Mereka yang Merasa di Atas Angin

Oleh: Kajitow Elkayeni

 

Di balik gegap-gempita aksi damai 212, ada berita penangkapan 10 orang. Konon ada dugaan makar ditujukan terhadap mereka. Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, ancaman makar ini bukan persoalan sepele. Orang-orang boleh tertawa begitu mendengar ancaman makar. Mereka boleh menganggapnya lelucon aparat, pengalihan isu. Apalagi selama ini presiden diam saja dimaki-maki.

Tapi di negara manapun, ancaman makar statusnya luar biasa. Ia melampaui keadaan normal dan hukum biasa. Makar ini bukan lagi perkara main-main. Di Amerika, Cina, Rusia, di manapun itu, makar adalah persoalan serius. Siapapun yang melawan negara akan dihabisi. Ingat Suriah, upaya menggulingkan pemerintahan yang sah akan dihadapi habis-habisan.

Ini bukan lagi karena persoalan presiden risih dimaki-maki, show force, dendam Pilpres. Negara punya wewenang untuk mencegah provokasi yang dilakukan sebagian orang agar tidak meluas, agar negara aman. Dalam pandangan umum, mungkin itu hanya provokasi biasa. Tapi kita tidak tahu sejauh mana mereka telah bergerak di bawah tanah. Sejauh mana mereka menyiapkan rencana penggulingan Pemerintah.

Pemahaman umum dengan data intelijen tentu berbeda jauh. Kita pun telah tahu ada pihak luar yang ingin membuat keruh. Bisa saja mereka membuat kesepakatan di balik layar. Seperti indikasi yang pernah disebutkan Panglima TNI.

Misalnya MPR dalam situasi damai ini, tiba-tiba menerima desakan Rachmawati cs untuk melakukan Sidang Istimewa, mereka saja bisa ditangkap menggunakan pasal makar. Meskipun MPR memiliki kedudukan tertinggi, tapi tanpa alasan logis dan sebab kuat, upaya impeachment adalah makar. Apalagi hanya sekelas Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, dan tukang koar-koar recehan di jalanan itu.

Tapi kenapa dulu Gusdur bisa diturunkan lewat Sidang Istimewa?

Karena Gusdur tidak melawan. Jika ada perintah lawan, habis mereka semua. Dalam keadaan darurat, presiden memegang kendali penuh. Pemerintahan kita menganut sistem presidensil. Apalagi Gusdur didukung massa militan yang juga telah terjun ke Jakarta waktu itu. Proses penggulingan Gusdur memang ilegal, tapi Gusdur mengalah.

Sejak awal ia telah tahu akan ada upaya itu. Dan ia memilih mematahkan semangat pendukungnya sendiri, dengan keluar istana memakai celana kolor. Gusdur menghindari konflik.

Kali ini Dhani dan Ratna melangkah terlalu jauh. Mereka bukan politikus. Mereka hanya orang-orang yang terbius hiperrealitas. Bagi yang lain, mungkin itu adalah pilihan politik mereka. Meskipun pilihan itu sebenarnya sangatlah konyol. Pemerintah didukung rakyat, TNI-Polri, Ulama, dan tidak ada momen khusus seperti resesi ekonomi atau kediktatoran. Sekarang situasi baik-baik saja. Hasutan ke arah makar adalah tindakan bunuh diri.

Orang-orang seperti Dhani barangkali terkena delusi pasca Pilpres. Mereka merasa berada di atas angin. Mereka bebas untuk berkata dan berbuat apapun. Termasuk memaki Presiden dan mengancam makar. Mungkin terselip keyakinan, ada Prabowo yang akan membela. Padahal kita tahu, komunikasi Pemerintah dengan Prabowo telah dibuka. Tapi kita tidak tahu kesepakatan apa yang telah mereka buat. Satu hal yang pasti, siapapun yang membela pelaku makar adalah musuh Negara. Prabowo sekalipun, jika memaksakan diri akan ikut tersapu.

Ini bukan lagi persoalan main-main. Bukan hanya perkara logo dengan FPI atau korban tabrak mati di tol. Dhani dan Ratna telah berjalan terlalu jauh. Saya pribadi berharap, kasus ini tidak masuk telalu dalam. Supaya orang-orang yang terkena delusi seperti Dhani dan Ratna mendapat kesempatan ke dua. Toh mereka hanya pion. Orang-orang yang terlena sebagai oposan. Padahal sebenarnya mereka sedang menunggang buih. Sedikitpun tidak punya kekuatan untuk melawan amuk ombak.

(Sumber: Status Facebook Kajitow Elkayeni)

 

Saturday, December 3, 2016 - 23:00
Kategori Rubrik: