Mimbar Si Monyet Kayu

Ilustrasi

Oleh : Dongeng Katulistiwa

Cerita kali ini tentang kelanjutan tarian liar si Monyet tua bangka bau tanah bersertifikat ngibul. 
Keadaan belantara nusantara yang masih hangat²nya membahas perdebatan Fiksi vs Fiktif, tiba² saja si Monyet kayu lapuk tanpa ampun membuat tarian setan. Tentu tarian tersebut ditujukan untuk pemerintahan Sang Lurah Kerbau Logam.

Memang sifat dasarnya si Monyet dengki ini selalu saja mencari panggungnya sendiri, dan kebetulan kesempatan itu ia dapatkan tepat ditempat ibadah yang dihadiri oleh gerombolan yang seirama dengan tabuhan gendang si Monyet tua bangka tersebut.

Diatas mimbar, setelah selesai menunaikan ibadahnya, si Monyet biang kerok ini menyanyikan lagu dengan judul "PARTAI PENDUKUNG LURAH KERBAU LOGAM SETAN", tentu juga diiringi dengan tarian kesurupan iblis lupa daratan.

Entah apa yang ada dalam benak dan pikiran si Monyet tak tahu diri tersebut. Bahkan tempat sakral yang seharusnya menjadi tempat perenungan, pujian syukur dan segala hal baik yang ditujukan kepada Sang Khalik, dengan begitu sadis dan tega²nya si Monyet uzur itu memfitnah disertai ujaran kasar penuh kebencian terhadap apa yang tidak disukainya.

Ujaran kebencian dengan menyebut "SETAN" sebagai ikon model pujaannya itupun ditujukan bukan hanya untuk sang Lurah semata, namun juga ditujukan pada seluruh partai pendukung sang Lurah Kerbau Logam.
Artinya, si Monyet lapuk dengan segala kebodohannya telah memfitnah hampir seluruh isi penghuni rimba raya nusantara.

Jika si Monyet lapuk tuak ini sedang mabuk akibat nenggak minuman oplosan, mungkin akan dianggap wajar. Akan tetapi, tarian dan nyanyian tersebut, dilakukan dengan kesadaran tinggi. Mengingat latar belakang pendidikan begelar profesor jebolan universitas hutan amazon, tak mungkin jika si Monyet peyot itu sedang ngelindur.

Si Monyet bertabiat nakal dengan segala sifat iri dengkinya ini mungkin sedang gamang, sebab panggung kontroversinya dibajak oleh provesor imitasi yang sedang heboh²nya bernyanyi "KITAB FIKSI". Maka si Monyet renta inipun tak mau begitu saja kalah oleh provesor abal² yang tak jelas asal usulnya itu, dan untuk mengembalikan panggung kontroversinya kembali, ia manfaatkan tempat ibadah untuk memuja iblis dengan umpatan setan.
Yang terjadi kemudian adalah panggung kontroversi kembali ketempat asalnya yaitu si Monyet tua renta nan aduhai itu sendiri.

Mengamati gerak gerik si Monyet biang keladi menari ini memang sangat menarik, apalagi jika tariannya itu diiringi tabuhan kebencian. Namun sayangnya sang Lurah Kerbau Logam enggan memberikan sepeda untuk merespon si Monyet kerdil itu. 
Andai saja si Monyet uzur tidak sekedar menari, namun bisa menjawab lima nama² ikan, tentu saja sang Lurah Kerbau Logam dengan senang hati memberi sepeda gratis, agar penampilan si Monyet tua keladi lebih atraktif, mempesona dan menghibur tentunya.

DK

Sumber : Postingan Fanspage Dongeng Katulistiwa

Tuesday, April 17, 2018 - 13:00
Kategori Rubrik: