Mimpi Begadang

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Salah satu pelajaran paling penting yang terlupakan dari kita adalah tentang keberagaman ilmu-ilmu keislaman. Jangankan dalam masalah fiqih yang kental sisi ijtihadnya, bahkan dalam perkara yang paling dasar seperti Al-Quran dan ilmu tauhid, ternyata kita kerap menemukan keberagaman.

Dalam ilmu Al-Quran, sejak awal kita sudah menemukan keberagaman para ulama dalam menghitung jumlah ayat Al-Quran. Ada banyak versinya, mulai dari yang 6.666 hingga yang 6.236 ayat.

Uniknya keberagaman ini bukan terjadi di kelas orang-orang awam yang tidak berilmu, tetapi justru terjadinya di level pakar yang kelasnya paling atas.

Terus ketika bicara turunnya ayat Al-Quran, rupanya mana yang di masa Mekkah dan Madinah, tidak seluruhnya di sepakati. Ada yang disepakati turun di masa Mekkah atau masa Madinah, namun yang tidak disepakati pun juga banyak.

Belum lagi kalau kita bicara ayat yang dinasakh, kita akan bertemu lagi dengan keberagaman, antara yang mengatakan jumlah ayat yang dinasakh itu mencapai 246-an ayat seperti Ibnul Jauzi, namun ada juga Ad-Dahlawi yang mengatakan hanya 5 ayat saja.

Kalau kita masuk ke bab ilmu qiraah, maka keberagaman itu semakin menjadi-jadi, sehingga sampai satu ayat yang sama, bahkan satu kata yang sama, tapi dibaca dengan bunyi (wajah) yang berbeda-beda, sehingga sampai berbeda artinya. Akibatnya jelas akan mengubah hukum yang terkandung di dalamnya.

Perbedaan qiroaat ini bukan hanya melahirkan perbedaan bacaan, tapi juga perbedaan penulisan (rasm) di dalam mushaf.

Lebih parah lagi kalau kita menyelami ilmu tafsir lebih dalam, meski sama-sama tafsir bil ma'tsur, namun narasinya berbeda-beda juga. Padahal sumbernya sama-sama dari Rasulullah SAW dengan jalur periwayatan yang shahih.

Kalau semua keragaman itu terjadi di masa konflik kepentingan seperti masa sekarang, mungkin kita bisa maklum. Namanya juga orang punya kepentingan.

Tapi ternyata keberagaman itu original, asli, memang sejak dari turunnya di masa kenabian sudah tidak seragam. Perbedaan qiraat di masa kenabian itu pernah nyaris hampir memakan korban.

Umar bin Al-Khattab pernah hampir saja menghajar Hisyam bin Hakim, gara-gara Hisyam dianggapnya telah menyalahi Al-Quran. Padahal setelah dikonfrontir langsung kepada NAbi SAW, ternyata bacaan Hisyam justru asli bersumber dari mulut Nabi SAW langsung.

Fakta-fakta seperti ini memang nyaris tidak sampai informasinya ke kalangan muslim dadakan, yang baru saja belajar agama Islam secara masbuk. Buat para masbuker itu, ilmu keislaman itu jadi terlalu hitam putih, berhubung RAM-nya terbatas, kapasitas HD terlalu kecil tidak muat menampung khazanah keilmuan Islam yang terlalu luas. Akibatnya over heating, dan lama-lama jadi hang. Kudu direstart, atau seharusnya diupgrade sekalian.

Namanya juga orang masbuk, pastinya terlambat dalam segalanya, termasuk terlambat dalam mengakses ilmu-ilmu keislaman dengan segala keberagamannya.

Apa yang semua orang sudah tahu, eh dia ketinggalan informasi, malah tidak tahu dan linglung.

Itu yang saya maksud dengan kualitas keilmuannya seperti orang masbuk. Tahu masbuk nggak?

Itu lho, yang datangnya shalat berjamaah terlambat. Datang sih dan ikut jamaah, tapi datangnya telat. Namanya masbuk.

Orang-orang sudah hampir selesai shalat berjamaah, sudah pada duduk tahiyat akhir, tinggal mengucapkan salam doang, eh dia malah baru datang dan lagi bertakbiratul ihram.

Ente kemane aje, Tong kok telat ikut shalat berjamaah? Ketiduran?

Jangan-jangan pas lagi tidur tadi, dia mimpi begadang. Sehingga pas shubuh yang seharusnya bangun, dia merasa harus tidur lagi, karena merasa habis begadang.

Hihih, mimpi kok mimpi begadang?

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Tuesday, August 4, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: