Misa untuk Mbah Maimoen

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Sehari setelah wafat Mbah Mun, Kyai Haji Maimun Zubair, diadakan misa mengenang kebaikannya di Paroki Santo Yosef, Mojokerto, Jawa Timur. Gereja Katolik sejak 1933 di Jalan Pemuda (tak jauh dari warung rujak cingur-e Asmuni Srimulat), yang pada malam Natal 2000 pernah mendapat teror bom.

Apa yang terjadi di kota bekas berdirinya Majapahit itu, mungkin bukan satu-satunya. Mungkin beberapa gereja, juga vihara, mengadakan ritual penghormatan untuk Mbah Mun. Meski ulama kharismatik ini terjun ke politik praktis, dalam pandangan agama dia seorang pluralis. Sesuatu yang langka, di tengah banyaknya yang ngaku ulama tapi yang sebenarnya hanya jualan agama, untuk legitimasi diri dan mengintimidasi liyan.

 

Tak banyak tokoh seperti Mbah Mun ini. Kebanyakan model peramu politik dengan agama sebagai jalan gelap, bukannya jalan terang. Mau disebutkan namanya? Nggak ah, nanti dikira pencemaran nama baik. Kan fitnah namanya, karena orang-orang itu blas nggak punya nama baik. Ada yang ngaku bagian dari partai allah, tapi kelakuan kayak setan. Ada yang katanya berangkat umroh, padahal lemes gara-gara chatting sex.

Mohon jangan salahkah rakyat jelata, jika beragamanya kurang bermutu. Pastikan itu semua ulah mereka yang ngaku ngerti agama, padahal bokis. Karena dengan gampang orang bisa ngaku ustadz atau ulama. Tak ada larangan tukang organ tunggal atau bakul ayam tiba-tiba ngaku dapat pencerahan. Lha wong ormas macam Majelis Ulama Indonesia saja, punya wasekjen yang tuitannya tak mencerminkan keulamaan, kecuali sebagai kampret yang dikutuk tak bisa move on.

Beragama tapi kok tidak agamis? Itu mencerminkan yang dilakoni dengan agama barulah sebatas atribut. Misal pakai jilbab, atau kathok cingkrang, pakai krudung nggak karu-karuan kayak Neno, tapi kelakuan tidak mengimplementasikan keber-agama-annya. Mangkanya, “Aja gampang ngapirke liyan, wong kowe dhewe durung mesthi mlebu suwarga,” demikian ngendika Mbah Mun. Jangan mudah mengkafirkan liyan, karena engkau sendiri belum tentu masuk sorga.

Jika agama tak bisa jadi pencerahan, itulah namanya kiamat. “Zaman akhir iku senengane padha ngatur Pangeran. Yaiku padha akeh-akehan istighotsahan, kaya-kaya demo marang Pangeran,” ujar Mbah Mun dalam salah satu pengajiannya. Kiamat itu, ketika kita suka ngatur-atur Tuhan. Gede-gedean ngadain istighotsah (doa bersama), seolah demo pada Tuhan. Ingat bukan, kayak ajakan Amien Rais, berdoa bersama, ngajak malaikat segala, biar tuhan malu, kalau nggak ngabulkan? Terus siapa yang bakal menyembah, seperti ancam Neno?

Wong beragama itu kadang sederhana, seperti nasehat Mbah Mun pula, "Jika engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah, barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akhirat." Jangan karena pilihan capres beda, apalagi capresmu kalah, terus mengkafirkan yang menang.

FOTO: Misa Mbah Mun di Gereja Paroki Santo Yosef, Mojokerto.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Wednesday, August 7, 2019 - 09:15
Kategori Rubrik: