Meributkan Pernyataan Sukmawati

ilustrasi

Oleh : Ainur Rafiq Al Amin

Siang ini saya ditanya wartawan online tentang pidato Sukmawati. Maka saya minta ditunjukkan videonya, dan di bawah ini videonya (https://youtu.be/Eg8vpGhryqQ).

Setelah saya dengarkan hampir sampai akhir, ya isinya datar-datar saja. Malah saya apresiasi saat menjelaskan tentang bagaimana sepak terjang kelompok radikal.

Yang menggelitik adalah saat Sukmawati bertanya tentang siapa yang berjuang abad 20? Nabi atau Bung Karno?, Pertanyaan ini barulah bisa timbul salah paham bagi beberapa orang.

Menurut saya, pertanyaan Sukmawati adalah biasa saja, tapi kurang "matching". Kurang "matcingnya" karena pertama, pertanyaan komparatifnya, kedua karena tidak ada elaborasi jawaban agar tidak menimbulkan berbagai persepsi, apalagi persepsi dari pihak yang memang awalnya tidak suka kepada Bu Sukma.

Pertama, pertannyaan mengkomparasikan itu sama-sama bisa menimbulkan jebakan kayak pertanyaan yang dimunculkan oleh kelompok radikal, pilih Pancasila atau Alquran?

Bagi yang kurang ngopi dan suka mojok ke kiri, bisa jadi jawabnya pilih Pancasila. Demikian juga bagi yang kurang ngopi dan sukanya mojok ke kanan, akan pilih Alquran.

Untuk masalah ini (Alquran atau Islam dan Pancasila) para pendiri bangsa termasuk ulama dan secara khusus para kiai NU telah melakukan perdebatan dan menemukan titik temu. Semisal bisa dibaca karya Andree Feillard atas kesaksian lisan Kiai Masjkur yang ikut serta diskusi mengenai sumbangan agama Islam terhadap definisi Pancasila. Sumbangan itu dihasilkan dari diskusi panjang mulai jam 7 malam sampai jam 4 pagi yang terjadi akhir Mei 1945 antara Soekarno, Kiai Wahid Hasyim, Kiai Masjkur dan Kiai Kahar Muzakkir di rumahnya Mohammad Yamin.

Setelah Pancasila dicetuskan, untuk selanjutnya Kiai NU menjaga Pancasila. Dalam buku "Tambakberas: Menelisik Sejarah, Memetik Uswah" dikutip bahwa Kiai Wahab Chasbullah pernah menyampaikan pidato saat sidang pleno konstituante pada 3 Desember 1957, "NU belum pernah mencela Pancasila. Selain dari Nahdlatul Ulama, tidak saya sebut, seringkali mencela, ada yang mengatakan bahwa Pancasila ini jahiliyah dipermodern."

Demikian juga masalah penerimaan asas tunggal yang penuh dramatis dialami para Kiai NU saat Munas NU tahun 1983 (baca https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=484807155650047&id=100023623007183).

Kedua, andaikan ada jawaban yqng elaboratif bahwa memang Nabi mulia tidak berjuang secara pisik di nusantara, apalagi pada abad 20. Tapi nilai ajaran Nabi menjadi api semangat dan menjadi inspirasi para pejuang bangsa yang muslim, termasuk Soekarno, maka akan bablas itu tanda tanya. Jadi ada kesatuan mata rantai.

Saya secara pribadi melihat bahwa Sukmawati tidak berupaya melecehkan Nabi, terbukti dengan saat menyebut Nabi ditambahi dengan yang mulia, tapi formulasi pertanyaan yang saya anggap kurang "matching".

Untuk seluruh pahlawan, lahumul Fatihah
****

Contoh pertanyaan yang gimana gitu kalau tidak dijelaskan asal usul kenapa muncul pertanyaan:
1. Apakah Tuhan ikut mengusir penjajah?
2. Yang berperang melawan penjajah di NKRI itu Soekarno atau rakyat Indonesia?
3. Yang berjuang pada abad ini dua anak yang ada di foto itu atau para pahlawan?
4....

Sumber : Status Facebook Ainur Rafiq Al Amin

Thursday, November 21, 2019 - 12:15
Kategori Rubrik: