Misal Satu Kecamatan di Jakarta Lockdown, Rumit

ilustrasi

Oleh : Alto Luger

Ok, buat pendukung lockdown coba kita bikin analisis sederhana saja dengan memakai sample 1 kecamatan di DKI Jakarta, yaitu kecamatan Menteng

Dari peta ini secara sederhana terlihat ada 25 akses masuk/keluar Kecamatan Menteng. Kalau masing-masing akses dijaga 4 personil saja, maka dibutuhkan 100 personil, alias 1 SSK. Ini belum menghitung kebutuhan menjaga pergerakan orang di dalam kecamatan Menteng.

1 SSK ini hanya untuk menjaga akses. Mereka ini disebut dengan Static Guards alias orang-orang yang menjaga Check Points. Mereka gak patroli.

Tentu para Static Guards ini pun butuh dukungan logistik dan angkutan, butuh dukungan komunikasi, butuh dukungan medis, dan butuh dukungan intelijen. Kita asumsikan saja bahwa minimum mereka butuh 25 personil pendukung.

Jadi untuk menutup akses keluar/masuk ke Menteng, paling sedikit dibutuhkan 125 orang. Itu hanya akses untuk 1 kecamatan di Jakarta yang hanya memiliki minimum 25 akses.

Terus, bagaimana dengan menjaga agar warga Jakarta melakukan social distancing dengan tidak keluar rumah untuk urusan yang gak penting? Ya harus mendirikan juga Check Points (CP) di dalam sebuah kecamatan sebagai deteren.

Ok, untuk Kecamatan Menteng, kita asumsikan butuh 15 CP di Choking Points, dengan masing-masing dijaga 4 orang. Itu berarti ada 60 orang Static Guards.

Kemudian patroli. Kita asumsikan bahwa ada 4 shift dengan masing-masing 5 orang. Itu berarti untuk tim patroli, dibutuhkan 20 orang.

Jadi, secara sederhana, bisa diasumsikan bahwa untuk melakukan lockdown Kecamatan Menteng, dibutuhkan sekitar 200 personil.

Nah, Jakarta itu punya 44 Kecamatan, dengan kepadatan dan jumlah akses masuk keluar yang berbeda-beda. Ok, kita asumsikan bahwa masing-masing punya karakteristik yang sama.

Jadi untuk mengamankan akses masuk/keluar di 44 kecamatan di Jakarta itu membutuhkan 8,800 personil minimum. Ini sangat minimum. Kenapa? Karena saat Pilpres kemaren, di Jakarta ada 100,000 personil gabungan TNI dan Polri.

Jadi, secara logistik, HAMPIR MUSTAHIL untuk melakukan Lockdown DKI Jakarta.

Nah, berikutnya adalah soal ANCAMAN. Kalau masalah kerusuhan sosial, atau konflik, maka aparat keamanan punya taktik dan senjata untuk melindungi diri mereka. Tapi ini lain. Aparat keamanan tidak lebih imun dari anda dan beta.

Menambah orang ke kota yang sudah ada kasus virus, itu kontradiktori dari 'Social distancing' itu sendiri. Aparat keamanan itu bukan 'expendables'. Keselamatan mereka dan perlindungan diri terhadap virus juga perlu dipikirkan.

Terakhir, apakah hanya Jakarta yang perlu di lockdown? Bagaimana dengan kota-kota lain dengan tingkat resiko penyebaran Covid-19 yang sama dengan Jakarta?

BTW, jumlah polisi di Indonesia itu hanya 470an ribu, sedangkan jumlah tentara di Indonesia hanya sekitar 440an ribu. Kalau semua dipakai untuk melakukan lockdown? Siapa yang menjaga pertahanan Indonesia? Siapa yang melakukan fungsi-fungsi keamanan di daerahmu?

Jadi, Say NO to Lockdown!

#WhySoSerious

Sumber : Status facebook Alto Luger

Wednesday, March 18, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: