Merendahkan Boyolali, Memicu Kontroversi

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Adalah ucapan dari PS dalam kampanyenya yg selalu marah-marah dan tak luput juga dari kebiasaannya melontarkan kalimat melecehkan, seperti, tampang wartawan yg menandakan gajinya kecil, 99% rakyat Indonesia miskin.

Merendahkan orang lain dan bangsanya ini sudah wataknya.

 

 

 

Terakhir dan membuat viral adalah pelecehan terhadap warga Boyolali, yg dikatakannya tidak bisa masuk ke hotel berbintang di Jakarta karena tampangnya tidak pantas dan bisa diusir.

Kenapa PS selalu membuat kontroversi, hal ini tidak terlepas dari kontroversi sejarah hidupnya. Bapaknya mantan menteri pemberontak PRRI, dia mantan menantu Soeharto, mantan jenderal pecatan, terlibat kasus penculikan, mantan pelarian, bahkan sampai sekarang agama yg dianutnya masih menjadi tanda tanya. Joke " hari ini PS jumatan dimana ya " adalah cara netizen menanyakan status agamanya, karena dia mencalonkan menjadi pemimpin negara dgn rakyat yg mayoritas islam. Dia juga tempramental.

Kita tau kalimat melecehkan yg selalu dilontarkan adalah umpan, dimana dia mau mengatakan ; sekarang kalian susah, semua mahal, gaji kecil, dst. Nanti kalau saya jadi presiden kalian bisa jd langsung kaya, gaji besar, pangan murah, dst..karena hidupnya tak pernah menderita, dia pikir semua bisa main sulapan. Dia tidak mengenal proses, karena dia langsung jadi, lahirpun sudah kaya, dan tidak dididik di Indonesia, shg dia tidak mengenal orang Indonesia, dia pikir kita ini warga jajahannya.

Boyolali, bukan tempat yg tepat untuk mengupat. Kebiasaan PS dalam melecehkan manusia lainnya, khususnya rakyat Indonesia puncaknya disana. Boyolali tempat yg tidak disebutkan dalam sejarah perjalanan Serat Babat Pengging, yg disebut adalah Ampel, atau rumpun bambu kuning, yg sekarang menjadi salah satu Kecamatan di Boyolali.

Tapi sebuah catatan yg dilupakan bahwa di Boyolali adalah tempat dimana perlawanan pertama kepada penjajah Belanda yg digagas oleh Bendara Pangeran Harya Dipanegara yg terkenal dengan Pangeran Diponegoro thn 1825-1835, didesa Tegalrejo Boyolali, yg dipicu oleh patok tanah yg berkaitan dgn pajak oleh Hindia Belanda. Sehingga Boyolali adalah tempat pertama perlawanan kepada penjajah di Pulau Jawa. Dan kebetulan Boyolali adalah daerah kelahiran Ibu Sudjiatmi, ibu kandung Bp. Jokowi.

Bila Belanda sebagai penjajah bermula di lawan disana di tanah Jawa, maka sekarang dari sana, Boyolali, kita melawan sebuah pelecehan dari seorang calon pemimpin yg rendah moral. Semangat Diponegoro yg dipicu patok tanah sbg objek pajak, kita bergerak karena dipicu calon pemimpin yg tak berakhlak, kita tolak agar kita tidak terkotak gara-gara ucapan manusia yg tak jelas dimana dia berpijak, dia bak penjajah yg membuat kita menjadi rendah.

Penjajah yg membuat kita susah dan terbelah sudah enyah. Sekarang kita sedang berbenah agar rakyat bergairah, sumeringah dan bermasa depan cerah. Malah kita mau dipecah oleh manusia yg tiba-tiba ada dan merasa Indonesia padahal catatan dirinya cacat semua.

Kita tak mau terbelah, Indonesia harus utuh dalam kebhinekaan dalam naungan Pancasila, dan dipimpin oleh presiden yg kompeten, bukan diganti oleh orang yg cuma bisa melawak dgn melecehkan rakyat, sekaligus dia juga menjilat suara rakyat.

Bersatu untuk tetap utuh, jangan mau dielus saat dia butuh, apalagi cuma janji yg pasti tidak utuh.

Terima kasih Boyolali, terima kasih Ibu Sudjiatmi yg telah melahirkan Jokowi sebagai pemimpin berbudi dan teruji.

#JOKOWILAGI

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

 
 
Sunday, November 4, 2018 - 17:30
Kategori Rubrik: