Merindukan Kampungisme di Tengah Modernisme

Oleh: Kajitow Elkayeni

Istilah kampung, desa, atau dalam bahasa jawa deso (ndeso), sebenarnya sulit untuk didefinisikan. Jika kampung yang dimaksud adalah definisi (definiendum) yang berasal dari pengertian yang disebutkan dalam undang-undang negara dan para pakar ilmu sosial, maka salah satu cirinya adalah suatu kesatuan masyarakat yang memegang teguh tradisi dan adat dari leluhur mereka. Namun batas yang diberikan itu bersifat kaku. Pengertian dalam ranah pengetahuan (knowledge) yang tak bisa diterapkan dengan tepat. Dalam beberapa pengertian, istilah desa dan kampung dibedakan definisinya. Desa adalah wilayah administratif yang menjadi pembentuk kota. Sedangkan kampung dipahami sebagai wilayah yang bisa jadi muncul karena efek urbanisasi di kota.

Pemahaman mengenai kampung atau desa ini acap dipandang dari segi kemajuan perdabannya (modernitas). Bagaimana suatu wilayah mengembangkan perekonomian. Hal ini berkaitan dengan pola pikir, kebiasaan, teknologi, interaksi sosial, dsb. Apa pun yang tertinggal, atau terbelakang dari suatu wilayah didefinisikan sebagai kampung, atau dalam bentuk kata sifat disebut kampungan (disorder). Ia lawan bagi sesuatu yang tumbuh bersama kemajuan (order).

Manusia yang dalam pemahaman Talcott Parson sebagai makhluk individu sekaligus sebagai makhluk sosial (atau dalam versi Lacan disebut sebagai subyek yang terbelah), mengada dan membentuk komunitas sosial sesuai kesepakatan sosial dan kontrak sosial (social contract), dengan motif untuk mencapai keseimbangan. Menilik sejarah terjadinya kampung menuju kota, bisa ditarik pemahaman sejak manusia berhenti dari menjadi sekumpulan masyarakat nomadik (urbanis). Dari kondisi pradesa ini, masyarakat terus berkembang sehingga membentuk desa, kemudian desakota, baru menjadi kota setelah melalui proses proto urban condition. Masa peralihan ini membuat suatu wilayah pemukiman tidak memiliki ciri desa sekaligus belum memenuhi syarat untuk disebut kota.

Di dalam tubuh kota, seringkali didapati pemukiman yang memiliki karakteristik kurang maju layaknya di kampung. Tetapi kondisi tersebut tidak juga disebut sebagai kampung di dalam kota. Wilayah-wilayah tertinggal yang memiliki pengangguran tinggi, pendidikan rendah, dan terbelakang itu disebut sebagai slum, pemukiman kumuh. Ada beberapa varian lain yang mirip slum tapi memiliki perbedaan karakteristik yaitu squatter area (pemukiman liar), getto (pemukiman kelompok minoritas).

Berbicara soal kampung, kita akan mendapati definisi tanpa ujung. Yang dimaksud kampung hakikatnya tidak ada (nothing), karena ia terus bergerak seiring perkembangan dirinya. Mungkin ia ada (being), namun bergerak menuju tiada (nothingless). Menghentikan perubahan itu jelas tidak mungkin, karena ia niscaya sifatnya. Maka alienasi, konsumerisme, materialisme, bukan bahan baru lagi. Di kampung paling kampung sekalipun hal itu hanya soal waktu, ia akan segera menjangkiti, ia patologi bagi apa pun yang bergerak bersama modernisme. Maka kampung yang kita kenal dan kita definisikan itu hanyalah kampung dalam kenangan, bukan pada kenyataan.

Jika dulu orang dikatakan kampungan adalah merupakan suatu ejekan, cemoohan, agaknya, dewasa ini sebutan itu justru menjadi begitu berharga. Karena Kampung itu akan bergerak menjadi tiada. Kampung adalah basis dari masa lalu yang murni, kuno, jujur, naif, langka, kolot, sekaligus bijaksana. Ia utopia masyarakat modern yang semakin kehilangan jati diri. Tapi sayang ia semakin meniada.

Ketika pemikiran mengenai modernisme melemah. Manusia mulai mencari jalan keluar dari pola mekanis yang membelenggu mereka. Lyotard menengarahi keadaan itu sebagai kematian narasi besar (grand narrative). Dunia modern yang mempercayakan sains sebagai tulang punggung tidak mampu menjawab keanekaragaman yang terjadi. Kehidupan yang terus bergerak menuju arah berbeda mengubah wacana (discours) yang ada. Legitimasi sains yang berusaha nengukuhkan dirinya sebagai kebenaran tunggal (homology) menemu jalan buntu, ia hanyalah language game (istilah Wittgenstein yang dipinjam Lyotard), dan di sana ia inheren hanya sebatas konsensus para ilmuwan. Yang dibutuhkan manusia di tengah arus informasi cepat, pola hidup konsumtif, pergeseran kekuasaan (pemberi perintah bukan hanya politikus tapi juga pengusaha besar dan pemuka agama), adalah pluralitas pemikiran (paralogy).

Adat dan tradisi yang dipegang teguh merupakan ciri paling khas dari kampung. Saat nalar (commonsense) dijadikan ukuran atas suatu konvensi yang berlaku dalam suatu kumpulan masyarakat (society) , maka adat dan tradisi (culture) tidak memiliki struktur pijakan yang kokoh. Ia perkara keyakinan dan kecintaan. Manakala keyakinan itu dibenturkan dengan logika dan tuntutan modernisme yang menghendaki efesiensi, percepatan, kebebasan individu, ia akan meleleh. Adat dan tradisi akhirnya hanya menjadi simbol dalam museum. Raga yang kosong tanpa nyawa.

Patologi modernisme adalah penyakit yang menakutkan dan serius. Namun ia penyakit yang indah, yang glamour, yang menyenangkan, yang menyebabkan ekstase. Sesuai dengan pemikiran pengusungnya, Descartes, modernisme adalah mesin, ia tidak menghendaki sesuatu di luar pikiran logis. Apalagi ketika August Comte lahir dan menjejalinya dengan positivisme, modernisme menjadi wabah yang menenggelamkan seluruh tatanan kemanusiaan yang ada. Ia bahkan membuang tradisi dan keyakinan dari agama. Sebagai mesin, sudah menjadi wataknya jika bersifat mekanis. Kampungisme secara tidak langsung adalah juga lawan (counter) dari modernisme, lawan yang terus terpukul mundur dan akhirnya menyerah.

Kita patut bersedih ketika menganggap kampung sebagai rumah, jika kampung itu hanya tinggal kenangan. Ia tak eksis lagi. Padahal saat itu kita sakit dan membutuhkan penawar darinya. Atau ia seperti yang dikatakan Frijrof Capra sebagai titik balik (turning point) peradaban, saat kita kehilangan tujuan dalam keserba-cepatan budaya (arche) dan peradaban (techne). Apa yang hendak kita wariskan pada anak-anak di kemudian hari bukan kearifan lokal, tapi diktum modernisme. Bagaimana menjadi budak mekanis dan menganggap cogito sebagai satu-satunya wujud ada. Premis yang sudah jelas gagal dan mendapat sanggahan dari banyak pihak itu justru menjadi sabda sakti, yang kita ajarkan pada mereka, setiap hari, setiap detiknya.

(Sumber: Facebook Kajitow El-Kayeni)

Monday, May 23, 2016 - 22:30
Kategori Rubrik: