih. Perubahan kondisi kali seperti ini salah satunya bisa dilihat di Kali Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sampah rumah tangga, seperti plastik, botol minuman, kasur, hingga ban yang sebelumnya memenuhi Kali Sunter sudah tidak tampak.

Kali dengan lebar sekitar delapan meter yang berada dekat Jubilee School dan berbatasan dengan wilayah Jakarta Pusat tersebut telah berubah menjadi bersih dan tidak lagi menebar aroma tak sedap. Hal yang sama terjadi di beberapa ruas kali Ciliwung yang sebelumnya semrawut penuh sampah kini menjadi relatif bersih.

Kawasan Kalijodo, Jakarta Barat, yang dulu terkenal sangat kumuh dan menjadi pusat kejahatan prostitusi sekarang berubah drastis karena telah disulap menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

Kampung Pulo, Jakarta Selatan, yang biasanya menjadi langganan banjir sekarang tidak lagi. Pemukiman padat penduduk itu biasanya terendam banjir walau tanpa ada hujan, yakni ketika debit air Ciliwung meningkat. Sekarang bebas banjir karena adanya tanggul yang dibangun di bibir Ciliwung.

Kalaupun masih ada titik-titik genangan (banjir), airnya akan cepat surut karena sistem drainase yang jauh lebih baik. Di samping itu ada “pasukan biru”, yakni para Pekerja Harian Lepas (PHL) Dinas Tata Air DKI Jakarta yang senantiasa membersihkan selokan, mengatasi penyumbatan di saluran-saluran pembuangan air, dan selalu bersiaga pada saat hujan turun untuk menanggulangi setiap genangan agar cepat surut.

Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang dulu semrawut karena para pedagang bisa dengan seenaknya menggelar lapak di pinggir-pinggir jalan, kini sudah relatif tertib. Kemacetan jalan sudah bisa sedikit teratasi.

Itu antara lain “Jakarta Baru” yang tampak di permukaan. Ada juga yang tidak tampak tapi bisa dirasakan manfaatnya seperti sistem pelayanan pemerintah yang biasanya berbelit-belit dan bisa menghabiskan biaya yang tidak sedikit, kini menjadi serba cepat dan bebas pungutan.

Apakah “Jakarta Baru” seperti ini akan terus berlanjut, ataukah akan kembali “normal” seperti Jakarta sebelumnya? Jawabannya terpulang kepada warga Jakarta sendiri. Kebebasan warga Jakarta untuk memilih adalah keniscayaan yang menjadi hak dan dilindungi undang-undang. Namun keinginan agar Jakarta tetap tampil “baru” adalah hal lain yang harus diperjuangkan setiap warganya.

Artinya, melaksanakan hak saja tidak cukup. Yang lebih penting bagaimana agar pada saat melaksanakan hak itu ada manfaat yang bisa diperoleh. Bukan manfaat jangka pendek karena politik uang, tapi manfaat jangka panjang menyangkut kelangsungan “Jakarta Baru” yang sesuai harapan.

Maka, Pilkada Jakarta 2017 putaran kedua menjadi momentum bagi warga Jakarta untuk menjaga “Jakarta Baru” dengan sejumlah syarat. Yang paling penting bagaimana agar yang terpilih merupakan pasangan calon yang memiliki komitmen untuk melaksanakan program-program yang realistis, melanjutkan program yang sudah ada dan yang tengah berjalan.

Penegasan ini penting karena sudah jamak terjadi, setiap tampil pemimpin baru akan membawa kebijakan-kebijakan baru. Tidak peduli apakah kebijakan yang baru itu lebih baik atau lebih buruk dari kebijakan-kebijakan yang ada sebelumnya. Pemimpin baru biasanya “gengsi” untuk melanjutkan kebijakan pemimpin lama.

Mari kita jaga “Jakarta Baru” dengan penuh tanggung jawab, tanpa ada paksaan, apalagi intimidasi dari pihak mana pun. Jika ada yang mengalami pemaksaan atau intimidasi, jangan segan-segan untuk melaporkannya pada pihak yang berwenang. Ikuti kata hati untuk menjaga kebaikan bersama di ibu kota.

Kemenangan sejati adalah yang diperoleh dengan cara-cara elegan. “Jakarta Baru” yang kita jaga adalah Jakarta yang bersih dan beradab, yang warganya mengalami peningkatan kesejahteraan, hidup lebih nyaman, di tengah-tengah suasana kota yang menyenangkan.**

Sumber : geotimes

Wednesday, March 22, 2017 - 11:00
Kategori Rubrik: