Mitoni: Penyadaran Akan Masa Janin Manusia Mencapai Fase Kesempurnaan Bentuk

 

Oleh: P. B. Susetyo dan S.H. Dewantoro

Tradisi mitoni, yaitu syukuran saat usia kehamilan menyongsong 7 bulan, menjadi bagian dari tradisi Jawa yang terus dilestarikan hingga kini.  Termasuk oleh keluarga Presiden Joko Widodo yang baru saja menggelar upacara mitoni untuk kehamilan Selvi Ananda, istri dari putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabumi Raka.

Sebenarnya, apakah dasar dari tradisi mitoni ini?  Ternyata, sungguh unik, ada manuskrip Jawa Kuna berusia ribuan tahun yang menjelaskan, bahwa usia kehamilan 7 bulan yang setara dengan 6 x 35 hari = 210 hari, adalah saat dimana janin di dalam kandungan mencapai tahap kesempurnaan pembentukan seluruh organ tubuh.

Merujuk kepada uraian dari RM. JR. Basuki, pemegang manuskrip ini yang kini tinggal di Belanda, manuskrip Jawa Kuna yang dituliskan dalam aksara Jawa Ngawi telah ada sejak 4436 tahun sebelum Masehi.  Permulaan kemunculannya adalah di Gunung Klothok Kediri.

Di dalam bagian yang bertajuk “Kadadean Hing Karasuh Moporoso Biyung”, ternyatakan sebagai berikut:

“Banjur nalika humure jabang bayi kiyu, harep ngancik humur 210 dina: Gusti ngetokake prakelare nyampurnakke gatrane: Rambut, getih, lan daging. Lan hingkang diharani sampurnane Gusti, hanitahake jalma tumitah, deneng gatrane jabang bayi kiyu wus sampurna.

Hamerga kiyu, kanggone jalma tumitah kang wus luwih disik teka hing baka mulya kiye, kang Gusti dawuh: “Matur nuwuna, marang Gusti kang handeg panguwasa, deneng gatrane jabang bayi, kang didadekake Gusti hing karasuh maparasa biyung kiyu, wus sampurna. Lan (nenuwuna Gusti) sirnakake bebayan kanggone jabang bayi kiyu, supaya yen jabang bayi kiyu hucul saka karasuh maparasa biyung, hora nandang kasengsaran, hamerga sengkalane saka Somoro Bomo. Banjur dusana bapa lan biyunge jabang bayi kiyu, karo djopo kawilujengan.”

Arti dalam bahasa Indonesia: “Lalu ketika usia janin itu akan mencapai 210 hari (6 lapan), Gusti menunjukkan kekuasaan-Nya dengan menyempurnakan bentuk rambut, darah dan daging.  Dan yang dinamakan kesempurnaan Gusti, menjadikan manusia, pada masa ini gatra sang jabang bayi sudah sempurna.

Karena itu, bagi manusia yang telah terlebih dahulu ada di bumi ini, Gusti memberi perintah: “Berterima kasihlah kepada Gusti Yang Maha Kuasa, karena bentuk jabang bayi yang dijadikan Gusti di dalam kandungan ibu telah sempurna.  Dan mintalah kepada Gusti agar menyirnakan bahaya bagi sang jabang bayi itu, agar jika jabang bayi itu lepas dari kandungan ibu, tidak menanggung kesengsaraan akibat jeratan dari Somoro Bomo.  Lalu mandikanlah ibu dan bapaknya sang jabang bayi, sembari mengucapkan kata-kata penuh daya untuk keselamatan.”

Jadi, menurut manuskrip di atas, raga bayi pada fase ini, pada masa 7 bulan di kandungan, telah mencapai kesempurnaan bentuk.  Berbagai perangkat raga telah terbentuk, hanya tinggal menunggu kematangan.  Jika sang jabang bayi terlahir ke dunia pada fase ini, ia kemungkinan besar bisa bertahan hidup.

Proses Kejadian Manusia

Secara lebih utuh, manuskrip Jawa Kuna yang telah berusia ribuan tahun, memang telah menguraikan kronologi kejadian manusia.  Bermula dari persetubuhan antara perempuan dan laki-laki, terjadilah pertemuan antara sperma dan sel telur yang bermuara pada pembuahan.  Setelah pembuahan sempurna, terbentuklah janin atau jabang bayi.  Janin atau jabang bayi ini memiliki nyawa sekaligus membentuk kepribadian sendiri yang berbeda denga orang tuanya, termasuk ibunya.  Dan kepribadian tersendiri inilah yang disebut hulun. 

Selama di dalam kandungan, berbagai perangkat dari hulun atau sang aku ini, disiapkan secara bertahap hingga mencapai titik kesempurnaan.  Lalu, ketika bayi dilahirkan dan mulai menghirup udara, masuk dan bersenyawalah di dalam raga bayi itu pengejawantahan dari Gusti yang berjuluk Hingsun (Aku Sejati) dengan 4 kuasa yang mengiringinya (para ngabida: Notodoko, Torogono, Gokonongodo dan Gonodoko).  Hingsun kemudian bersingasana di telenging manah atau pusat hati manusia, dan 4 kuasa  Gusti yang mengiringinya bertahta dalam wadah yang telah disiapkan selama manusia berada di dalam kandungan: kulit, tulang, daging, dan darah.

Sehingga bisa dinyatakan, di dalam kandungan, telah terbentuk sang aku (hulun), tetapi sang aku tersebut belumlah memiliki kesadaran ketuhanan yang penuh sehingga belum terbentuk Hingsun  (dipadankan dengan konsep dalam tradisi Ibrani, ini adalah adam primordial).  Barulah ketika sang jabang bayi menghirup udara pertama, ia memiliki Hingsun dan menjadi manusia berkesadaran ketuhanan.   Seiring dengan perjalanan hidupnya, sang jabang bayi ini bisa memilih untuk menjadi atau tidak menjadi manusia dengan kesadaran ketuhanan yang penuh (jalma tumitah kang sampurna, dalam bahasa Ibrani disebut adam katmon).

Unsur-unsur Manusia

Manuskrip Jawa Kuna juga menjelaskan keberadaan 4 unsur di dalam diri manusia yaitu Darah Putih, Ketuban, Ari-ari, Darah Marah. Keempat unsur itu adalah representasi keberadaan unsur-unsur kosmik dan cahaya-cahaya energi kosmik yang membentuk perangkat kemanusiaan.

  1. Ketuban adalah simbol dari air, berwarna kuning, membangun eros atau hasrat akan keindahan serta menumbuhkan daya/kekuatan, atomnya adalah proton, dan membentuk karakter koleris.  Dalam pasaran Jawa, disebut Pon.
  2. Darah putih adalah simbol dari angin/udara, berwarna putih, membangun kewelasasihan dan kecenderungan spiritual di dalam diri manusia, atomnya adalah elektron, membentuk karakter plegmatis.  Dalam pasaran Jawa disebut Legi.
  3. Ari-ari, adalah simbol dari tanah, berwarna hitam, membangun dorongan ego/instink/kebutuhan, sehingga dengan dorongan ini manusia bisa bertahan hidup atau tetap bernyawa, atomnya adalah proton.  Membentuk karakter melankolis.  Dalam pasaran Jawa disebut Wage.
  4. Darah merah adalah simbol api, berwarna merah, membangun greget atau semangat, atomnya adalah elektron, membentuk karakter sanguinis.  Dalam pasaran Jawa disebut Pahing.

Sementara itu, dari segi kejiwaan dan spiritual, manuskrip Jawa Kuna juga menjelaskan keberadaan 4 realitas: Notodoko, Torogono, Gokonongodo dan Gonodoko.  Ini adalah kuasa-kuasa Gusti yang ada di dalam diri manusia, dengan rincian sebagai berikut:

  1. Notodoko bertahta pada kulit, adalah daya atau kuasa yang mempengaruhi watak atau kesadaran manusia.  Kesadaran sendiri berfungsi sebagai bagian pengambil keputusan di dalam diri manusia.  Disimbolkan oleh telunjuk, dan pintunya adalah mata.
  2. Torogono bertahta pada tulang, adalah daya atau kuasa yang mempengaruhi rasa manusia.  Rasa ini berfungsi sebagai perangkat sensor terhadap berbagai realitas yang dihadapi manusia, mulai dari yang memiliki getaran kasar hingga getaran halus.  Disimbolkan oleh jari tengah, dan pintunya adalah hidung.
  3. Gokonongodo bertahta pada daging, adalah daya atau kuasa yang mempengaruhi nalar manusia. Nalar ini berfungsi sebagai perangkat analisa dan pengolah terhadap data yang dicerap oleh rasa.  Simbolnya adalah jari manis dan pintunya adalah mulut.
  4. Gonodoko bertahta pada darah, adalah daya atau kuasa yang mempengaruhi nyawa dan kehendak manusia.  Nyawa ini adalah sumber power atau sumber daya yang memungkinkan seluruh perangkat kemanusiaan bisa bekerja. Simbolnya adalah jari kelingking dan pintunya adalah telinga.

Sungguh menarik, ternyata ribuan tahun silam di Jawa telah ada penyadaran demikian tinggi yang tertulis mengenai keberadaan manusia.

 

Wednesday, December 30, 2015 - 12:30
Kategori Rubrik: