Moderasi Islam

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Salah satu wujud moderasi dalam Islam adalah tidak berlebihan (ghuluw), khususnya terkait kepentingan publik dengan mengatas-namakan kepentingan agama perorangan.

Contoh mudahnya ketika Nabi SAW menegur Muadz bim Jabal gara-gara kelamaan mengimami shalat Isya', sampai ada satu jamaah yang keluar barisan dan shalat sendirian dengan cepat saja, terus melapor ke Rasulullah SAW.

Dan Beliau SAW pun menegur Muadz dengan kalimat :

أفتان أنت يا معاذ؟

Kira-kira maksudnya begini : Apakah kamu sudah jadi sumber fitnah ya Muadz?

Jadi Muadz kelamaan mengimami shalat berjamaah, lalu ditegur oleh Nabi SAW. Sebabnya karena Muadz mengorbankan kepentingan publik demi kepentingan pribadi, walaupun masih untuk kepentingan agama.

* * *

Padahal kalau pakai logika kita saat ini, apa sih salahnya kelamaan sedikit dalam shalat? Kan ini juga masih dalam rangka ketaatan kita kepada Allah.

Bukankah kita lagi menghadap Allah? Bukankah puncak nikmatnya ibadah justru saat lagi shalat? Dan bukankah kita harus lebih banyak mendekatkan diri pada-Nya? Bukan kah Allah harus lebih diprioritaskan ketimbang urusan keduniaan?

Lagian jamaah shalat Isya' yang diimami Muadz itu para shahabat Nabi SAW juga, masak sih kelas shahabat kok masih hitung-hitungan dalam shalat? Pakai alasan kelamaan segala.

Lagian itu kenapa sampai ada yang berhenti dan keluar dari shalat jamaah? Bukankah itu berarti munafik? Seharusnya kita buli dia habis-habisan. Setidaknya kita goblok-goblokkan atau kita tuduh liberal.

Atau kita viralkan fotonya dimana-mana sambil diceplok di jidatnya tulisan : M U N A F I K atau D A J J J A L. Soalnya dia telah kabur dari shalat jamaah, bahkan main laporkan seorang imam yang shalat dengan khusyu'.

Apa sih salahnya Muadz dalam hal ini? Toh dia hafal Quran, dia shalih, lagian semua jamaah juga terima kok, oke-oke saja. Kalau bacaan imam kepanjangan, toh masih di dalam koridor iman.

Makin panjang shalatnya imam tentu semakin besar pahalanya. Begitu logika kita zaman NOW.

Namun justru Nabi SAW tidak menyalahkan si pelapor, padahal dia keluar dari shaf dan shalat sendirian alias mufaraqah. Tapi yang disalahkan justru Muadz, sampai disamakan dengan sumber fitnah oleh Nabi SAW.

Kenapa bisa begitu?

Kuncinya moderasi Islam. Dalam hal ini ada kepentingan publik yang tercederai, meski demi shalat berjamaah. Cederanya justru ketika Muadz memperlama bacaan shalatnya. Hal ini akan memberatkan jamaah, meski mungkin yang merasakannya hanya sebagian saja.

Shalatlah sesuai dengan kemampuan orang paling lemah diantara kalian, begitu tegas Nabi SAW. Mungkin ada yang sudah tua, atau ada yang sakit, atau ada yang punya hajat dan lainnya. Ini publik area, kita tidak boleh mengambil hak orang lain, termasuk dalam durasi shalat.

Shalat Isya berjamaah di masjid adalah wilayah publik. Begitu imam memperlama bacaannya, Nabi bilang itu sumber fitnah.

Lain halnya bila shalat tahajjud yang bukan wilauah publik. Nabi SAW dalam rakaat pertama saja membaca Al-Baqarah, Ali Imran dan An-Nisa' sampai selesai. Itu 5 juz, jumlahnya lebih dari 100 halaman.

Namun tahajjud termasuk wilayah private, bukan wilayah publik. Pada dasarnya tidak ada anjuran berjamaah, walaupun kalau mau ikut tidak dilarang. Beda dengan Isya' yang amat terkait dengan kepentingan publik.

Dan Islam sangat menjaga hak-hak publik ini. Pesannya, jangan sok berislam sendirian dengan mengorbankan hak orang lain.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Friday, July 12, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: