Mewaspadai Gerakan Delegitimasi Konstitusi

ilustrasi

Oleh : Alim

Upaya delegitimasi terhadap hukum dan lembaga negara yang tampak baru-baru ini bagi saya sekadar riak-riak dari sebuah arus besar yang lebih berbahaya. Saya sebut lebih berbahaya karena memang tujuannya mengancam eksistensi NKRI dan Pancasila.

Lebih berbahaya lagi karena arus itu tidak lagi datang dari luar, tapi sudah eksis dalam ruang-ruang interstitial masyarakat, lembaga pendidikan, bahkan lembaga negara/kepemerintahan, baik masih barupa ide maupun sudah berbentuk gerakan.

Semakin berbahaya karena arus tersebut menggunakan selimut agama sebagai kamuflase sehingga siapapun yang melawan akan dicap sebagai melawan agama.

Ide yang dibangun, bahwa negara ini negara sekuler, berhukum pada hukum selain hukum Allah, Thoghut! Sama dengan ide ibnu Muljam yang menuduh para Shabat Nabi sebagai kafir karena telah membuat hukum selain hukum Allah, yang kemudian ide itu diaktualisasikan dengan membunuh Sahabat Ali.

Padahal, negeri ini dibangun dan diperjuangkan oleh para ulama pendahulu kita sebagai sebuah negeri dan negara yang kemudian disebut sebagai Dar al-Silmi dan merupakan Dar al'ahdi wa al syahadah.

Dari dialog-dialog para mantan napi terorisme (napiter) yang saya intip, ide ini tidak pernah mati dari benak mereka. Yang berubah dari mereka setelah menjalani hukuman dan rehabilitasi adalah aktualisi dalam berinteraksi sosial. Tapi, bara ide itu masih eksis dalam benak mereka yang sewaktu-waktu, dengan picuan tertentu, bisa membesar dan membakar.

Agaknya rakyat Indonesia bersama penyelenggara negara masih punya pekerjaan besar untuk terus mempertahankan NKRI dan Pancasila sebagai warisan leluhur dan sebagai wahana hidup bersama.

Sumber : Status Facebook Alim

Wednesday, May 29, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: