Mobnas Esemka

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

(Mirip Mobil Cina atau Arab Gak Penting !)

Seingat saya, dulu mobil Esemka itu produk rakitan anak2 Sekolah Menengah Kejuruan, yang kalau disingkat SMK, kalau dibaca es-em-ka. Tepatnya SMKN 1 Trucuk, Klaten, Jawa Tengah.

Sempat dipakai sebagai mobil dinas Walikota Solo waktu itu, Jokowi. Cuma 2 hari karena surat2nya ndak komplit.

Para remaja itu dalam proses 'pembuatan' mobilnya dibantu dan diajari Pak Sukiyat, pemilik bengkel Kiat. Lokasi di Klaten juga. Oleh pak Sukiyat diajarkan cara membuat bodi mobil.

Mesin mobil sedan Toyota Crown dipreteli, dipasang pada bodi dan 'chasis' mirip Land Cruisher. Selain type itu, pak Kiat terinspirasi pada model mobil Prado dan Ford Everest. Makanya yang sempat dipakai Jokowi mobil type SUV (Sport Utility Vehicle). Gagah dan sangar . . .

Jadi itu cerita riwayat asal nama 'Esemka', para Pemilik Nama, ide asal bentuknya. Apakah termasuk 'Mobil Nasional' ?

Masalah 'Mobil Nasional' sudah bukan baru lagi buat kita, Indonesia. Tercatat paling tidak sudah lebih dari 10 kali.

Toyota Kijang tahun 1975, Maleo, MR 90, Bakrie Beta, Timor, Bimantara, Kancil, Gang Car, Marlip, Arina, Tawon, Komodo, . . .

Sekarang ada dalam kondisi, yang masih produksi kecil2an, mati suri, ataupun mati beneran.

Namanya 'dagang' barang Teknologi atau barang yang produksi, kuncinya cuma tiga. Bisa bikin, bisa rutin bikin, dan bisa menjual alias laku ndak. Titik.

Paling susah mana ? Nurut saya, ya bisa ndak kita menjual . . .

Barang dagangan, apapun, yang bisa dilihat mata berarti bisa dibuat. 'Kètok moto', terlihat oleh mata. Semua orang bisa bikin, tapi ndak semua orang bisa menjual.

Dulu kita tahunya televisi paling bagus merek 'Sony' Jepang. Muncul LG dan Samsung punya 'chaebol', konglomerat, Korea. Nyodok pelan2. Di toko sengaja di-jejer dengan Sony, harga dipatok lebih murah. Orang lihat, kok gambar kelihatan sama bagus tapi harga lebih murah.

Lama kelamaan TV milik sodara tua digeser punya penari Gangnam Style . . .

Mobil lain lagi. Di Indonesia mobil2 Jepang merajai dengan 'menendang' mobil2 Eropa dan atau Amerika, yang dinilai ber-bodi besar, boros BBM, dan mahal.

China lain pula, ber-ulang kali terobos pasar otomotive Indonesia, yang sampai sekarang belum kelihatan bagus hasilnya. Tapi barang2 lain, membanjiri pasar. Tidak saja Indonesia tapi nyaris rata di seluruh dunia. Murah meriah.

Tapi China memang begitu, laku dulu. Perkara 'antum' mau produk yang lebih bermutu, 'ana' bisa bikin kok. Mau baju dicuci sekali luntur, atau baju anti peluru dan nuklir tinggal pilih.

Melihat riwayat per-mobil-an Indonesia, ndak salah Jokowi tempohari berkenan menghadiri peluncuran Esemka. Dengan bangga.

Kenapa kok bangga, ya karena ada 'orang gila' yang ndak kapok lihat cerita lesu 'Mobnas', yang mau bikin dan mau jual mobil 'buatan' sendiri dan pakai merek sendiri.

Perkara definisi 'buatan sendiri' itu tepat ndak, Jokowi ndak urus. Apalagi istilah apakah itu Mobil Nasional atau bukan. Jokowi ndak rèkên.

Bayangkan saja, para konglomerat kita di bidang otomotif, pemegang merek Honda, Suzuki, Yamaha, Toyota, Mazda, Nissan, dan lain-lain, puluhan tahun cuma cukup merasa puas jadi 'tukang jahit' dan 'toko' merek2 itu.

Ndak ada yang berani sedikit 'nyêmpal', sedikit sisihkan laba, bikin pabrik otomotif sendiri dengan merek sendiri. Nyaman jadi pedagang ndak mau sedikit susah jadi pabrikan. Males, ndak mental pejuang, dan ndak nasionalis . . .

Jadi sekali lagi, inilah yang bikin Jokowi senang dan bangga. Ada yang mau 'buang' uang untuk bangun pabrik mobil.

Ndak perlu nyinyir tentang model-nya ndak mirip yang 'dulu', kok cuma model pick-up, mirip mobil china, Jokowi dipersilakan beli buat mobil kepresidenan, dan lain-lain.

Yang bikin mobil Esemka, PT Solo Manufaktur Kreasi, termasuk 'orang gila' yang punya mental pejuang dan nasionalis.

Ndak ada yang membantu dan menjamin laku. Pemerintah juga tidak. Karena bukan Mobil Nasional. Swasta murni. Tergantung pasar. Jokowi cuma merasa bangga, tapi ndak bisa paksa 'rakyat-nya' untuk beli dan punya.

Yang penting laku dan laris dulu. Model, ke-canggih-an, seratus persen komponen dalam negeri, dan lain lain, belakangan. Pasti bisa. Kita punya banyak 'orang pinter'. Dan mobil termasuk barang dagangan yang mudah dibuat. Karena barang 'ketok moto' . . .

Dan kita, yang punya 'duit lebih', mau ndak jadi 'orang gila', bermental pejuang dan nasionalis. Sedikit saja. Ndak usah ikutan bikin pabrik. Cukup sisihkan barang 100 juta-an, untuk 'bela' sesama 'Pejuang'. Untuk membeli Esemka Bima.

Yang suka nyinyir pasti ndak akan mau. Karena terbiasa kerja cuma pakai mulut. Ndak 'bondo'. Ndak modal. Bisanya cuma omong se-banyak2 suka tanpa modal, ndak ada rugi pula.

Ndak pakai modal tapi laku keras . . .

Saya ? Oooo pasti beli itu Esemka Bima ! Sesama 'pedagang' harus saling gandeng tangan. Kalau dagangan rekan laku, rantai ekonomi akan muter. Saya yang ada di salah satu titik-nya pasti kebagian . . .

Kalau bukan sekarang, kapan lagi ! Itu pesan singkat Jokowi !

Pulogebang Permai, Jakarta Timur

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Monday, September 9, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: