Meteromini Ngepot

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Sewaktu SMU saya langganan naik Metromini. Sebetulnya sejak SMP juga kalau ke sekolah naik Metromini. 

Serunya, trayek Metromini yang saya lewati bukan melulu di jalan utama. Bahkan masuk ke jalan-jalan sempit. Yang hanya cukup dua mobil dengan kondisi mepet. 

 

Bagi yang tinggal di Jakarta pusat, pasti tahu Metromini P05, jurusan Senen-Mardani-Percetakan Negara. 

Setiap kali naik, jika ada kursi kosong saya suka duduk di depan. Bukan apa-apa. Saya suka kalau ada Metromini kompetitor mendekat. Supir dan kernet pasti naik adrenalinnya. Langsung bergaya bak pembalap.

Bayangkan Metromini yang badannya besar itu harus ngepot di tengah jalan yang gak terlalu lebar. Meliuk. Saling mencari celah untuk menyusul. Dan saya cengar cengir sendirian.

Saya perhatikan kernet yang gelantungan di depan pintu saling meledek dengan kernet kompetitor. Dia berteriak, sambil tetap mencari penumpamg. Kalau Metromini di belakang berhasil nyalip, karena yang depan harus menurunkan penumpang, misalnya suara kernetnya riuh. Mengejek lawannya.

Kadang saat mobil menyusul, kernet malah melempar rokok ke kernet lawannya. Jikapun saat itu mereka rally berebut penumpang tapi tetap saja yang namanya rokok, bisa saling berbagi.

Mereka tertawa-tawa dalam rally seru itu. Saya ikut menikmati. Entahlah penumpang lainnya yang terguncang-guncang. Apa mereka bisa menikmati seperti saya? Setiap pulang atau pergi sekolah, saya berharap nanti akan ada balap seru. Inilah hiburan saya melawan udara Jakarta yang gerah.

Ketika sampai di terminal, biasanya keduaa kernet yang tadi saling ngepot itu bertemu. Tertawa dengan ledekan-ledekan khas. Mereka menuju kedai kopi kecil. Ngopi dalam satu gelas bersama. Mungkin kopinya sudah dingin.

Saya memang terbiasa berusaha menikmati apa yang bisa saya nikmati. Toh, sebagai penumpang saya gak bisa ngapa-ngapain. Kalau saya malah misuh-misuh digojlok-gojlok dalam mobil yang saling ngepot, rasanya saya rugi. Memang sudah begitu tabiat Metromini. Jadi buat apa saya sebelin. Mending dinikmati saja.

Kalau saya misuh, resikonya mood saya akan rusak setiap kali itu terjadi. Padahal setiap hari saya harus naik Metromini. Makanya saya memilih untuk menikmati suasana itu. Menganggap sedang ikutan rally. Eh, ternyata lebih asyik.

Sebagai penumpang, ketika terjadi rally, saat itu saya pasti menjagokan mobil yang saya tumpangi. Lawannya adalah 'musuh' saya. Tapi mungkin besok saya malah naik Metromini yang kemarin jadi lawan. Lalu saling rally dengan Metromini lainnya. 

Artinya, sebagai penumpang saya gak fanatik. Saya akan mendukung mobil siapa saja yang saya tumpangi. Sebab sebagai anggota persatuan penumpang alay, saya terikat dengan motto organisasi --yang asyik-asyik aja.

Masa-masa itu memang menyenangkan. 

"Mas, supir dan kernet Metromininya sama-sama Batak, ya?," celetuk Abu Kumkum. "Cowok Batak emang gitu, mas. Sangar tapi baik-baik."

Maksud loh?

(www.ekokuntadhi.id)

Wednesday, November 6, 2019 - 23:45
Kategori Rubrik: