Mewaspadai Indonesia dari Jakarta

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Gemuruhnya suasana Jakarta pada bulan-bulan ini, banjir kiriman, tuntutan janji kampanye, anomali tindakan dan rencana ASU dalam menepati janjinya, hal-hal yg dilakukan menabrak apa yg pernah dilakukan Ahok. Bahkan dana pembangunan LRT dipenggal, mereka lebih memilih menaikkan anggaran timnya dari 2m ke 28m, dll serta mengesahkan APBD 77 T tapi sdh tekor duluan 2.5 T.

Rencana kerja dan implementasi yg harus bukan seperti Ahok jd kelihatan dungu, sampai rumah susun jd rumah berlapis, trotoar mau dijadikan jalan kend roda 2, pikiran kekanak2an ini dimulai dari saat kampanye dan cara2 utk bisa menang, shg jadi gubernurnya ngawur.

 

 

Sepasang gubernur paling celaka sepanjang sejarah Jkt ini tentunya tidak terlepas dari dukungan PS dan JK, kita tidak perlu sungkan utk mengatakan bhw dukungan tanpa arahan kebaikan apalagi hanya utk sebuah kekuasaan, kt semua akan banyak menerima penyesalan yg tak berkesudahan, dan sosok PS dan JK sbg negarawan harusnya tdk bertindak demikian, krn sebuah kerusakan tatanan sosial kemanusiaan akan meninggalkan luka menganga. Apalagi ada unsur sengaja utk sebuah bangsa, ongkosnya akan mahal tak terkira.

Masih terngiang bgmn saat kampanye berlangsung, ada setingan demo berduyun2, Ahok dinistakan dipaksakan dgn tuduhan penistaan agama yg tiba2 saja ada, dan memaksanya masuk penjara. Politik memang luar biasa, nmn rencana tak bermoral akan membangun akhlak nakal dari orang2 yg mengaku berakal, tapi kenyataannya dangkal.

Pak PS dan JK, dengan segala rasa hormat tak terhingga bhw bapaklah diantara putra bangsa yg punya prestasi ikut membangun negeri, aura presiden ada pd Bapak berdua walau blm pernah jd no 1, dan pak JK sdh kali kedua jd org no 2, hal itu bkn tiba2 ada kl bukan Tuhan menghendakinya, utk itu kami titipkan negeri ini kpd Bapak berdua agar selalu dijaga, andai Pak Jokowi masih kami kehendaki utk melanjutkan kerja baiknya bapak berdua bisa memberi arahan sebaik2nya, bilapun Bapak berdua merasa bisa menggantinya pakailah cara2 yg tidak saling membuat luka, krn pertikaian elit diatas akan melukakan kami dikelas bawah, dan hal itu bkn saja menyakitkan tp sekaligus men gerikan. Bila bukan bapak berdua yg maju utk pemilihan carilah orang yg berkapasitas jagoan bkn picisan, shg kelak kami mengenang bapak sbg negarawan, bkn orang yg punya kepentingan cuma mengatur utk tujuan kekuasaan apa lagi perniagaan.

Ah..begitu takutnya rasa itu datang, harusnya tidak akan begitu, apalagi kami tau bpak berdua bkn type pengganggu, bapak adalah bapak bangsa, penjaga rakyat yg setia. Namun izinkan kami tetap waspada krn bapak tlh memilih orang yg salah utk Jakarta, jangan pula orang yg salah utk Indonesia. Hormat kami utk bapak berdua, tapi izinkan kami bersama Jokowi sekali lagi agar kerja yg sdg berjalan tidak terhenti, biarlah mangkrak ckp sekali jgn jadi dua kali. Terima kasih Pak PS dan JK, Bapak tlh menginspirasi, walau bukan pilih kami, smg bapak selalu sehat dan khusnul khatimah.

# Indonesia belajar dari Jakarta.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Tuesday, November 21, 2017 - 20:00
Kategori Rubrik: