Misi Balas Dendam Setya Novanto

 

Oleh: Ricky Vinando

Konflik kepengurusan internal partai Golkar makin merucing, hal ini terjadi akibat perombakan atau perubahan komposisi yang dilakukan oleh Setya Novanto. Setelah mendapat posisi yang strategis oleh Aburizal Bakrie, yakni sebagai Ketua Fraksi Golkar di DPR, Setya Novanto dengan gampangnya merombak sekaligus mendepak orang-orang yang tak berpihak padanya saat ia tersudut oleh kasus 'Papa Minta Saham'.

Bahkan Setya Novanto kini makin tidak terbendung dan makin berkuasa untuk menentukan siapa-siapa saja elite Golkar yang bisa menempati beberapa posisi strategis Golkar di DPR. Bahkan perubahan komposisi Golkar di DPR makin menunjukan bahwa saat ini Setya Novanto masih superpower. Hal ini ditandai dengan sikap yang tidak malu sedikit pun untuk menandatangani sendiri surat penunjukannya sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR. Tentu manuver Setya Novanto mendepak sejumlah elite Golkar yang selama ini bercokol di DPR pun akan makin memperuncing konflik internal Golkar, makin memperdalam konflik internal Golkar, dan makin menyulitkan posisi penyelamatan partai Golkar.

Manuver yang dilakukan oleh Setya Novanto ini akan mempersulit proses penyelamatan Partai Golkar yang kini terpecah menjadi dua, kubu Munas Bali dan kubu Munas Ancol. Meskipun dua kubu Golkar ini secara hukum memang tidak sah karena ketiadaan legalitas dari pemerintah berupa SK, hal tersebut tetap saja tak mengurungkan semangat Setya Novanto untuk terus menguatkan posisinya di DPR. Bahkan Setya Novanto pun memposisikan elite Golkar yang getol membelanya pada saat sidang etik di Mahkamah Kehormatan Dewan. Salah satunya yakni Kahar Muzakir sebagai Ketua Badan Anggaran DPR.

Tentu penempatan dan pemosisian Kahar Muzakir yang sangat kontroversial sebagai Ketua Badan Anggaran DPR perlu dicermati lebih mendalam terkait posisi yang sangat strategis tersebut, mengingat salah satu agenda terbesar Badan Anggaran DPR pun sudah dekat, yakni pembahasan RAPBN-P 2016 yang akan dibahas pada Mei 2016. Tentu hal ini yang menjadi salah satu alasan mengapa banyak pihak mempertanyakan sikap tendesius Setya Novanto yang mengganti beberapa posisi strategis di DPR dengan orang-orangnya sendiri.

Namun yang jelas penempatan Kahar Muzakir sebagai Ketua Badan Anggaran DPR oleh Setya Novanto ini makin membuktikan bahwa, Setya Novanto memang orang paling berkuasa dan paling kuat di Indonesia. Terbukti bahwa, Aburuzal Bakrie pun terpaksa mengikuti pola permainan Setya Novanto yang justru makin mempercepat proses lenyapnya Golkar dari kancah perpolitikan tanah air. Tak hanya sebagai orang paling berkuasa dan paling kuat, tetapi penempatan Kahar Muzakir sebagai Ketua Bada Anggaran ini sangat kental akan kepentingan politik Setya Novanto yang mulai menunjukan sikap balas dendamnya terhadap Jokowi.

Melalui Kahar Muzakir nantinya Setya Novanto bebas akan memainkan Jokowi soal anggaran, termasuk upaya menghambat pembahasan RAPBN-P 2016 yang rencannya akan dibahas pada Mei mendatang. Terlebih lagi saat ini istana sudah memberikan sinyal kepada Kejaksaan Agung  bahwa untuk memeriksa Setya Novanto bisa dilakukan tanpa harus menunggu izin dari Jokowi. Maka menjadi harga mati bagi Serya Novanto untuk menempatkan orang-orang yang paling getol membelanya pada saat sidang etik berlangsung beberapa waktu yang lalu. Misinya adalah menjegal semua program Jokowi lantaran semua program tersebut akan melewati Badan Anggaran yang kini sudah diplot Kahar Muzakir melalui surat yang sudah ditandatangani Setya Novanto sendiri.

Misi memasang Kahar Muzakir jelas adalah sebagai misi balas dendam Setya Novanto kepada Jokowi, dan melalui Kahar Muzakir pula nanti dengan mudahnya Setya Novanto mempermainkan anggaran-anggaran yang ada di DPR, Yang tak lain tujuannya adalah untuk melakukan berbagai cara agar Setya dapat lolos dari jeratan hukum di Kejaksaan Agung. Bahkan road show pimpinan KPK ke Kejaksaan Agung pun makin membuat posisi Setya Novanto terancam.

Kini Kejaksaan Agung sudah sepakat untuk bekerjasama dengan KPK untuk menuntaskan kasus 'Papa Minta Saham’, mengingat kewenangan yang dimiliki oleh KPK leboh besar ketimbang Kejaksaan Agung, yakni KPK bisa tanpa izin Presiden pun bisa langsung memanggil Setya untuk diperiksa terkait permufakatan jahat yang dilakukannya terkait perpanjangan kontrak karya PT. Freeport Indonesia. Misi lain dari Setya Novanto melalui Kahar Muzakir adalah untuk menghambat sejumlah program dari Jokowi.

Meskipun sejumlah elite Golkar di DPR dirotasi dengan loyalis Novanto adalah tidak sah secara hukum (karena saat ini dua Golkar secara hukum sedang berada dalam keadaan a quo), tapi misinya menjegal anggaran untuk realisasi program Jokowi pun kian terwujud melalui kaki-tangannya, Kahar Muzakir, yang dianggap paling getol dan paling setia membelanya selama proses sidang etik di Mahkamah Kehormatan Dewan berlangsung. Dan keberhasilan Setya Novanto mengunci sejumlah posisi strategis di DPR makin menunjukkan bahwa, Setya Novanto kini lebih dominan menguasai permainan Golkar ketimbang Aburizal Bakrie yang terpaksa hanya menuruti permainan mematikan Setya Novanto. Yang dimaksud dengan mematikan disini adalah Golkar semakin sok berkuasa.

Sebenarnya, Golkar sudah berisitirahat dengan tenang. Golkar sungguh telah beristirahat untuk selama-lamanya. Bahkan Golkar akan segera lenyap akibat hantaman badai besar yang menerjang habis pohon beringin yang kini hanya menyisakan ranting-ranting dan akar yang hanya masih tertancap sedikit. Selain itu, tampak jelas bahwa Setya Novanto sudah mengambilalih tampuk kekuasaan Golkar dari tangan Aburizal Bakrie.

Seperti tak bernyali ketika berhadapan dengan Setya Novanto, mau tidak mau, suka tidak suka, senang tidak senang, Aburizal Bakrie tampak lebih tunduk demi dana segar. Hal ini ditandai dengan lemahnya Aburizal Bakrie ketika Novanto meminta dan memaksa agar Golkar di parlemen dirotasi dengan loyalis-loyalisnya.

 

Sumber: kompasiana

 

Thursday, January 7, 2016 - 13:00
Kategori Rubrik: