Moeldoko Harus Mundur dari Ketum Demokrat?

ilustrasi
Oleh : Yetti Agustien
Meminta Jend. Moeldoko mundur karena menjadi ketum PD, jelas pemasungan hak berpolitik yang tidak demokratis.
Prabowo-Gerinda, Erlangga-Golkar dsb, bisa tuh jadi mentri. Trus masalahnya apa?
Masyarakat pasti ingin iklim politik yang setabil. Setelah PD di bawah SBY-AHY terlalu genit-melow dalam berpolitik. Dikit-dikit ngajak gelut Jokowi, kemudian terisak-isak playing victim.

 
Kalau PD di bawah Moeldoko kemudian merapat ke pemerintah, bukan berarti intervesi. Nyatanya PD yang butuh Moeldoko kok.
Jadi bisa dibaca sebagai memang PD yang butuh merapat ke pemerintah.
Harus diakui bahwa demokrasi di Indonesia itu demokrasi banci. Gak jelas batasan oposisinya. PKS sendiri andai diberi pos jabatan menteri maka Insya Allah siap menjalankan tugas!

 
Walaupun di lapangan tetep menjelek-jelekkan Jokowi, model si Zhonk.
Jadi demokratisasi di Indonesia tidak bisa dipaksakan adanya oposisi. Apalagi kualitas nyinyirnya malah bikin kesal masyarakat.
Apakah kesempatan SBY-AHY untuk merebut kembali PD telah tertutup? Tidak juga.
Pas pelantikan Moeldoko, beliau bisa protes dengan nyanyi Tabir Kepalsuannya Rhoma Irama biar hadirin nangis kemudian sadar dan kembali mendukung AHY.
Sumber : Status Facebook Yetti Agustien
Sunday, March 7, 2021 - 13:15
Kategori Rubrik: