Mewaspadai Perang Proxy

Oleh : Awan Kurniawan

Sun Tzu, ahli perang legendaris, mengatakan untuk memenangkan sebuah pertempuran maka kita harus mengenal siapa musuh kita dan mengenal diri kita sendiri. Dewasa ini, proses mengenal “musuh kita” menjadi sangat sulit. Apa pasal? Karena dua pihak yang bermusuhan tidak benar-benar saling berhadapan. Satu pihak bisa memakai pihak ketiga untuk berperang melawan musuhnya, perang yang muncul karena "SKENARIO" pihak ketiga. Perang jenis ini disebut dengan Perang Proxy atau Proxy War.

Dan jenis perang inilah saat ini yang mengancam Indonesia. Ada pihak-pihak yang berusaha “memerangi” Indonesia menggunakan pihak ketiga. Cara ini beda tipis dengan startegi devide et impera yang dulu digunakan Belanda saat menjajah Indonesia. Dampaknya hampir sama, Indonesia menjadi lemah dan akhirnya mudah dikuasai. Motifnya juga hampir sama seperti di masa kolonial, ya ekonomi (penguasaan sumber daya alam)

Ada banyak contoh bahwa perang proxy sedang dilancarkan terhadap Indonesia. Beberapa di antaranya dikemukakan oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Gatot Nurmantyo. Dalam sebuah acara di Universitas Dipenogoro beberapa waktu lalu, Jenderal Gatot mengkonfirmasi bahwa saat ini Indonesia sedang menghadapi proxy war.

“Contoh yang paling jelas dari proxy war adalah lepasnya Timor Timur dari Indonesia (tahun 1999). Ada apa di balik upaya melepaskan Timor Timur dari Indonesia? Ternyata ada yang menginginkan ladang minyak Greater Sunrise di Celah Timur. Sebuah buku tentang isu itu ditulis oleh orang Australia yang menjadi penasihat (mantan Presiden Timor Leste dan mantan pemimpin pemberontak Fretilin) Xanana Gusmao,” kata Gatot seperti dilansir oleh Thejakartapost.com

Untuk diketahui, kini ladang minyak Greater Sunrise dikuasai oleh perusahaan migas asal Australia, Woodside Petroleum. Jadi jelas ya kalau merujuk pada pemaknaan proxy war, musuh kita adalah Australia dan ia menggunakan pihak ketiga, yaitu Fretilin untuk memerangi Indonesia. Australia mana berani bertindak sendiri kan, dia pasti menadapat restu dari Amerika Serikat (AS) dan Inggris.

Proxy war harus dilawan. Tidak ada pilihan lain. Kita tentu tidak mau di bodoh - bodohi dan ditipu terus. Tidak bisa tidak, seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda, harus pintar dan selalu berpikir logis, memiliki kesadaran akan bahaya yang mengancam. Cukup sudah nenek moyang kita dulu yang “diadu domba” oleh pihak asing!

Pendidikan menjadi kunci. Kecintaan terhadap bangsa dan negara juga mesti terus dipupuk. Seperti kata Sun Tzu, kita harus mengenali musuh kita. Terlebih lagi kita juga harus mengenal diri kita sendiri. Dan itu hanya bisa dilakukan jika kita terdidik.

Musuh memang sulit ditundukkan dengan berbagai strategi konspirasi super liciknya. Namun, bukan berarti kita tidak mampu melawannya **

Sumber : facebook Awan Kurniawan

Saturday, July 15, 2017 - 14:00
Kategori Rubrik: