Metodologi Ilmiah dan Kerancuan Berpikir

ilustrasi

Oleh : Mila Anasanti

Kenyataan seorang profesor sekaligus rektor kampus Islam menyarankan 'assalaamu'alaykum' diganti 'Salam Pancasila', seolah yang terakhir kedudukannya lebih tinggi. Bahkan menyatakan hukum tertinggi itu ijma' bukan Alqur'an dan Assunnah.

Bagaimana bisa seorang profesor tidak paham metodologi? Justru ijma' menyatakan al-qur'an dan as-sunnah adalah sumber hukum tertinggi!

Namun apa karena gelar 'professor' univ. Islam maka langsung dipercaya ucapannya?

Tentu tidak,

Karena menyelisihi ijma'.
 

Demikian juga pertanyaan: "apa ahli rangka pesawat tidak boleh bicara kesehatan?"

TIDAK BOLEH JIKA MENYELISIHI KESEPAKATAN AHLI KESEHATAN DI SELURUH DUNIA.

Itu sebabnya saya jelaskan kemiripan metodologi antara kedudukan dalil tertinggi yang berderajat mutawatir, diriwayatkan banyak orang dengan meta-analysis yang diteliti banyak orang sebagai dasar tertinggi dari riset kedokteran.

Kesepakatan umum telah lama menjadi metodologi ilmiah para ulama untuk mengukur kebenaran.

Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun ijma’ (kesepatan ulama kaum muslimin) itu benar adanya. Karena umat ini walhamdulillah tidaklah mungkin bersatu dalam kesesatan. Sebagaimana Allah telah menyifatinya dalam Al-Kitab dan As-Sunnah.” [1]
.

MAKA PENDAPAT YANG 'NYEMPIL' ATAU MENYELISIHI KESEPAKATAN yang sudah ada (baik dari sisi tafsir maupun kesehatan) SUDAH SEPATUTNYA TIDAK BOLEH DIIKUTI, tidak perduli siapapun yang mengucapkan.

Jangankan seseorang yang pernah belajar rangka pesawat (pernah belajar b̶u̶k̶a̶n̶ ̶b̶e̶r̶a̶r̶t̶i̶ ̶a̶h̶l̶i̶ ̶y̶a̶, karena suami sayapun sama dengan founder PAZ lulusan S1 rangka pesawat, tapi kalau ditanya ilmunya, jangankan ahli, dia malah heran dulu bisa lulus). Bahkan sekelas dokter, profesor, atau menteri kesehatanpun jika bicara melanggar kesepakatan ahli kesehatan di seluruh dunia, ya harus dikritisi dan diluruskan. Contohnya teguran Ikatan Dokter Indonesia (IDI) kepada Bapak menkes karena melanggar EBM:

https://bisnis.tempo.co/…/dokter-terawan-jadi-menteri-keseh…

BEGITU JUGA PERNYATAAN DOKTER TIDAK BOLEH BICARA MASALAH AGAMA. INI MENUNJUKKAN YANG BERKATA SAMA SEKALI TIDAK PAHAM METODOLOGI ILMIAH DAN ATURAN MENYAMPAIKAN ILMU.

Selama dokter tersebut hanya sekedar mengutip atau merefer para ulama dan tidak menentang tafsir para ulama, ya tidak masalah.

Lain cerita kalau 'mencetuskan tafsir baru', 'inspirasi baru berdasar al-qur'an', menyelisihi tafsir para ulama. Sudah bisa dipastikan salah dibanding benarnya. Ini kaidah:

من قال في القرآن برأيه فأصاب فقد أخطأ

“barang siapa siapa yang berkata tentang Al Qur’an sebatas dengan opininya, lalu kebetulan ia benar, maka ia tetap salah” [2].

وَمَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka” [3].

.

Demikian pula SIAPAPUN YANG MENCETUSKAN 'TEORI BARU', MENENTANG KEBENARAN UMUM YANG DISEPAKATI, tidak perduli apapun gelarnya, maka HARUS SIAP MEMBUKTIKAN DENGAN DIUJI OLEH PARA AHLI DI BIDANGNYA, umumnya lewat lembaga formal (penelitian atau sekolah resmi di universitas). Sehingga pendapat yang 'nyempil' jika teruji dan terbukti bisa menjadi kesepakatan umum. Itulah kebenaran.
.

Jika mencetuskan teori/terobosan baru (bahasa kerennya 'scientific breakthrough') tapi tidak teruji, sudah begitu tidak sesuai bidang dan menentang penelitian yang sudah disepakati, ya ibarat ngajak ke gurun pakai pakaian selam. Sesat menyesatkan. Sudah sepatutnya otak logis anda skeptik bukan malah terpesona.

Gimana mau membahas qiyas, kalau ilmu mantiq dasar tidak menguasai?

Saya pribadi bukan tipe orang yang suka membawa gelar sebagai justifikasi kebenaran ketika berbicara sesuatu. Sedapat mungkin tulisan selalu disertakan referensi.

Agar apa? Agar apa yang saya tulis BUKAN PENDAPAT PRIBADI SEMATA, tetapi BUKTI SHAHIH DARI HASIL PENELITIAN MAUPUN DALIL. Pendapat pribadi saya tidak ada artinya.

Referensi:

1. Majmu’ah Al-Fatawa, 19: 177
2. HR. Tirmidzi no. 2952. Hadits ini diperselisihkan statusnya, dihasankan oleh sebagian ulama, didhaifkan oleh yang lain.Syaikh Ibnu Baz dalam Fawaid Ilmiyah min Durus Baziyah (8/111) mengatakan: “mengenai derajat hadits ini ada perselisihan yang ringan, namun maknanya benar”
3. (HR. Tirmidzi no. 2951. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Sumber : Status facebook Mila Anasanti

Friday, February 28, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: