Mewaspadai Invasi ISIS ke Indonesia

 

Oleh: Denny Siregar

Laporan Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj bahwa ISIS akan meng-invasi Indonesia di tahun 2017, memang tidak bisa dianggap enteng.

Banyaknya warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS di Suriah, dan kembalinya mereka ke negara ini adalah sesuatu yang dikhawatirkan. Sel-sel pendukung mereka juga sudah siap di sini, hanya mereka sekarang hibernasi menunggu sinyal yang tepat.

Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia adalah wilayah yang cocok sebagai satelit ISIS di Asean. Dengan menguasai Indonesia, maka ISIS akan mudah mengontrol ASEAN.

Indonesia sebenarnya sudah dikurung oleh 13 pangkalan militer AS.

“Sama seperti saat Irak akan digempur melalui persiapan Operation of Enduring Freedom, di mana saat ini Indonesia sama juga 'sudah terkurung' seperti Irak, oleh pangkalan-pangkalan AS yang berada di Christmas Island, Cocos Island, Darwin, Guam, Philippina, Malaysia, Singapore, Vietnam hingga kepulauan Andaman dan Nicobar beserta sejumlah tempat lainnya.” ucap Connie Rahakundini Bakrie, pengamat Pertahanan dan Militer dari Universitas Indonesia.

Dan cara AS masuk untuk menguasai wilayah Indonesia, lebih mirip dengan yang mereka lakukan di Suriah daripada di Irak. Indonesia akan dibuat chaos dulu dengan isu sektarian seperti Islam-Kristen, Sunni-Syiah, Islam-Hindu utk Bali dan juga isu politik pro dan kontra Presiden. Selain itu gerakan separatis untuk memerdekakan wilayahnya masing-masing akan didanai dan diperkuat.

Fanatisme-fanatisme terhadap golongan, komunitas, bendera, dll sedang dibangun melalui media sosial. Ketika fanatisme itu sudah mencapai titik didihnya, baru dibenturkan.

Sesudah terbentur, masuklah ISIS dengan nama yang berbeda, sama seperti di bentuknya FSA dan Jabhat al-Nushra di Suriah. Dan disini, di Indonesia, banyak sekali organisasi radikal Islam yang berkembang. Mereka akan memanaskan chaos di wilayah-wilayah, biasanya dimulai dari perbatasan seperti di Sumatera, Kalimantan dan Papua.

Kondisi-kondisi chaos itu akan membakar wilayah perbatasan dan terus masuk ke tengah, ke kota-kota. Jawa akan jadi sasaran akhir mereka karena biasanya pertahanan terkuat ada di sekitar ibukota negara.

Ketika chaos itu, masuklah AS dan sekutunya, biasanya melalui NATO. Alasan mereka ingin membantu Indonesia menangani terorisme, padahal sebenarnya mereka malah memperkuat terorisme dengan mengirimkan suplai militer. Persis seperti di Suriah.

Penolakan Indonesia terhadap aliansi militer Saudi untuk memberantas terorisme sebenarnya bukan tidak mempunyai dampak. Saudi dan aliansinya akan semakin memperparah situasi di Indonesia. Itu seperti seseorang yang bilang, "rumah lu bisa kebakaran", trus dia melempar api ke rumah dan berkata, "bener kan, rumah lu kebakaran? Lu ga mau gabung ma kita orang sih."

Saudi jelas kecewa berat pada Indonesia karena tujuan dia membangun aliansi adalah memperkuat pengaruhnya di Timur Tengah. Dan yang mereka anggap 'teroris' adalah Iran dan Yaman.

Jadi, Indonesia yang awalnya non-blok sulit untuk tidak mengambil kaki di satu blok; apakah blok AS-Saudi dan koalisi mereka, atau blok Rusia-China dan koalisi mereka. Karena ketika sendirian tidak punya teman maka akan mudah sekali diterkam.

Tulisan ini bukan untuk membuat takut, tapi supaya kita waspada terutama untuk yang tinggal di perbatasan. Siap-siap menerima benturan yang sangat keras.

Lebih aman memang bergabung dengan NU dan Muhammadiyah untuk yang muslim karena kedua organisasi besar ini sudah teruji nasionalisme mereka daripada organisasi-organisasi yang baru tumbuh bak cendawan.

Saya sudah merasakan panasnya api Suriah di Indonesia seperti panasnya air kopi di dalam cangkir. Siap untuk diseruput.

 

Sumber: dennysiregar.com

Saturday, January 16, 2016 - 15:15
Kategori Rubrik: