Mereka yang Dikalahkan Oleh Perubahan

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Dalam pidato sambutan saat pengambilan nomor urut pilpres 2019, Prabowo menyampaikan sambutan yang seharusnya harus dilakukan, dia menyampaikan bahwa pesta demokrasi harus sejuk, damai, tidak mencari kesalahan pihak-pihak lain. Akankah hal ini bisa dia lakukan, dan khususnya mengendalikan orang-orang murahan disekielilingnya yang notabene sudah lama dipiaranya, dibentuk pikirannya, didalam kotak yang sama, tidak pernah berpindah ke kotak baru dalam cara berpikirnya. Bentukan menjadi watak, watak menjadi akhlak, dan akhlak menjadi bentuk akhir yang insyaallah sulit dirubah.

Dalam buku THINKING IN NEW BOXES, tulisan Luc de Brabandere & Alan Iny dari Boston Consulting Group. Dinarasikan, seekor anjing bernama Sartre yang suka bermain dengan seekor Tupai di pohon di belakang peternakan. Setiap pagi pada jam tertentu Sartre berlari kebelakang dan melompati pagar, bertahun-tahun hal yang sama dia lakukan, sampai tanpa sadar secara otomatis dia akan langsung melompat saat melewati pagar. Satu masa pagar dibongkar, harusnya Sartre sudah tidak perlu melompat karena halangannya sudah tak ada, tapi yang terjadi adalah, Sartre tetap melompat ditempat yang sama dimana pagar yang dulunya ada. Sartre telah terbentuk, kotak pikirannya sudah tidak bisa berubah, karena bertahun dia harus melompat dan menjadi asupan yang mengental dalam pikiran, bahwa pagar itu masih ada, Sartre tak mengenal situasinya sudah berubah.

 

 

Hal yang sama terjadi pada pribadi Prabowo dan lingkungannya, saya melihat mereka menganggap kebaikan dan kebenaran menjadi pagar yang harus dilompati, karena disebelah pagar ada mainan yang di ciptakan dan sudah mengasikkan, membuat keributan dan membantah segala bentuk kebaikan dan kebenaran yang harusnya mereka lakukan dengan kesadaran, bukan kesurupan.

Pagar pembatas antara dimana mereka tinggal dan bergumul dengan keburukan harusnya mereka panjat, karena diseberang sana ada ruang kebaikan yang sudah lama dihuni oleh orang-orang yang sejak lama melakukan, dan sejak lama telah membentuk menjadi kebiasaan, mengkristal menjadi watak yang bisa di pertanggung jawabkan, bukan asal jawab dan mencari pembenaran.

Sama halnya cerita dalam film NO EXIT yang ditulis Filsuf Eksistensial Prancis, bahwa sekelompok orang yang tinggal dineraka dengan segala deritanya, saat pintu dibuka untuk pembebasan, mereka tak berani keluar. Perubahan yang lebih baik yang ditawarkan mereka tolak, karena sudah biasa tinggal dineraka dengan segala macam siksaan, menikmati ruang yang dulunya dia dapat dari prilakunya dalam menolak kebenaran.

Bagaimana dengan pidato Prabowo, bagaimana dengan pengkutnya, bagaimana orang-orang disekelilingnya, kesimpulannya,jangan berharap banyak, karena telah lama terbentuk dengan gaya yang mereka punya, sudah menjadi kenikmatan yang mereka pikir itulah kebenaran, padahal, mereka begitu lama melawan paradigma, melanggar norma, namun itulah KOTAK yang mereka punya, mereka tidak punya KOTAK BARU yang harusnya bisa merubah pikirannya.

Kita tidak perlu merbuhkan pagar atau meminta Sartre mengintip dari celah-celah pagar untuk melihat kebenaran yang kita kerjakan. Kita masih punya Tupai Labrador yang asik melompat di ketinggian dengan lompatan kebenaran yang mengasikkan.

Pada kesimpulannya, bahwa kunci perbedaan antara yang menang dan yang kalah, pemimpin dan pengikut, mereka sukses menghadapi perubahan dan mereka yang dikalahkan oleh perubahan, karena mereka tidak mempunyai cara pikir dengan kotak-kotak baru. ITULAH SEBUAH PILIHAN, MAU JADI PEMENANG ATAU PECUNDANG. Dan insyaallah kita bisa memenangi pertarungan karena JOKOWI ADALAH AGEN PERUBAHAN DENGAN MEMBAWA KOTAK BARU, DIISI DENGAN PEMIKIRAN BARU, ENERGI BARU.

#MARI JOKOWI LAGI.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Sunday, September 23, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: