Meributkan Simbol Medis Agama

ilustrasi

Oleh : Aldie El Kaezzar

Menurut ICRC (Organisasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional), awalnya lambang tim medis angkatan bersenjata berbeda mengikuti negara masing-masing dan ini menyulitkan. Kemudian diusulkan untuk menggunakan 1 simbol saja yg akan berlaku di semua tempat.

Pada 1864, diputuskan simbol palang berwarna merah dengan latar putih, kebalikan dari bendera Swiss yg berpalang putih dan berlatar merah. Swiss sendiri sudah dikenal dengan status kenetralannya selama bertahun-tahun. Dan ini sudah dikonfirmasi dalam Perjanjian Vienna dan Paris tahun 1851.

Periode 1876-1878 sewaktu Kekaisaran Ottoman Turki perang melawan Rusia, mereka menggunakan simbol yg berbeda karena simbol palang merah "berlawanan" secara akarnya dengan keyakinan mereka.

Tahun 1929 setelah Perang Dunia Pertama usai, delegasi dari Turki, Persia dan Mesir mengusulkan untuk menerima simbol sabit merah dan singa merah-matahari. Setelah debat panjang, diputuskan untuk menerima simbol tersebut namun dibatasi pada negara masing-masing saja.

Setelah Perang Dunia Kedua 1949, kembali ada usulan mengubah Konvensi Jenewa. Israel mau menambah Perisai Merah David. Usulan ditolak sehingga tetap 3 simbol yg diizinkan yaitu Palang Merah, Sabit Merah serta Singa Merah dan Matahari.

"Baku hantam" soal simbol tak berhenti di sana. Setelah pada 1980 Iran "melepas" simbol singa merah-matahari untuk kemudian memakai sabit merah, pada 2005, sebuah simbol baru diterima, yaitu Kristal Merah. Simbol yg seringkali dipakai oleh angkatan bersenjata Israel. Sampai saat ini, 3 simbol itulah yg resmi dipakai.

Manusia memang makhluk simbolik sehingga mereka seringkali menggunakan simbol dalam berkomunikasi.

Wallahualam, namun menilik kembali sejarah Islam, saya mungkin jadi bisa memahami kenapa Nabi Muhammad tidak pernah "menetapkan" sebuah simbol sebagai identitas keagamaan. Karena memang simbol keagamaan bisa rentan sekali disalahgunakan dan memancing keributan seperti yg terjadi belakangan ini.

Tidak pernah ada bendera atau simbol khusus. Warna bendera menurut beberapa hadits bisa berbeda-beda. Satu-satunya "simbol" yg pernah dipakai mungkin sebuah stempel dalam berkirim surat. Tapi ini hal yg berbeda. Pun tidak pernah digunakan simbol sabit karena pada awalnya justru simbol ini sudah digunakan banyak pihak dari banyak keyakinan/agama lain.

Kerajaan Byzantium dan Persia memakai simbol ini. Negara Crusaders pun jg pernah menggunakan simbol bulan dan bintang di koin dan atribut perangnya. Sabit sendiri digunakan sebagai simbol Dewa Sin oleh masyarakat Sumeria. Simbol ini baru mulai dikaitkan sebagai simbol Islam setelah dipakai Kekaisaran Ottoman.

Begitulah sebuah simbol, walau tidak bisa lepas dari akar sejarah, namun simbol sangat bisa didefinisi ulang sesuai fungsi, waktu dan tempat. Palang merah bukan salib, bentuknya pun sudah beda, sebagaimana bulan sabit di kubah bukan lg Dewa Sin. Karena itu saran memilok palang merah dan menggantinya dengan sabit tidak akan menambah keimanan atau pahala karena simbol tersebut memang tidak terkait akidah atau agama tertentu. Yang pasti hanya buang uang, waktu dan tenaga. Mubazir.

Menjadi figur/tokoh politik, ulama atau ilmuwan memang tidak mudah, karena setiap perkataannya akan disorot masyarakat. Karena itulah sangat penting untuk memahami sampai mana batas wawasan kita.

Kalau mau bebas bicara macam-macam memang cuma 1 solusinya. Jadilah netizen biasa kaya saya, bebas ngomyang apa aja. Saya ga pernah salah karena saya adalah netizen, dan netizen selalu benar. Tjamkan itoeh! 

Sumber : Status Facebook Aldie El Kaezzar

Sunday, August 18, 2019 - 14:30
Kategori Rubrik: