Meski Kemarau, Panen Padi Jatim Tetap Tinggi

Ilustrasi

RedaksiIndonesia – Beberapa kawasan Indonesia mengalami kekeringan yang cukup panjang tahun ini. Penyebabnya badai El Nino yang memasuki kawasan nusantara. Kekeringan berkepanjangan tentu mempengaruhi produktifitas tanaman. Namun rupanya hal itu tidak berlaku bagi produksi padi secara keseluruhan di propinsi tersebut. Bahkan bila dibandingkan produksi pada bulan yang sama tahun lalu justru mengalami peningkatan 5,30 persen.

Nampaknya upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengintervensi kebijakan dibidang pertanian mulai terlihat hasilnya. Meski berbagai proyek penunjang infrastruktur masih ada yang dalam proses sebut saja pembuatan bendungan, waduk, pembenahan irigasi dan lain sebagainya. Upaya Menteri Pertanian membantu petani dengan pengadaan pompa dan beberapa teknik lainnya menuai hasil.

Simak saja Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur Sairi Hasbullah di Surabaya. Prediksi yang dilakukan BPS sesuai angka ramalan II tahun 2015 produksi padi mencapai 13,05 juta ton gabah kering giling (GKG), naik dibanding angka tetap 2014 yang mencapai 657,46 ribu ton. Kenaikan itu disebabkan bertambahnya luas panen padi yang mencapai 64,24 ribu hektare atau sebesar 3,10 persen, serta adanya kenaikan produktivitas sebesar 1,28 kuintal per hektare atau sekitar 2,14 persen.

Petani mulai optimis bahwa sektor pertanian sebagai bagian dari upaya mewujudkan ketahanan pangan seperti diungkapkan Presiden Joko Widodo. Memang masih ada petani yang ragu sehingga sebagian petani di beberapa wilayah beralih ke jagung, sehingga produksi jagung naik sebesar 5 persen hingga Oktober 2015. Sementara, hingga Oktober 2015 produksi jagung tercatat mengalami peningkatan 301,05 ribu ton atau 5,25 persen dari total sebesar 6,04 juta ton pipilan kering.

Kenaikan itu diakibatkan bertambahnya luas panen jagung di beberapa wilayah Jatim, seperti Kabupaten Sumenep yang naik 63,46 ribu ton pipilan kering (32,12 persen), Tuban naik 37,70 ribu ton pipilan kering atau 12,75 persen, Kabupaten Ponorogo 31,63 ribu ton (28,58 persen). Di, Bojonegoro 30,65 ribu ton (32,12 persen), Blitar 28,51 ribu ton (34,76 persen), Kabupaten Pasuruan 19,11 ribu ton (24,96 persen), dan Kabupaten Kediri 17,88 ribu ton pipilan kering (34,68 persen).

BPS mencatat wilayah Jatim yang terdampak kekeringan mayoritas berada di sekitar aliran Bengawan Solo, seperti Kabupaten Bojonegoro, Lamongan, Tuban, dan Gresik. BPS akui ada yang terdampak kekeringan mengalami penurunan produktivitas untuk jenis padi, namun tertutupi oleh wilayah yang mengalami peningkatan produktivitas. Seperti wilayah Kabupaten Banyuwangi yang naik 102,89 ribu ton GKG atau 49,86 persen, Bondowoso naik 46,49 ribu ton GKG (37,46 persen), Pasuruan naik 46,30 ribu ton GKG (21,93 persen).

Selain itu, Probolinggo naik 35,98 ton GKG (46,94 persen), Jombang 32,00 ribu ton GKG (20,97 persen), Kabupaten Blitas 30,95 ribu ton GKG (41,68 persen), dan Kabupaten Malang yang naik 30,32 ribu ton GKG (20,77 persen). (Diolah dari Antara)

Thursday, November 5, 2015 - 08:45
Kategori Rubrik: