Modernisasi dan Hedonisme di Arab

ilustrasi

Oleh : Islah Bahrawi

"Negara Arab tidak lagi seperti yg anda bayangkan, seperti yg dijual oleh mereka para sales yg kearab2an"

Ketika di negeri ini para suami mulai membiasakan diri memanggil istri dg sebutan "Ummi", pasangan muda di Saudi Arabia sudah mulai akrab saling memanggil "Honey".

Ketika disini para suami sibuk membatasi aktivitas istri di luar rumah, Aseel al Hamad di Jeddah mungkin sedang "ngedrift" di tikungan pesisir Al-Balad dengan Ferrari Stradale SP90-nya. Ia wanita pertama di Saudi yg mengantongi izin untuk mengemudikan "Kuda Jingkrak" dari Italia itu.

Kita yg mati2an belajar menunggang kuda disini, orang2 di Saudi, Qatar, dan Quwait sedang dalam antrian memesan Lamborghini Aventador terbaru. Pada saatnya nanti, kita akan lebih Arab daripada orang Arab.

Kota2 masyhur tempat peradaban Arab tumbuh bukan lagi bangunan2 tua di Baghdad, Kairo atau Damaskus. Magnitude budaya Arab sekarang adalah gemerlapnya kosmopolitan Riyadh, Dubai dan Doha. Pusat2 kekuatan budaya dan pembelajaran tradisional Arab telah terpinggirkan, berganti menjadi Marks & Spencer dan Four Seasons.

Budaya Arab belum tentu budaya Islam. Tak ada satupun ulama yg memaktubkan budaya Arab dalam Rukun Islam atau Rukun Iman.

Mereka tahu, budaya adalah entitas yg terlalu ringkih terhadap gerak peradaban manusia. Pergeseran budaya di tanah Arab adalah contoh, bagaimana pola hidup bangsa Arab telah berubah cepat dari ketika minyak bumi belum dieksplorasi pada tahun 1920, dan masa sekarang setelah bergelimang uang.

Budaya, bagaimanapun adalah kreasi manusia yg sangat regional, sedang agama dirancang "rahmatan lil 'alamin", itulah bedanya.

Namun keawaman umat kadang terjebak dalam garis tipis itu. Banyak budaya Arab selalu dilekatkan dg jastifikasi agama. Ditambah aliran uang minyak yg mengalir ke negara2 berpenduduk Muslim di luar Arab, dg selipan ideologi yg menyertai, membuat budaya dianggap sebagai "paket kombo" dari semua muatannya.

Sehingga model busana pun misalnya, dianggap bagian dari anjuran agama dibanding budaya. Padahal di Arab sendiri, penduduk non-muslim juga memakai model busana yg sama.

Kita berusaha mengadaptasi budaya Arab, ketika masyarakat Arab mulai meninggalkannya - disadari atau tidak, kita sedang mengalami "prank" budaya.

Sumber : Status Facebook Islah Bahrawi

Friday, August 14, 2020 - 22:15
Kategori Rubrik: