Merusak Tempat Ibadah

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Merusak tempat ibadah? Kok bisa? Bisa saja. Karena tempat ibadah itu sesuatu yang material. Berbenda. Tidak abstrak. Bahan-bahannya dibuat oleh manusia. Mungkin terdiri dari bambu. Batu bata. Semen. Lem aica-aibon. Atau yang sejenis-jenis itu.

Bentuknya pun bisa cem-macem, karena terlihat oleh mata. Mungkin ada yang kayak bunderan bakso dibelah separo. Mungkin ada yang kek kerucut perangkap ikan. Ada yang seperti ini dan itu. Diberi tanda-tanda dan warna-warna. Biar terlihat indah dan agung di mata manusia.

 

Wajar jika hal-hal kek gitu bisa dirusak manusia. Apalagi manusia yang bersenjata, setumpul apapun. Tapi apakah dengan merusak tempat-tempat ibadah, terus yang empunya tempat ibadah pindah agama? Berhijrah? Ngikutin ke tempat ibadah yang merusak tempat ibadahnya tadi? Ha, gambis!

Alih-alih menyembah-nyembah. Yang terjadi justeru bisa sebaliknya. Apriori. Antipati. Karena yang bernama keyakinan tentu dipeluk dengan sepenuh yakin. Kalau tak yakin, bukan keyakinan namanya. Dan itu yang tak terpermanai. Hingga sampai titik tertentu, mereka yang bodoh sebagaimana orang mabuk, berperang melawan bayangan sendiri. Sibuk melawan angin.

Agama memang mensyaratkan kepatuhan, tetapi juga bisa berakibat pada ketakutan dan kebodohan. Apalagi sampai fanatik buta. Hingga kemudian terjadi salah faham, yakni menjadi faham yang salah. Karena tindakan keber-agama-annya menjadi khianat bagi agama itu sendiri. 

Dikiranya agamanya menjadi mulia? Mungkin ada yang nganggep kek gitu. Tapi karena kita hidup di dunia dengan ukuran kenyataan sosial, nilai-nilai keagamaan si perusak tempat ibadah itu, senyampang itu, juga merusak nilai-nilai agamanya sendiri. Dia menjadi penista agama yang sejati. Mendustakan agamanya sendiri. 

Kalau misal ada orang beragama Kacrut merusak tempat ibadah orang Hindu, padahal tempat ibadah itu ada di pucuk gunung Bromo, apakah minoritas umat Hindu di sana kemudian berbondong-bondong memeluk agama Kacrut? Ini cuma contoh, contoh pertanyaan, tak usah ngamuk. Lagian, di dunia ini tak ada agama bernama Kacrut bukan, kecuali yang kacrut?

Meninggikan agamanya sendiri, mungkin saja baik. Tapi merendahkan agama liyan, itu sudah pasti brengsek. Karena yang jadi ukuran bukan apa agamanya, melainkan bagaimana (sebagai manusia beragama, atau tak beragama) membangun kehidupan dengan lainnya. Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wassalam pun pernah ngendika, "Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta benda kalian, tapi melihat hati dan amal kalian."

Kalau bentuk dan rupamu, juga harta bendamu bernama Kacrut, tapi hati dan amalnya brengsek, ya brengsek saja! Di Indonesia ini, tinggal Menagnya berani adil dalam menegakkan aturan tidak? Sekalipun berpangkat jenderal purnawirawan, kalau nggak tegas menjaga keberagaman di Nusantara ini, sama aja bokis. Sama bokisnya dengan beragama kok bodoh.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Tuesday, December 10, 2019 - 14:30
Kategori Rubrik: