MKD, Agama, dan Orang Baik

Oleh: Hasanudin Abdurrakhman

Anda kecewa dengan MKD? Coba cek, apa agama orang-orang konyol berjubah merah itu? Masihkah Anda akan terus menjadikan agama sebagai dasar untuk memilih dalam pemilu nanti? Tanpa banyak berhitung, saya bisa pastikan bahwa sebagian besar mereka muslim. Jadi, masihkah Anda akan mengatakan, pokoknya pilih yang muslim?

Maka saya sarankan, pilihlah orang baik. Pilihlah orang karena dia baik, bukan karena dia muslim. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau Anda masih agak sektarian, Islam itu mayoritas di Indonesia. Kalau ada sekelompok orang baik, kita bisa pastikan bahwa sebagian besar mereka adalah orang muslim. Demikian pula, kalau ada sekelompok orang buruk, sebagian besar mereka juga muslim. Kalau tidak percaya, silakan cek ke penjara.

Jadi, kalau Anda memilih berdasarkan kebaikan calon, maka di hasilnya tetap saja akan terpilih orang-orang baik yang sebagian besarnya adalah muslim. Jangan sampai orang baik tidak terpilih hanya karena dia non-muslim. Dan jangan sampai orang buruk terpilih hanya karena dia muslim.

Kok banyak orang berharap pada MKD ya? MKD itu DPR. DPR yang itulah yang memilih Setya Novanto dkk sebagai pimpinan DPR. Apa yang mau diharapkan? Sejak kapan DPR kita menghasilkan pahlawan?

Lagipula, ini kasus apa sih? Pencatutan? Bah, sejak kapan pencatutan jadi masalah? Ada ribuan kasus pencatutan di negeri ini, cuma tidak pakai rekaman. Nah, saya justru heran kenapa pula ada yang merekam? Hello, itu Freeport lho. Kok tiba-tiba perusahaan ini dan presdirnya jadi seperti malaikat? Setahu saya perusahaan ini sudah puluhan tahun berbisnis dengan membeli sejumlah pejabat. Setya Novanto bukan yang pertama, dan pasti bukan yang terkahir pula.

Ini hanyalah lakon biasa dalam politik kita. Politikus, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, bermain kekuasaan dan uang, melibatkan perusahaan besar. Kita mau berpihak ke mana? Ke pihak manapun, kita tidak akan berdiri di pihak malaikat suci.

Setya Novanto dipastikan tidak akan tersentuh. Sama seperti tidak tersentuhnya SBY dan keluarganya. Meski nama Ibas itu sudah puluhan kali disebut dalam berbagai sidang kasus korupsi. Sama halnya dengan Megawati yang tidak tersentuh, meski berbagai kasus juga mencuatkan namanya. Bahkan Amien Rais yang mengaku terima duit korupsi dari Rokhimin juga tidak diapa-apakan kok.

Kita di dunia maya riuh rendah, gemas, jengkel. Setya dan kroninya santai menikmati makan enak dengan duit mereka.

Saya pernah gemas dengan DPR. Tapi saya sadar, gemas saya tidak akan mengubah apa-apa. Kalau mau DPR berubah, saya harus jadi anggota DPR, dan menunjukkan bahwa saya berbeda. Tapi saya kalah sebelum bertarung. Saya lihat yang harus saya hadapi adalah kekuatan besar. Apa itu? Mereka adalah para pemilih yang tidak sanggup memilih dengan benar.

Tidakkah mengherankan Anda bagaimana seseorang dengan rekam jejak seperti Setya itu bisa terpilih jadi anggota dewan? Atas dasar apa orang memilih? Jawabannya mudah: uang. Itulah realitas demokrasi kita. Masih dikendalikan oleh uang. Bahkan bukan hanya demokrasi kita. Saya kira demokrasi di manapun begitu. Tanpa uang, jangan harap jadi politikus.

Golput? Golputmu tidak akan mengubah apa-apa. Golput itu hanya menghasilkan rasa puas di dalam dirimu, seperti rasa puas saat kau memaki anggota DPR itu.

Yang harus dilakukan adalah mendorong orang baik jadi calon, dan mendorong calon baik jadi anggota. Bagaimana caranya? Buatlah gerakan. Jangan mau kalah dengan kekuatan uang. Bagaimana caranya? Itulah yang harus dipikirkan.

Apa yang mesti kita lakukan?

1. Lakukan pendidikan politik sebanyak mungkin. Pahamkan para pemilih soal pentingnya peran suara mereka, jadi jangan mau ditukar hanya dengan sekedar uang receh.

2. Dukung calon-calon yang baik. Dorong dan bantu orang-orang baik agar jadi calon. Kalau perlu, dorong agar orang bisa mencalonkan diri secara independen.

3. Pastikan calon yang kita dukung tidak menyimpang ketika terpilih. Siapkan mekanisme sanksi langsung dari rakyat, agar pengkhianat seperti itu tidak melenggang bebas.

4. Terus lakukan upaya lain yang bisa mendorong meningkatnya kualitas anggota dewan.

Ingat, dalam hal politik selama ini kita hanya sering mengeluh, tapi tidak berbuat. Keluhan tidak membuat perubahan. Hanya perbuatan nyata yang bisa.

 

(Sumber: Facebook Hasanudin Andurrakhman)

 

Tuesday, December 8, 2015 - 05:15
Kategori Rubrik: