Mereka Yang Berprasangka Buruk Kepada Jokowi

Oleh: Kajitow Elkayeni

Memahami Jokowi sebenarnya sangat sulit, bahkan oleh orang-orang terdekatnya sendiri. Tentu ada plus-minusnya, Jokowi manusia biasa. Namun dari banyak hal yang saya ketahui, kesimpulannya hanya satu: Jokowi orang baik.

Kita mulai dari keluarganya. Gibran itu anak miliarder, walikota, tapi dia merintis usaha dari jualan kaki lima. Anak pengusaha sukses itu tidak mau meneruskan bisnis keluarganya. Ia ingin mandiri, tak mau dibayang-bayangi nama besar ayahnya. Berapa banyak anak seperti ini di Indonesia?

Anak perempuannya mendaftar PNS dan gagal. Bayangkan, anak orang nomor satu itu memiliki cita-cita sederhana dan itupun tidak berhasil. Banyak orang menertawakan hal ini. Apa hebatnya jadi PNS? Pertanyaan ini kita balik, "Apakah hina menjadi PNS?" Semua pekerjaan itu hebat. PNS yang baik bisa jadi pahlawan bagi negara ini. Begitu juga dengan guru, tentara, penyair, wartawan, buruh bangunan. Itu soal person, niat dan ketulusannya.

Anak bungsunya memang kuliah di Singapura, sudah lihat kos-kosannya? Tempat itu bahkan tak layak untuk anak seorang camat. Sangat sederhana. Di tempat kuliahpun awalnya tak banyak yang tahu dia anak Jokowi, presiden dari dua ratus juta sekian rakyat. Ia bukan tipikal anak songong yang membanggakan orang tuanya.

Istrinya, adalah perempuan dusun biasa. Ia tak paham apa itu kemewahan ala selebritis. Tukang gosip atau punya hobi aneh-aneh. Ia hanya seorang ibu, yang jika pulang ke rumah masih menyapu sendiri.

Keluarganya juga bukan tipikal orang yang suka pamer. Pernah mereka kena tilang polisi, apakah mereka sibuk menunjukkan identitas, saya keluarga Jokowi? Tidak. Mereka menerima kesalahan yang mungkin masih bisa diperdebatkan. Begitulah mereka itu dididik dalam keluarga. Cara-cara hidup sederhana.

Ada juga keluarga yang kena kasus hukum. Jangankan membela, peduli saja tidak. Jokowi memang begitu. Orangnya tak bisa kompromi. Salah ya salah. Semua diserahkan sesuai mekanisme hukum. Bahkan terhadap keluarga sendiri.

Persoalan menjadi berbeda ketika masuk ranah politik. Banyak yang tak mengerti ilmu politik, tapi berlagak jadi ahlinya. Persoalan yang sampai ke publik itu terlihat sederhana seperti cara berpikir mereka. Kemudian mereka menyalahkan Jokowi. Mereka berpikir bahwa, Jokowi adalah pucuk pimpinan, semua hal di bawah kendalinya.

Begini, Jokowi tak mungkin mengurus semua hal. Dia hanya memberi instruksi, arahan, pedoman. Jalannya instruksi ini ditentukan oleh mental pejabat yang bersangkutan. Bayangkan soal demo 212 misalnya, ada banyak aparat yang bermain di sana. Kalian tidak tahu? Oke, tidak hanya itu, ada aliran uang dari BUMN untuk mendanai demo itu. Ini juga kalian tidak tahu? Di kementerian itu saja banyak bedebah cingkrangnya. Jangan lagi ngomong soal PNS, guru, dosen.

Kasus yang kalian bayangkan sederhana, sejatinya rumit. Kita masuk rimba raya yang penuh sengkarut. Di sana berdiri seorang laki-laki kurus dari Solo. Langkahnya terus dijegal. Niat baiknya digembosi, bahkan sejak dari istana. Di partai pendukungnya sendiri banyak yang tak menyukainya. Ia hanya bisa berkelit dan mencari jalan tengah paling mungkin. Kalau ia melawan secara frontal, pasti digusdurkan.

Padahal ada amanat yang harus dia panggul. Anak-anak berperut buncit di Papua, intoleransi di Aceh, kemiskinan di pelosok Jawa, disintegrasi di seluruh sendi negara. Bangsa ini sakit kronis, dekaden parah, dan butuh waktu 200 tahun untuk memperbaikinya.

Yang bisa dilakukan adalah menyelesaikan persoalan skala prioritas. Ada banyak masalah di bidang ekonomi, politik, hukum, kebudayaan-sosial, persatuan-kesatuan, pendidikan, kesehatan, olahraga, dan seterusnya. Problem bangsa ini banyak sekali. Dan itu tak bisa diselesaikan dengan one man show.

Orang-orang mudah menghujat Jokowi berdasarkan prasangka mereka. Padahal faktanya belum tentu demikian.

Kasus Rizieq Shihab menjadi heboh karena banyak orang sibuk berasumsi. Mereka tidak kenal Jokowi secara mendalam. Penilaian mereka terhadap Jokowi begitu rendah dan hina. Mereka menerapkan cara pandang mereka sendiri terhadap Jokowi. Membayangkan kelicikan, sabotase, distorsi, dari upaya hukum, pada diri Jokowi.

Ada juga yang mengharapkan Jokowi otoriter, main paksa, asal perintah. Padahal Orde Baru yang keji itu baru saja tumbang. Gampang sekali mereka lupa bahayanya pemerintahan tangan besi.

Kebebasan yang kita peroleh hari ini harus dijaga. Perjuangannya panjang, korbannya banyak. Risikonya, yang jahat, rusak, busuk, juga ikut berkembang. Inilah demokrasi itu. Garis batasnya jelas, hukum. Jika hukumnya bermasalah, mari kita perbaiki. Mulai dari calon aparat, anak kita, keluarga kita, sudah hidup jujur belum? Kalau ketilang polisi milih diproses atau damai di tempat?

Oknum aparat busuk, oknum wakil rakyat busuk, oknum pemerintahan busuk berasal dari lingkungan yang juga busuk. Berasal dari rakyat yang busuk. Berani memperbaiki diri daripada merasa sok suci?

Menuduh Jokowi ini-itu tanpa bukti namanya fitnah, dan fitnah itu dosa. Disiplin berpikir begini saja sulit dilakukan. Apalagi membicarakan hal muluk tentang keadilan hukum dan kemakmuran bangsa. Jangan berasumsi terlalu tinggi, nanti mulutmu tersambar pesawat terbang kapok. Dudukkan persoalan sesuai porsinya. Jangan membuat kisah fiksi, fake news, provokasi.

Asumsi-asumsi offside itu bermasalah, tak perduli dari kubu mana berasal. Biasakan untuk berpikir kritis, pertanyakan bukti dan koherensi penalaran. Jangan mudah terbawa ombak dan pusaran rasa benci.

Siapapun kita, di pihak manapun kita, asal berperan sebaik-baiknya akan baik untuk bangsa ini. Silakan dukung pemerintah atau jadi oposisi, lakukan dengan profesional, kritis, logis. Itu bagus untuk penyeimbang. Jangan hanya bisa membual. Negara ini tak butuh tambahan sampah.

Bangsa ini sakit kronis, untuk memperbaikinya tak bisa dilakukan dengan sulapan. Butuh waktu yang sangat panjang, upaya yang sangat besar. Satu-persatu kita selesaikan. Sebelum ke sana, kita harus selesai dengan diri kita masing-masing. Sudah jadi orang jujur belum? Sudah taat pajak belum? Sudah buang sampah pada tempatnya belum? Sudah mau antri dengan tertib belum?

Kalau dari hal sederhana saja kita masih suka berlaku curang, jangan bermimpi muluk-muluk, jangan berkata terlalu tinggi.

Jokowi orang baik, jujur, pekerja keras. Ini saja dulu yang harus diyakini. Dia orang yang sudah selesai dengan dirinya. Ia bukan manusia rendah dan licik sebagaimana anggapan banyak orang terhadap dirinya sendiri, lalu dituduhkan kepadanya.

Dia tak butuh apa-apa dari kita. Harapannya hanya ingin memperbaiki yang rusak itu dengan sekuat tenaga, dalam tempo yang sangat singkat. Ini basis penalaran kita sebelum berasumsi. Orang-orang baik seperti ini harus didukung, meskipun dia memang tak bisa memuaskan semua pihak. Jangan mudah menuduh yang bukan-bukan, lalu baper dan jotakan.

Menjadi manusia memang berat, karena syarat utamanya mampu berpikir logis. Akibat dari asumsi berlebihan, kita menghakimi terlalu jauh. Begitu hinanya Jokowi dalam prasangka kita. Padahal ia orang yang begitu baik dan sudah selesai dengan dirinya...

Sumber : facebook Kajitow Elkayeni

Sunday, May 6, 2018 - 19:00
Kategori Rubrik: