Metode Mengkritisi Kekeliruan Lewat Tulisan Itu Tradisi Para Ulama

ilustrasi

Oleh : Mila Anasanti

Tabayyun dulu donk!

Jangan ghibah, jangan menjatuhkan di depan umum, kalau gak suka dan memang hoax ya biarin saja!

Kalau mau menasehati datangi beliau langsung dll.

Begini ya, dalam setiap tulisan, saya berusaha TIDAK PERNAH menyebut nama dan fokus saya adalah kekeliruan metodenya.

Saya sedeang tidak mengkritisi pribadinya, missal istri beliau ada berapa, apa beliau main layangan, terus putus, dll, dsb.

***

Tradisi mengkritisi lewat tulisan sudah menjadi tradisi ulama terdahulu.

Apa iya anda main percaya hadits dari Nabi ﷺ padahal anda tidak pernah melihat Nabi ﷺ bersabda? apa iya anda harus tabayyun dulu ke Nabi ﷺ? Pakai mesin waktu doraemon donk?

Ada sih saya pernah disuruh tabayyun, suruh datang langsung, dibayarin tiket pesawat dan akomodasi katanya. Taunya ZONK!

Itulah makanya kita diserukan IQRA' jauh sebelum turunnnya perintah dari ayat-ayat yang lain. Karena metode verifikasi itu ya teladannya dari para ulama, bisa dikerjakan lewat tulisan.

Begitu juga EBM Kedokteran bisa dilihat level kekuatan EBM dari jurnal ilmiah. Setiap jurnal ilmiah sudah pasti diverifikasi, bahkan disidang oleh para professor, direview bisa berbulan-bulan hingga tahunan, sering malah ditolak. Istilahnya ‘peer reviewed’. Dan kritik ini tidak perlu ketemu langsung! Kesalahan di bidang kesehatan, diluruskan oleh orang yang bergerak di bidang kesehatan. Dan setiap jurnal ilmiah ini bisa dicari di database ini:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/

Masalahnya pengobatan ala JSR, PAZ itu ada gak dalilnya? ada jurnal ilmiahnya? TIDAK ADA.

Metode peer reviewed lewat tulisan seperti ini sudah menjadi tradirisi para ulama jaman dahulu yang saling mengkritisi jika ada kekeliruan.

Adalah Imam Ibnu Hajar Al Asqalani (773 H) yang merupakan tokoh paling utama dalam ilmu kritik hadits baik tahqiq maupun takhrij. Karyanya mencapai ratusan judul mencakup pembahasan isi hadits atau syarah, studi sanad, dan penghukuman terhadap kualitas hadits seperti shahih dan dhaif. Dari sekian karyanya, dari sekian tulisannya, kitabnya yang terkenal di dunia Islam yaitu bulughul maram.

Kitab ini banyak diajarkan di pesantren-pesantren nusantara dan dihafal isinya oleh banyak pelajar, mengkompilasikan hampir 1600 hadits yang dibagi dalam bab-bab fiqh. Hadits-hadits yang dimuat diambil dari rujukan yang lebih luas dan lebih detil dari kitab kompilasi hadits sejenis semisal Umdatul Ahkam karya Imam Abdul Ghani Al Maqdisi yang hanya mengkompilasi dari dua kitab hadits shahih, Bukhari dan Muslim.

Imam Ibnu Hajar merangkum dalam kitab ini dari sumber-sumber utama pendahulunya seperti Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa'i, Sunan Ibnu Majah, dan Musnad Ahmad dan selainnya. Dalam pengantarnya, beliau memberikan istilah tersendiri yang menjadi ikutan setelahnya terhadap pengelompokan kitab hadits, semisal jika dikatakan diriwayatkan oleh sab’ah (tujuh) maksudnya hadits yang dikutip diriwayatkan oleh ke tujuh imam diatas. Jika disebut diriwayatkan oleh sittah (enam) maksudnya dengan mengecualikan Imam Ahmad. Jika disebut diriwayatkan oleh khamsah (lima) maksudnya dikecualikan Bukhari-Muslim, dst.

Namun meskipun Ibnu Hajar adalah seseorang pioneer dalam mengkritisi hadits, bahkan selevel beliau ada masa juga terkadang salah sebut dan dikritik oleh ulama setelahnya LEWAT TULISAN. Misalnya Bulughul Maram cetakan darul alamiyah cet. 2011 yang ditahqiq Syaikh Muhammad Hamid Al Faqi tahun 1346 H.

Tahqiq oleh Syaikh Muhammad Hamid Al Faqi misalnya menyebutkan sejumlah kekeliruan atau waham yang dilakukan Imam Ibnu Hajar. Diantaranya ialah hadits berikut:

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الْلَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ الْلَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
وَعِنْدَ الْأَرْبَعَةِ: ( أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ )

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika kulit binatang telah disamak maka ia menjadi suci." Diriwayatkan oleh Muslim. Menurut riwayat Imam Empat: Kulit binatang apapun yang telah disamak (ia menjadi suci).

Pada bagian ini Al-Hafizh Ibnu Hajar keliru dengan perkataannya “Menurut riwayat Imam Empat”, karena sesungguhnya redaksi Abu Dawud sama dengan redaksi Muslim.

Dari takhrij terhadap ribuan hadits di kitab ini, terdapat kurang dari 50 waham. Meliputi kekeliruan seperti contoh diatas atau dalam penempatan hukum hadits oleh imam tirmidzi atau imam ibnu khuzaimah, dll.

Waham ini mungkin terjadi karena penulisan dilakukan tidak melihat dari rujukan kitab satu per satu, tetapi Imam Ibnu Hajar menulis kitabnya mengandalkan hafalan lebih dari 6 kitab hadits (kutubus sittah). Maa syaa Allaah!

Apa iya terus anda menuduh Syaikh Hamid al Faqi ghibah, tidak tabayyun dll dst?

Bahkan, ilmu memeriksa keshahihan suatu berita dengan mengkritisi langsung, punya cabang ilmu khusus dalam musthalah hadits, namanya Al-Jarh wa At-Ta'dil. Yaitu ilmu yang menerangkan tentang cacat para perawi dan tentang penta'dilannya (memandang lurus para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus untuk menerima atau menolak riwayat mereka.

Al-Jarh wa At-Ta'dil adalah sebuah metode yang dipakai para ulama Ahlus Sunnah untuk menjaga kemurnian ajaran Islam. Termasuk mengkritisi para perawi yang bermasalah.
Maka dari itu, Imam Bukhari sangat teliti dalam memilih hadits dan memilih perawi hadits. Beliau tidak mau menerima riwayat hadits dari orang yang pernah berbohong. Walaupun kebohongan itu ditujukan pada binatang.

Suatu ketika Imam Bukhari bertemu dengan ulama perawi hadits di suatu kota. Ulama tersebut memiliki seekor kuda. Pada satu kesempatan, ulama tersebut membawa ember sambil menggiring kudanya agar kuda itu berdiri mengikuti arahannya karena kuda mengira embernya berisi makanan. Padahal kosong.

Langsung Imam Bukhari tidak mau meriwayatkan hadits dari beliau lagi. Alasannya karena ulama tersebut membohongi kuda. Bagi Imam Bukhari kebohongannya tidak layak sehingga hadits darinya tidak bisa diterima walaupun yang diriwayatkan bisa jadi benar.

Nah apalagi hoax yang marak di dunia kesehatan. Tidak ada penelitian dan jurnal ilmiahnya, tidak ada yang ‘mensidang’ penelitiannya, tidak ada peer reviewed? Dan berpotensi membahayakan orang jika diterapkan?

Imam Bukhari menunjukkan ke kita untuk berhati-hati dalam menerima ilmu.

Coba perhatikan contoh aplikasi ilmu al-jarh wa at-ta'dil ini:
---------
Hadis ini tidak benar, sementara dalam sanadnya terdapat 2 perawi pendusta. Status palsu hadis ini disebabkan keberadaan salah satu dari mereka.

[1] Ishaq bin Najih, yang kata Imam Ahmad: “Manusia paling pendusta.” Sementara Yahya bin Main berkomentar: “Terkenal suka berdusta dan memalsukan hadis.” Kata Imam al-Fallas: “Dia memalsukan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terang-terangan.”
[2] Utsman bin Abdillah, yang kata Ibnu Hibban, “Memalsukan hadits atas nama perawi.” (al-Maudhu’at, 3/144)

Karena itu, para ulama menegaskan bahwa hadits ini palsu.
-----------------

Apa iya Imam Ahmad sedang ghibah, tidak tabayyun dll dalam hal ini?

Jaman dahulu, berbohong atas nama Rasulullah shallaahu 'alaihi wassallaam itu konsekuensinya ditandain namanya sebagai pendusta selama hampir 1500 tahun, seluruh hadits yang diriwayatkannya otomatis tertolak sekalipun mungkin dalam sanad ada perawi lainnya terpercaya di tsabaqah setelahnya. Padahal hadits palsu yang beredar itu isinya banyak yang baik, 'mengiming-imingi' pahala dari suatu amalan secara berlebihan.
.
Apa dengan begini anda akan menuduh Imam Bukhari, Imam Ahmad, Ibnu Hibban rahimahumullah sedang ghibah atau nyinyir pada perawi-perawi yang dikritisi itu? Dan menyuruh biarkan saja ada hadits palsu toh isinya baik?

Biarkan saja ada orang menyebarkan hoax?

Sumber : Status Facebook Mila Anasanti

 
Wednesday, January 15, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: