Metode Ilmiah Dan Klaim Atas Realita

ilustrasi

Oleh : Nino Aditomo

"Ini fakta ya kalau Prabowo menang di 22 provinsi, jadi 22/34 sama dengan 64.7%."

Klaim-klaim seperti ini tampaknya konyol dan mudah dibantah. Dan memang demikian. Menang di 22 dari 34 provinsi tidak sama dengan memenangkan 22/34 suara pemilih. Ini mengacaukan antara dua satuan yang berbeda (suara pemilih dan provinsi).

Tapi bagi saya ini lebih dari sekedar kekonyolan. Ini adalah klaim tentang akses eksklusif pada realitas. Kalau kita tanya, kok tahu bahwa menang di 22 provinsi? Jawabannya akan mengacu pada survei internal “real count” yang proses pemerolehannya tidak bisa dan tidak perlu dijelaskan. Kita cukup diminta percaya saja pada klaim tersebut karena mereka punya akses pada realitas hakiki (“real count”), yang tentu lebih sahih daripada hitung cepat yang hanya perkiraan itu.

Jadi, klaim konyol ini tak kurang dari klaim atas akses eksklusif pada realitas hakiki tentang hitungan suara. Klaim yang sungguh sombong, namun dibungkus dengan pernyataan sok humble “ini hanya hitungan matematika kasar saja.” Padahal kalau dinalar sedikit, bagaimana mungkin ada yang sudah bisa memastikan jumlah suara dari 800 ribu TPS? Proses rekap suara di KPU pun baru sampai sekian persen!

Tapi begitulah. Metode ilmiah menghasilkan pengetahuan yang selalu mengandung ketidakpastian, dan karena itu rentan dibantah oleh mereka yang dirugikannya. Dalam kasus climate change, kesalahan prediksi dari model-model matematis (tentang kenaikan suhu atau permukaan air laut, misalnya) digunakan untuk mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tak bisa dipercaya. Dalam kasus pemilu, survei ilmiah dibenturkan dengan kenyataan “real count”.

Bagi pendidik, ini menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup membuat siswa bisa menerapkan prosedur-prosedur ilmiah. Yang justru sangat penting ditumbuhkan adalah nalar epistemik yang melandasi pembentukan pengetahuan dan keyakinan. Pemahaman tentang ketidakpastian pengetahuan dan eror dalam proses penelitian adalah bagian penting dari nalar tersebut. Metode ilmiah memang tak bisa memberi akses pada keseluruhan realitas. Tapi itu sudah jauh lebih baik daripada klaim kebenaran yang tidak jelas landasan empiris dan metodologinya.

Sumber : Status Facebook Nino Aditomo

Sunday, April 21, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: