Mobnas

ilustrasi

Oleh : Adi Tytianto

Catatan (agak) Engineer

Dulu waktu konsep mobnas timor, saya yg masih mahasiswa mencibir... apanya yang 'nasional' dr timor? Semuanya jiplak 100% dr korea?... cisss... kalau bukan karena cendana dibelakang proyek timor, pasti gak ada bunyinya sama sekali. Kira2 begitu pikir saya.

Semakin kesini, saya semakin paham konsep 'mobnas menjiplak' itu pemahaman pola pikirnya bagaimana.

Kalau mau ujug2 100% mulai dr engineering, produksi, merk, semua by sendiri 100% kemampuan sendiri, maka akan butuh uang berapa banyak? Butuh waktu berapa lama? Siapa yg mau invest sebesar itu untuk keluarkan dana riset, plus engineering, plus prototype, plus pengujian mulau dari blok engine, transmisi, komponennya, rem, ban dst..dst...

Maka, secara konsep 'menjiplak'... sekarang saya paham mobnas, motnas, atau apapun itu, yang paling penting adalah 'engineering'100% sendiri dulu.

Apa itu engineering 100%?

Bayangkan kamu jadi agen/mitra mobil toyota, lalu km mau ganti mesinnya jadi merk mazda apa boleh? Tidak lhaaa... lha sekarang kalau saya kerjasama sama merk x (anggap aja china-dongdeng)...

Kalau dengan 'elmu engineering' saya, hitung2 sana sini..kesimpulannya saya ganti engine mersi, bannya merk GT (ini merk indonesia lho), trus karpetnya bikinan lokal... dst..dst... boleh? Tentu saja jawabannya boleh... karena saya tidak menjual mobil dongdeng, saya jual merk bima, basisnya betul merk itu, tapi saya bukan dealer, bukan atpm, saya beli lisensi...

Apa yang bisa dinilai dari situ?... bahwa kerjasama dengan merk tersebut, maka secara engineering saya sudah 100% merdeka. Karena hasil mobil rakitan itu, hitungannya sudah hitungan kalkulasi-produksi saya sendiri..... jadi saya bebas pilih2 komponen yang saya mau.

Gampangnya gini, kalau saya mau bikin mobil 100% sendiri, apa iya saya harus riset aki mobil dan bikin produknya?... apa iya saya harus riset ban mobil sendiri dan bikin produknya?... nope.. tidak perlu, saya tinggal kerjasama aja sama pabrik komponen yg ada... riset, engineering, dan pabrikasi silahkan mereka.

Bisnis saya adalah bisnis pabrik mobil, bukan pabrik komponen mobil. Jadi, tantangannya adalah membuat mobil dengan komponen2 lokal, kualitas bagus, engineering bagus, dan yang tidak kalah penting, market menerima... (baca : laku).

Lalu apa langkah selanjutnya?... berdoalah dengan keras, dukunglah dengan keras, dan semoga pemerintah juga dukung dengan keras.. dengan cara apa?... yaa.. beli produknya (atau minimal..stop nyinyirlah).. karena kalau produknya laku.. maka itu perusahaan yg bikin mobil, besok2 akan mulai punya kemampuan untuk bikin komponen2 susah lainnya sendiri... disini.. di negri sendiri... dengan kemampuan engineering sendiri tentu saja.

Secara kacamata kesempatan pengembangan produk, sebetulnya fase timor dengan periode pak harto sebagai presiden adalah kesempatan emas indonesia punya mobnas, karena proteksinya lebih kencang.... presiden yg sekarang saya liatnya sih, proteksi regulasi untuk ngegas mobnas lebih ke arah 'mekanisme pasar'

.... tapi semoga memang cara ini membuat si perusahaan mobilnya lebih 'tough'... semoga dengan segmen kecil di pickup, bisa survive... dan mampu kandungan lokal 100%, dan yang paling penting... engineering 100%.

Lha kalau dulu kesempatan indonesia punya mobnas hancur karena dibelakangnya adalah cendana-korea dengan entah apa yg terjadi...

Semoga kesempatan yang kedua ini esemka-cina kesempatan mobnas indonesia jadi bisa...

#iamengineer
#vivamobnas

Sumber : Status Facebook Adi Tytianto

Monday, September 9, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: